Twitwor: Cara Dan Jalan Untuk Cari Panggung Dan Femes Secara Cepat (?)

Diposting pada 5 views

Beberapa waktu yang lalu, saya melihat tweet ini oleh Papin, junjunganku.

Dan kemudian saya tanggapi begini.

Bagaimana menurutmu, wahai kau yang sedang membaca artikel ini?

Tentunya, bila kau suka main ke Twitter, kau barangkali tidak mengecewakan dekat dengan “pencarian panggung” model begini.

Yes, twitwor.

Jadi, siapa yang follow InfoTwitwor & Drama?
Buat apa hayo, follow akun tersebut?

Iya, saya ngaku. Saya juga follow.
Buat apa?
Buat liat dramak lah! Buat apa lagi?

Sekarang apa-apa memang sanggup dilakukan di Twitter. Twitter–menurut saya–adalah media umum yang paling sanggup menciptakan saya berekspresi secara bebas.

Kenapa saya lebih suka di Twitter ketimbang media umum lain?

  • Pergerakan linimasa yang cepat menciptakan saya sanggup lebih banyak mendapat update dari akun-akun yang saya ikuti. Juga sepakat buat saya meracau, sebab dengan cepat racauan saya juga berlalu dari linimasa. Hehehe.
  • Saya nggak perlu memikirkan “keindahan” visual di Twitter. Asal tercetus pikiran, saya sanggup eksklusif ekspresikan. Beda sama Instagram, yang lebih ribet berdasarkan saya.
  • Mau sharing info apa pun juga lebih enak. Saya sanggup bikin thread viral lebih banyak di Twitter sih. Hehehe, apalagi dengan fitur threadnya sekarang.
  • Jokes recehan para sobat misqueen di Twitter juga lebih sanggup bikin saya ketawa ngekek-ngekek, ketimbang Instagram ataupun Facebook.
  • Apa-apa yang ngehits di Instagram dan media umum lain niscaya kebawa ke Twitter. Tapi yang trending di Twitter belum tentu ada di media umum lain. Wkwkwkw.
  • Dan masih banyak alasan lain yang bikin saya memang lebih betah berada di Twitter.
Namun di balik semua hal yang bikin saya lebih suka menghabiskan waktu di Twitter, ada juga yang nyebelin darinya. Salah satunya yaitu dramak, yang kemudian bermetamorfosis perang.
Satu sisi drama perang Twitter ini memang menghibur, tapi bila kebanyakan ya exhausting juga. Apalagi bila orangnya toxic, nyebelin, merasa paling bener. Kalau saya pribadi sih–terus terang–begah sama para sjw alias social justice warrior, yang merasa dirinya paling bener.
Okelah mereka membela so-called prinsip, tapi nggak perlulah hingga mencela orang lain yang nggak sepaham sama mereka.

Twitter Bukan Tempat Memaki

Melihat banyaknya pengguna Twitter yang malah memakai akunnya untuk mencela, nyari panggung dan alhasil perang, maka nggak heran bila kita menganggap Twitter bukan cuma media untuk membuatkan informasi dan memberikan pesan. Tapi, juga untuk memberikan ketidaksukaan kita pada suatu hal, lebih khusus lagi pada seseorang atau tipe orang tertentu.
Memang, menyerupai halnya media umum yang lain, Twitter memang sanggup menjadi sumber banyak sekali informasi, dan kemudian berkembang sesuai dengan kebutuhan kita sebagai penggunanya.
Bahkan yang ada sekarang, Twitter juga menjadi kawasan untuk membangun so-called merk awareness. Melalui Twitter, suatu merk sanggup berkomunikasi dengan user-nya dan calon konsumen, sehingga membentuk persepsi terhadap merk tersebut.
Makanya, Twitter berkembang fungsinya, jadi kawasan komplen, kawasan nanya, kawasan nyari informasi, kawasan menyapa teman-teman, kawasan curhat, kawasan membuatkan artikel, hingga kawasan sampah.
Apalagi hampir nggak ada aturan tertulis di Twitter. Benar-benar zona bebas sebebas-bebasnya.
Tapi kan, nggak berarti kita lantas sanggup seenaknya mencela dan memaki orang lain di situ?
Saya pikir, tetap ada aturan kan seharusnya? Jika dalam kehidupan konkret kita sanggup “terikat” oleh akhlak sopan santun dan norma, mengapa hal ini tak sanggup kita bawa juga ke ranah dunia maya?
Jika kita tak mungkin menghina orang lain dengan kata garang secara langsung, mengapa kita jadi bebas melakukannya di Twitter (dan juga media umum lain)?
Mengapa justru sebab kita tidak sanggup mengatakannya eksklusif pada orangnya, tapi dengan yummy banget berkata garang di Twitter dengan nomention?

