[Updated] Perubahan Algoritma Instagram Yang Cukup Ngeselin Tapi Mesti Dipahami

17 views

Akhir-akhir ini, beberapa platform media umum berbenah.

Yang pertama yaitu Instagram, dan kemudian Facebook. And then, Youtube.

Somehow, katanya, ini dilakukan demi meningkatkan kepuasan ‘pelanggan’, namun dampaknya agak tak yummy juga terutama buat mereka yang memanfaatkan kedua media tersebut untuk ngiklan. Bakalan mesti nambah effort untuk sekadar terlihat oleh sasaran pasar.

*sigh*

Dari penelusuran banyak sekali sumber, saya jadinya punya beberapa catatan. Dan, menyerupai biasa. Mending saya tulis di sini. Karena oret-oretan saya akan hilang seiring buku notesnya juga habis. He.

Mari kita mulai dari Instagram. Facebook akan menyusul kemudian. Well, hopefully. *lalu dikeplak*
Youtube? Enggak. Soalnya saya nggak main Youtube 😛

Beberapa Perubahan Algoritma Instagram

Mungkin belum banyak yang tahu, bahwa selama ini bila ada perubahan algoritma, pihak Instagram akan mengumumkannya di blog mereka. Tapi, akhir-akhir ini udah nggak lagi. Mereka hanya ngupdate Help Center, and that’s it.

Maka, mari kita lihat.

1. Algoritma / Post exposure

So, dikala kau post sesuatu di Instagram, maka post tersebut paling banter hanya sanggup terlihat oleh 10% dari follower kamu. 

Jika dari 10% itu menunjukkan respon terhadap post yang gres saja kau share, maka hal tersebut akan meningkatkan peluang post kau untuk diperlihatkan pada 90% lainnya.

Yes, respon yaitu hal terpenting di media sosial. So, jangan cuma jadi penonton.

Sumber yang lain ada yang menyebutkan, bahwa yang paling krusial yaitu respon yang diberikan oleh follower kurang dari 1 jam sehabis satu post dishare. Dalam 60 menit itu, “mesin” Instagram akan menganalisis, apakah post tersebut layak untuk disharekan lebih pada yang lain.


Instagram pods akan menimbulkan shadow ban

Apa itu Instagram pods?

Pod dalam term “Instagram Pod” ini diambil dari kata pod yang berarti “a family of dolphins who live together in harmony and support one another.”

Yeah, get the picture now?

Dalam praktik buzzing atau endorsement di Instagram, banyak buzzer/Instagrammers yang berkelompok yang kemudian saling ngasih komen, likes etc, untuk tujuan saling nge-boost engagement.

Well, Instagram kayaknya aware akan hal ini for some reason, dan memberlakukan shadow ban.

Apa itu shadow ban?

Shadow ban Instagram yaitu dikala post kita nggak nongol di explore. Makara ya meski udah dikasih hashtag bejibun, nggak akan keliatan sama non follower. Keliatan sama follower doang.

Apa yang sanggup mengakibatkan shadow ban? Banyak. Beberapa di antaranya yaitu penggunaan bots, beli follower, hashtag abusing, post caption dan/atau hashtag yang sama banyak kali, memakai forbidden hashtag (misalnya yang bekerjasama dengan pornografi), dan seterusnya.

Kamu sanggup baca klarifikasi yang lebih terperinci dan detail perihal shadow ban Instagram di sini.

So, apakah kau sedang dalam proyek buzzing/endorsing kemudian rasanya engagement kok menurun secara tiba-tiba? Hashtagnya error? Atau tiba-tiba kau nggak sanggup post? Mungkin kau kena yang namanya shadow ban ini.

2. Engagement

Engagement, and no other than engagement.

Instagram kini benar-benar mendasarkan algoritma pada engagement. So, mulai sekarang, bila kau pengin mendapat angka engagement yang bagus, maka RESPONLAH KOMEN kurang dari 60 menit.

Lebih dari itu, engagement-nya kurang.

Engagement kau turun, maka post kau akan makin under-expose. Makin tenggelam.

No more rooms for bots! So don’t sound like one.

Yeah, Instagram juga penuh dengan spammer bot. Tahu nggak yang kayak gimana?

