Trik Menaikkan Trafik Situs Atau Blog Sampai 100.000 Pv Dalam Sehari

23 views

Dih, judulnya bombastis bet. Tapi semoga nggak dianggap clickbait yah. Hehehe.

Yamonmaap, itu pertanyaan yang kemarin dimintakan tanggapan pada saya di Quora Indonesia. Sudah gabung Quora Indonesia belum? Ya, masih versi beta sih, dan kalau signup mesti ada invite dulu.

Sayangnya invite saya sudah habis sebab cuma dikasih 5. Mungkin, kalau kau mau gabung, coba cari Quoran yang masih punya sisa invite.

Yep, ada yang menanyakan mengenai “Bagaimana cara membuat 100.000 pengunjung di website kita?” di Quora pada saya.

Yah, selama saya mengelola sebuah portal media untuk ibu-ibu muda kemarin, rekornya memang pas banget PV 100K dalam sehari. Tentunya ini nggak cuma sebab perjuangan saya doang, tapi juga ada segerombolan tim yang jadi partner saya, yang tidak mengecewakan lincah melaksanakan promosi off page.

Tapi, berikut ini yaitu beberapa hal yang saya lakukan untuk menggelontor traffic ke web. Barangkali dapat juga dilakukan oleh teman-teman, terutama bloger.
Ya, kalau mau. Karena ini memang butuh kerja keras. Karena cara-cara yang saya lakukan ini yaitu “cara yang bener”. If you know what I mean. Cara yang safe. Kaprikornus ya butuh sedikit kerja keras.

Beberapa langkah untuk menaikkan traffic secara signifikan ke situs/blog

1. Memilih keywords yang tepat

Nggak sekadar nembak, tapi lakukan riset. Karena pageview nggak akan bergerak signifikan kalau kita menentukan keyword yang TIDAK dicari orang, atau cuma sedikit saja yang mencari.

Pernah saya menjumpai tip SEO yang menyarankan kita untuk mengambil keyword yang ‘gue banget’, yang khas dan unik, gitulah.
Misalnya menyerupai “review resto ala gue”.

Untuk apa? Entahlah. Kalau nggak salah inget, demi mendapat traffic yang targeted, atau apalah. Saya lupa alasannya.

Di situ saya nggak tahu sih mesti berkomentar apa.
CMIIW. Logikanya kan orang yang sedang mencari informasi di Google akan memasukkan keyword yang mereka pikirkan kan? Kalau kita bikin keyword yang ala gue gitu, memangnya banyak orang yang kepikiran? Berapa banyak?

Banyakan mana dengan yang mencari dengan keyword “restoran di Jakarta”, misalnya.

Mari kita lihat di Keyword Planner.

Jadi, kenapa menentukan keyword yang “gue banget”? Ntar nggak ada yang nyari. Pilihlah keyword yang bakalan banyak dimasukkan orang ke dalam kotak pencarian.

Selain itu, saya juga sering mendengarkan curhat mengenai kegagalan menggelontor traffic, padahal sudah memasukkan keyword sesuai dengan kaidahnya. Biasanya sih saya tanya, “Keyword-nya ngecek jumlah pencarian dulu atau eksklusif nembak asal keyword?”

Ada yang jawab, asal ambil keyword.
Lha ya, terus, kalau nggak ada yang nyari ya gimana dapat menghasilkan traffic kalau kita cuma “ngawang” aja? Memangnya situ mahir nujum?

SEO bukan ilmu cenayang. Orang baca tarot aja ada ilmunya kok. Apalagi SEO.

Jadi, pastikan keyword-nya memang ramai dicari orang. Riset dulu!
Ya, kalau pakai Keyword Tool, biasanya saya pilih yang avg search-nya lebih dari 1K/month. Ini ngaruh banget deh. Dan, memprediksi keyword ini butuh pengalaman.

2. Monitor trending topic

Dulu, selama 2 tahun, setiap hari saya mantengin Google Trends untuk mengecek apa saja yang lagi ramai hari itu.

Kalau ada yang dapat dihukum menjadi tulisan, ya eksklusif sanksi ketika itu juga.
Hah? Saat itu juga?
Iyes, hari itu juga harus publish. Kalau dapat malah jam itu juga.

Karena trending topic ini tidak mengecewakan cepat bergeraknya. Bisa dalam hitungan jam, sudah bukan hitungan hari lagi.

Kalau trending hari ini, gres mau tayang besok sih biasanya saya sudah menganggapnya agak terlambat. Tergantung topiknya juga sih. Kadang ya ada yang dapat agak di-extend. Tapi lebih banyak lagi yang enggak.

Salah satu artikel riding the wave. PVnya tidak mengecewakan kan?