Kita lupa. Kita memang bebas ngetweet apa pun, tapi sebebas itu pula orang lain menilai kita, menghakimi kita. Jangan bilang, don’t judge me because you don’t know me. I only show you what I want you to see.
Karena sesungguhnya, kita sendirilah yang mengontrol tweet kita.
Kalau nggak mau orang salah ngejudge, ya jangan tunjukkan apa yang sanggup mereka judge.

Sekali lagi, ingat. Kita sendiri yang mengontrol apa yang kita bagikan di media sosial.

Twitter untuk Para Pengecut (?)

Fakta bahwa di Twitter kita sanggup nggak eksklusif berhadapan dengan orang yang dituju, jadinya kita cenderung lebih berani memberikan apa yang ada di pikiran kita. Seburuk apa pun itu.
Tanpa berpikir panjang, kita melancarkan protes pendapat orang lain, cara berpikirnya, cara pandangnya, bahkan cara hidupnya. Lalu dilanjutkan pula dengan mengumbar keburukan karakternya.

Warbiyasak memang ya *slow clap*

Saat di Twitter, kita merasa tanpa nama dan invisible, sebab kita “tersembunyi” di balik nama akun dan bio yang sanggup saja bukan yang sebenarnya. Kita juga nggak perlu menawarkan dan melihat ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan nada suara.

Hal inilah yang menciptakan kita menjadi lebih ekspresif ketika ngetweet.

Hal lain yang menciptakan seseorang lebih berani di Twitter yaitu sebab yang bersangkutan kurang pede. Yaeyalah, bila face to face kan jiper, neyk!

Dengan “bersembunyi” di balik akun Twitter, kita tak perlu mengkhawatirkan reaksi orang. Bodo amat, kan kita nggak harus menatap mata orang yang kita sakiti? Nggak perlu juga lihat betapa ia terpojokkan oleh kata-kata kita?

Dengan demikian, no mercy kan? Hajar bleh!

Twitwor untuk Panggung

Percaya atau tidak, hal ini juga diakui sendiri oleh beberapa orang yang memang suka menempuh jalan ini demi mendapat lampu sorot, alias perhatian. Hasil dari perhatian yang didapat yaitu jumlah follower yang naik, yang terutama. Hasil lainnya niscaya ada lagi juga.

Coba lihat beberapa orang yang kayaknya seneng banget bila menemukan kesalahan atau keburukan orang lain.

Misalnya kemarin ini deh. Ada yang salah kasih thread klarifikasi mengenai kesalahan penggunaan sticker “Ask Me a Question” di InstaStories, dan ternyata deseu yang salah mengerti.
Terus, aduh, itu ya yang ngetawain kesalahannya, kayaknya puas bener ya?

Padahal lho ya, berdasarkan saya nih, yang bersangkutan ini nggak salah total. Kita itu sanggup kok memakai fitur tersebut untuk menanyai follower, ataupun untuk memberi pertanyaan pada kita. Either way, sama-sama untuk menjalin interaksi kan?
Salahnya di mana?

Meski sudah dijelaskan oleh Instagram mengenai penggunaannya, tapi nggak salah kan?

Duh, seneng banget liat orang salah ya? Ckckck.
Yah, siapa tahu sanggup masuk Twitwor. Kan lebih populer kan ya?