Itu, yang suka komen “Nice post”, atau “Great pic!”. Saat kau merespon para bots ini, itu tidak dihitung sebagai engagement. Pun buat kau yang hanya ngomen dengan cuma 2 kata kayak gitu, juga akan dianggap sebagai bot oleh Instagram.

Lalu gimana dong?

Well, try to make a comment yang terdiri atas 4 kata atau lebih.


Instagram stories lebih banyak dikasih panggung.

Ini salah satu alasan kenapa kini saya juga bikin Instagra stories :)) Karena Instagram stories helps you pop up more. Stories being promoted based on engagement rather than recency.

Akun pertama yang muncul di timeline kau di Instagram yaitu mereka yang punya engagement besar dengan akun kamu. So, give people reason to see you first, dengan menciptakan stories yang menarik ya.

3. Caption


Caption is merely about hashtag.

Don’t over abuse. Meski sebetulnya jumlah hashtag yang diperbolehkan yaitu 30 hashtag, tapi sebaiknya jangan overuse.

Overuse = spammy. Spammy = shadow ban.

Logikanya gitu.
Jadi, berapa banyak hashtag yang paling ideal untuk dipergunakan dalam satu post? Nggak tahu juga. Tapi banyak yang bilang, memakai 5 hashtag itu paling optimal.

Dan, jangan pakai hashtag yang sama persis untuk beberapa postingan berturut-turut. Coba untuk mengeksplor lagi,

Oh, dan yang gres lagi: hashtag yang ditulis di kolom komen tak lagi muncul di search result ya. Jadi, tulislah hashtag di caption, bukan di kolom komen. Sering liat olshop-olshop nulis hashtag banyakbet di kolom komen.
Udah nggak guna sekarang. Malah sanggup kena mark as spam.

Another big one, jangan mengedit caption dalam waktu 24 jam pertama sehabis diposting!
*damn!* Karena akan mengurangi peluang to be seen. Jadi, sebelum pencet tombol “Share”, benar-benar mesti dicek ulang tuh ya captionnya. Jangan ngedit sebelum 24 jam.

Pun jangan menghapus satu post, dan kemudian me-repost-nya.
Bah, padahal ini sedang saya lakuin kini nih. Demi menata feed agar lebih rapi. Kerjaan perfeksionis gini nih.

Demi feed tertata dari bawah hingga atas, hingga ngerepost foto-foto lama. Wkwkwkwk. Ternyata, yang kayak gini nih “terancam” eksekusi yang sama dengan spamming.
Meh.

Baiklah bila begitu. Mending digambar ulang.

4. New Features

Ohiya. Yang terbaru, di Instagram mulai kini kita sanggup follow hashtag. Ini useful banget buat yang kayak saya, yang memang hanya mantengin interest tertentu saja di Instagram.

Katanya, our profile might be favored if we are following hashtags. So, coba follow hashtag yang sesuai dengan minat kau deh.

Nah, itu beliau beberapa update algoritma Instagram yang mulai berlaku Januari 2018 ini.

Sampai kapan itu berlaku? Atau berubah lagi?
Hanya Instagram dan Tuhan yang tahu.

Segitu dulu untuk update Instagram. Semoga saya sanggup segera lanjut ke Facebook ya.

===== UPDATE! ======
So, hari ini saya membaca artikel dari Lauryn Hock ini, mengenai pematahan beberapa teori di atas, juga mengenai apa yang sesungguhnya terjadi di dalam kantor Instagram dan Facebook, dan apa yang sebetulnya dipikirkan oleh orang-orang di sana.
Beberapa hal di atas dibilang hanya mitos belaka.
Saya langsung nggak tahu sih sebetulnya apakah punya Lauryn ini valid, alasannya yaitu dari mana sumbernya ia mendapat data tersebut, juga nggak disebutkan. Apakah ia mendapatkannya dari “orang dalam” apa gimana, entahlah. :)))

Tapi, bolehlah dibaca, sebagai bekal ilmu juga ya.
Thanks to Mas Ryan yang sudah share mengenai artikel ini di Facebook.

So, kesimpulan terakhir dari saya sih, mari kita enjoy aja dalam memakai Instagram, Facebook dll. Asal kita menggunakannya secara natural dan baik-baik saja, maka ya niscaya there’s nothing to be afraid of.
Yekan?