Yang Harus Diketahui Perihal Creative Common – Jangan Asal Comot Karya Orang!

17 views

Creative Common. Ada yang belum pernah dengar?

Saya sempat melemparkan pertanyaan dan polling ini di Facebook dan Twitter. Berikut hasilnya.

Jawaban yang tak terlalu jauh berbeda ada di Twitter, hanya saja ini yang merasa tahu nggak mau bilang apa itu Creative Common :))

Bagaimana dengan kamu, yang lagi baca artikel ini? Tahu nggak sih apa itu Creative Common?

Apa itu Creative Common?

Jangan resah dengan creative license ya.
Creative Common dan Creative License yaitu dua hal yang berbeda, meski bekerjasama erat.

Creative Common yaitu sebuah organisasi atau forum nonprofit yang memungkinkan para kreator memberi label ataupun keterangan pada karya mereka masing-masing, apakah boleh digunakan kembali atau dimodifikasi kembali oleh orang lain.

Creative Common ini dibuat sebagai bentuk alternatif dari aturan hak cipta yang lebih ketat dan rumit. Kalau yang namanya aturan itu kan sangat restricted dilengkapi dengan banyak sekali ancaman, tanpa ada gosip yang mirip apa yang disebut melanggar hak cipta itu. Atau, mirip apa yang namanya melanggar hak cipta itu.

Nah, lebih detail mengenai organisasi Creative Common ini dapat dilihat pribadi di webnya ya.

Nah, Creative Common meng-cover lack yang ada ini, dengan menerbitkan beberapa macem label Creative License, dengan kriteria masing-masing.

Jadi, dapat diibaratkan, kalau Creative Common ini yaitu MUI, sedangkan sertifikat halalnya yaitu Creative License.

Beberapa jenis Creative License

Nah, beberapa jenis Creative License ini dapat dilihat di sebelah sini sebenarnya. Tapi aku mau coba sarikan dalam bahasa Indonesia. Biar aku selalu ingat, dan siapa tahu ada juga yang butuh yes?

Jika kita pengin memakai Creative License untuk segala karya digital yang sudah kau hasilkan, maka pastikan dulu kita mengerti betul jenis-jenis license yang ada, kriteria dan restriction apa saja yang menyertainya. Soalnya macam-macam banget memang, dan masing-masing tuh ada kegunaannya sendiri-sendiri.

Ya sudahlah, ayo kita lihat ya. Mohon koreksinya kalau ada yang salah, Kakak!

1. Attribution

Jenis license pertama ini yaitu license yang paling longgar sepertinya. Dengan lisensi ini, kita memperbolehkan orang lain untuk mendistribusikan ulang, memodifikasi, dan menciptakan karya gres menurut karya kita tersebut, dengan menyebutkan kita sebagai sumbernya. Bahkan untuk kepentingan komersial.

2. ShareAlike

Ini hampir sama dengan Attribution di atas. Bedanya kita mengizinkan orang lain untuk juga mendaftarkan karya barunya (yang dibuat menurut karya kita) dengan license yang sama. Harus sama-sama ShareAlike, gitu maksudnya.

Seluruh karya turunan dari karya berlisensi ShareAlike ini dapat digunakan untuk kepentingan komersial.

Jenis lisensi kedua ini digunakan oleh Wikipedia, dan juga seluruh karya turunan yang diambil dari karya orisinil dari Wikipedia.

3. NoDerivs

Lisensi ini merupakan akronim dari “No Derivative Works”, artinya kita memperbolehkan karya kita disebarluaskan untuk kepentingan komersial dan nonkomersial, selama karya tersebut nggak diubah sama sekali. Plus pinjaman kredit pada kita, sebagai penciptanya.

4. NonCommercial

Lisensi NonCommercial kita gunakan kalau kita ingin mengizinkan orang lain untuk mempergunakan dan memodifikasi karya kita untuk kepentingan nonkomersial.

Nah, perlu diperhatikan nih. Kepentingan nonkomersial ini batasannya hingga apa? Situs Hubspot menjelaskan, bahwa kita harus berhati-hati dengan lisensi ini.

Meski kita yaitu seorang personal blogger, tapi kalau kita memakai karya berlisensi NonCommercial dalam proyek konten kita yang kemudian mendatangkan laba berupa uang bagi kita, maka hal itu disebut sebagai komersial.

Jadi, sebaiknya sih, untuk blog yang dimonetasi jangan gunakan karya-karya digital berlisensi NonCommercial ini.

5. NonCommercial-ShareAlike

Nah, ini adonan antara lisensi NonCommercial dan ShareAlike. Kaprikornus kita memperbolehkan orang lain untuk memakai karya kita, selama untuk tujuan komersial, dan mematenkan karya gres (yang dibuat menurut karya kita) tersebut dengan lisensi yang sama.

6. NonCommercial-NoDerivs

Sama nih, adonan antara NonCommercial dan NoDerivs. Kita memperbolehkan orang untuk menyebarluaskan karya kita, selama untuk kepentingan nonkomersial. Tapi karya kita nggak boleh dimodifikasi.

Saat orang lain pengin mempergunakan karya kita–taruhlah di blog mereka gitu–maka mereka harus memperlihatkan kredit pada kita, sebagai pemegang hak cipta, dan juga di mana ia menemukan karya kita tersebut.

7. CC0

CC0 merupakan lisensi yang memungkinkan bagi para pemegang hak cipta untuk melepaskan hak terhadap karya mereka dan memperlihatkan karyanya sebagai public domain.

Bisa dibilang, lisensi ini berfungsi untuk memperlihatkan nilai bebas dari hak cipta pada suatu karya, yang berarti orang-orang boleh mempergunakannya semau mereka–mau dimodifikasi, dibuat ulang, diubah bentuknya, diolah apa pun elemennya–dengan bebas.

Nah, ihwal public domain sendiri, dapat dilihat dan dipelajari secara detail di Wikipedia.

So, itu ia artinya Creative Common ya, yaitu satu organisasi yang dapat melindungi karya digitalmu. Jadi, kalau mau pakai karya digital orang, jangan sembarangan comot lagi ya. Lihat dulu lisensi yang mungkin menyertainya.

Nah, kalau kau mau melabeli karya-karya digitalmu dengan lisensi dari Creative Common, kau dapat lihat detailnya di web CC ya.

Kalau diminta untuk menyebutkan sumber, pastinya jangan ditulis “Sumber: Google”, alasannya yaitu bukan Google yang bikin karya digital tersebut. Juga Pinterest. Bukan Pinterest yang bikin karya digital tersebut. Ada orang lain yang bikin, dan orang inilah pemegang hak ciptanya. Google dan Pinterest hanya memperlihatkan data yang kita minta.

Saya sendiri kadang ya masih kepleset dalam penggunaan karya digital orang lain. Maafkan, percayalah, aku sangat concern mengenai hal ini. Jadi, kalau memang aku menemukan fakta bahwa aku melanggar hak cipta orang, maka aku akan berusaha memperbaiki kesalahan saya.

Yuk, jadi kreator karya digital yang pintar!