Bahkan kini ini ya, bila sanggup masuk ke akun @infotwitwor itu seakan jadi prestasi.

Ya, bila memang permasalahannya yaitu permasalahan umum ya okelah, saya masih agak maklum dan paham. Lha tapi ada juga yang membeberkan dilema pribadi, kemudian alhasil yang bersangkutan dibully akhir dilema pribadi yang dibeberkannya sendiri. Terus, apakah orang-orang kayak saya gini harus merasa kasihan?

Nggak bisa.
Saya nggak sanggup kasihan pada korban bully menyerupai ini.

Yang ada, orang-orang yang nonton–seperti saya ini–malah makin bersorak senang. Tepuk tangan. Ketawa. Kalau bisa, ghibahin lagi di kawasan lain.

Salah siapa?

Apakah yang bersangkutan itu buta media sosial? Paham nggak sih bila Twitter itu bukan ranah pribadi?

Mengapa hal-hal setabu itu dibeberkan dengan bangga, atas nama inspirasi?
Inspirasi my a*s! =))

Kalau sudah mulai dibully, atau sanggup teror, lantas play victim.

Doh, mamam tuh malu sendiri.

Ya maaf. Kalau menyerupai ini, memangnya saya harus kasihan? Harus simpati?
Bukankah Twitter itu Twitter-Twitter kita sendiri? Kalau ditegur, bukannya ngomong, “Eh ini akun akun eug sendiri. Napa lo repot?’

Abis kena bully, gres deh. Paling terus digembok.

Hello?
Mendingan sebelum bikin thread membuka malu sendiri, ya dipikirin dulu deh.

Think Before You Tweet

Meski tanpa akhlak tertulis, bukan berarti Twitter bebas hukum. Sudah banyak kasus yang alhasil berlanjut ke pengadilan hanya sebab tweet.

Tak hanya itu, sudah banyak sekali pula kasus seorang karyawan mendapat dilema sebab tweet. Nggak cuma karyawan, saya sendiri bila lagi mencari bloger buku atau bookstagrammer pun ngecek ke media sosialnya dulu kok, sebelum memilih.

Buat apa? Ya, supaya saya nggak menentukan orang yang salah.
Saya nggak akan menentukan orang yang suka ngebully orang lain, atau suka berkata-kata garang di akun media sosialnya.
Kenapa? Ya, sebab saya sedang “menyerahkan” gambaran buku yang sedang saya promosikan, jadi saya harus memastikan citranya akan tetap baik terus.

Itu cuma buku lo.
Bayangkan yang lain.

Kalau kau melamar ke sebuah perusahaan, HRD zaman kini juga akan jalan-jalan dulu ke media sosialmu.
Kalau kau pengin mengejar endorsement, sang ahensi juga akan jalan-jalan dulu.
Mereka akan scroll timeline kau hingga jauh.

Percayalah.

Ngetweet hal jelek perihal orang lain sanggup dituntut. Kalau ngomong langsung, kadang masih susah dibuktikan. Tapi bila sudah berupa tweet, hal itu sanggup jadi bukti tertulis. Dan sah untuk dibawa ke proses lanjutan. Orang yang merasa dirugikan sanggup melaporkannya ke pihak berwajib.

The bottom line is …

Begitu bebas dan demokratisnya media sosial, sehingga bikin kita egois sebab merasa bebas berpendapat. Bahkan hambar meng-upload goresan pena dan foto yang berisi keburukan orang lain. Padahal kita punya followers–yang notabene juga tak kita kenal dengan baik. Siapa yang tahu mereka sesungguhnya menyerupai apa?

Apalagi netyjen zaman kini yang selalu mahabenar dan praktis terpengaruh.

Orang yang benar-benar mempunyai ‘kehidupan’ yang sehat nggak akan mau terjebak untuk ngetweet negatif. Ingat, apa yang kita keluarkan di media umum mana pun yaitu tanggung jawab kita pribadi.

Jadi, segala sesuatu yang terjadi kemudian tetap menjadi tanggung jawab kita sendiri.

Yuk, bijak bermedia sosial.