Lumayan sih, cara riding the wave ini cukup dapat menggelontor traffic. Meski kadang ya hanya sehari 2 hari.

Tapi, kalau animo ini dapat kita kombinasikan dengan keyword rame, ya dapat infinit juga traffic-nya. Deadly banget dah, kalau pas dapat combine trending + keyword rame nih. Tapi ya kesempatannya cukup langka. Wkwkwkw.

Meski demikian, cara “menceburkan diri di keramaian” ini dapat jadi cara yang cukup efektif untuk sebar branding, bahwa ada website kita di tengah riuhnya dunia media digital.

3. Monitor media sosial

Cara ini menyerupai poin 2 di atas sih, yaitu untuk memonitor trend.
Saya biasanya mantengin Chirpstory. Kadang nemu harta karun juga di sana.

Salah satu artikel yang ceritanya saya temukan di Chirpstory.

Biasanya yang paling laku itu yaitu yang trending di Instagram, kini ini. Nah, dari Instagram ini biasanya kebawa juga ke Twitter.

Facebook saya enggak terlalu sih.

Tapi ya, dapat jadi berbeda dengan kamu. Karena acara orang kan beda-beda di media umum kan yak?

4. Publish tiap hari, kalau perlu beberapa kali sehari

What?
Memangnya ada hubungannya antara kuantitas artikel yang dipublish dengan jumlah PV yang masuk?

Well, somehow, saya menandakan sendiri, ketika semakin banyak artikel saya publish, grafik PV juga meningkat. Kalau jumlah artikel menurun, ya PV juga turun meski nggak drastis sekali.

Ini juga enggak otoriter sih. Lagi-lagi hanya berdasar pengalaman kemarin saja. Cuma kalau dilogika ya bener kok. Teorinya nih, katakanlah, 1 artikel mendapat 20.000 PV. Maka, kalau kita dapat publish 5 artikel dengan kualitas yang sama, bukan nggak mungkin kan mencapai 100.000 PV/hari?

Meski ya banyak faktor lain yang ikut menentukan juga.

Ya, kalau setiap hari dirasa berat, ya yang penting konsisten. Kadang juga akan lebih baik mem-publish lebih jarang tapi tetap konsisten dan dengan konten yang benar-benar berkualitas.

Ini kembali lagi ke topik blog yang diambil juga.

5. Bekerja sama dengan agregator aplikasi baca online

Sekarang banyak aplikasi baca di smartphone yang mencari partner untuk penyedia konten. Saya pernah bekerja sama dengan salah satu di antaranya, dan ternyata cukup signifikan kasih pageview yang dapat termonitor di Google Analytics. Istilahnya share pageview.

Beberapa waktu yang kemudian sempat ramai juga di dunia perbloggingan. Ada aplikasi baca online yang “mengangkut” konten blog para bloger. Banyak yang protes kan ya?

Saya nggak tahu sih, permasalahannya di mana. Mungkin berbeda dengan jenis kolaborasi yang pernah saya lakukan.

Kalau saya kemarin memang kerja samanya, si aplikasi baca ini mengambil konten di portal yang saya kelola kemudian dipasang di agregator miliknya. Lalu portal saya juga mendapat share pageview.

Kena double content atau enggak?
Mmmm. Saya tadinya bertanya-tanya juga sih, berbahaya enggak buat portal?
Tapi di atas saya ada manajer pemasaran yang seorang pahlawan SEO, dan tampaknya beliau nggak mempermasalahkan. So, saya juga biarkan saja.

Kalau orang yang saya percaya dan lebih pinter aja menyerupai nggak ada masalah–sependek yang saya tahu–ya sudahlah. Toh, pageview juga meningkat. Hahaha. Lumayan lo. Bisa hingga 200% peningkatan pageviewnya dari agregator tersebut.

***

Nah, itu beliau beberapa hal yang saya lakukan kemarin.
Meh, mentang-mentang udah lepas, jadi bocorin diam-diam ya? Huahahaha.

Enggak, ini jadi catatan saya aja sih. Siapa tahu next ada proyek yang menyerupai atau sama. Kaprikornus saya tinggal refresh aja di sini, terus ya diupdate dengan teknik yang baru.

Kalau ada yang mau nyontek ya monggo. Silakan. Tapi maaf, saya nggak dapat jamin, kesudahannya dapat sama persis ya. Karena ada banyak faktor lain yang ikut menentukan, apakah pageview sebuah situs atau blog juga dapat sama meroketnya, kalau dijalankan dengan cara yang sama. Lagian saya juga disuport oleh tim yang cukup solid.

Karena ternyata ngurusin konten kek gini itu ada seninya tersendiri. Bisa tergantung topik, tergantung sasaran audience, dan tergantung kita juga yang mengelolanya. Saat formula antara ketiganya pas, maka ya traffic pun melejit.