Sebelum Jadi Selebgram Atau Social Climber, Coba Perhatikan Dulu!

Diposting pada 3 views

Caution: Di postingan ini, kembali saya ngomenin orang lain, meskipun bukan bloger. Dan juga, saya menulis dengan bahasa sarkas. Kalau belum terbiasa dengan bahasa ini, sebaiknya skip saja.

Saya nggak pernah tahu siapa itu Gita Savitri hingga beberapa hari yang lalu.

Well, jika kau ketinggalan ghibah eh gosip berita, ya kau sanggup baca selengkapnya saja di sini. Saya mah cuma penonton, nggak berhak cerita. Ntar sanggup saya tambah-tambahin juga, soalnya.

Sampai dengan artikel ini ditulis, tampaknya bola salju masih menggelinjang menggelinding, hingga melibatkan hampir seluruh netyjen mahatahu dan mahabenar di jagat maya, sepertinya. Bahkan, konon, hingga jajaran direksi bank kawasan si lelaki bekerja juga ikut turun tangan.

Entah bener entah enggak.
Saya bahwasanya enggak terlalu peduli.

Cuma, saya merasa lucu, lantaran peristiwa ibarat ini tuh enggak sekali dua terjadi di media umum yang kolam panggung sandiwara ini.

*lalu nyanyik*
Dunia maya … panggung sandiwaraaaa. Ceritaaaanya gampang berubah.
Kisah para selebgram atau bencana social climberrrrr …

*anak lama*

Selebgram, selebtwit, seleb-embuh … itu nggak hanya sanggup menginspirasi, tapi juga sanggup menjadi para aktor-aktris panggung medsos, dengan mempersembahkan drama-drama sebabak dua babak banyak babak, yang asyik ditonton. Apalagi jika hingga ada war, alias perang, alias perseteruan. Bak adegan sinetron Indosiar, makin klimaks, makin seru.

So, here is my take.

Saya lihat, banyak orang pengin jadi selebgram. Bisa sanggup produk-produk gratis untuk diendorse, sanggup bayaran untuk postingan yang captionnya dibikinin sama ahensi (yang kemudian berakhir ditulis apa adanya, tanpa edit, tanpa menghilangkan “Captionnya di tulis begini ya, Mbak.”), diundang ke event-event menarik, dan seterusnya.

Banyak orang pengin jadi influencer, meski blank mesti gimana dan mesti ber-attitude ibarat apa hingga malah genggeus. Banyak orang pengin difollow, hingga ngemis-ngemis, juga pengin di-like dan di-komen.

Well, yeah, setiap orang berhak dan sanggup saja menjadi selebgram. Mereka hanya perlu sangat menginspirasi, atau sebaliknya, menjadi sangat menyebalkan. Pilihan ada di kita sendiri.

So, berikut ini yakni pesan buat kamu-kamu yang pengin menjadi selebgram dan femes, dari seorang penggemar dan penonton drama media sosial.

Sebelum jadi selebgram, berikut beberapa hal yang harus diingat, berdasarkan seorang penonton drama maya (alias eikeh!)

1. Watch your emotion

Emosi selalu sanggup menjadi bumerang. Emosi sanggup bikin kita hilang kendali atas diri kita, termasuk jempol.

Mari kita jadikan kasus Gita Savitri ini sebagai contoh.

Menurut penelusuran saya, ada yang bilang bahwa si mbake ini tadinya punya reputasi wanita anggun dan smart serta penuh inspirasi. Ini katanya lo, ya. Maaf, saya nggak sempat stalking soalnya. Bukan tipe yang saya idolain, jadi saya nggak tahu mbaknya ngapain aja di Instagram atau media umum lain.

Dalam waktu sekejap, hanya beberapa menit, reputasi itu hilang seketika hanya gara-gara mbaknya lepas kontrol ketika menjawab DM si masnya.

Emosi ibarat apa yang sanggup bikin lost control? Emosi kan ada banyak?
Hmmm, berdasarkan saya, baik emosi negatif (yang berupa amarah, kesedihan, kekecewaan dll) dan juga emosi positif (rasa senang, puas, senang dll) itu sama-sama sanggup menjadi bumerang bagi diri kita kalau diungkapkan atau dilampiaskan secara berlebihan.

Terlalu senang atau terlalu puas akan sesuatu kemudian dilampiaskan secara berlebihan itu juga nggak akan manis efeknya. Begitu pun jika kita terlalu murka atau terlalu sedih.

So, jika ketika ini kau merasa sedang berada di puncak emosi, lagi seneng banget, lagi murung banget atau lagi murka banget, jauhi dulu media sosial.

Beneran deh ini.

Ah, kan sanggup dihapus ini!
Udah ngetweet sanggup dihapus. Udah nyetatus juga sanggup dihapus!

Really? Are you sure?
Coba ke poin kedua berikut.

2. Screen capture does EXIST!

Tahu kan ya, kemudahan screen capture? Yes, screen capture–atau kadang juga disebut dengan screenshot–adalah gambar tampilan layar yang diambil eksklusif dengan gadgetnya. Tahulah ya, apa itu screen capture atau screenshot atau biasa juga disingkat SS.

Tahu kapan, si mbak selebgram itu benar-benar apesnya?
Saat si mas lawannya membuatkan screen capture DM mereka di media sosial. Katanya sih atas nama pencucian diri juga sih.

Yang salah siapa, hayo?

Saya bilang dua-duanya salah.

DM–atau Direct Message–nama lainnya yakni Private Message. Pesan pribadi. Namanya pribadi ya seharusnya tetap berada di ranah pribadi. Ngapain pakai disebar ke sana sini?

Oke, jika itu demi membersihkan namanya–apalagi katanya direksi bank kawasan si masnya kerja juga menuntut penjelasan. Tapi coba lihat, ke mana saja DM itu menyebar.
Bahkan di Chirpstory saja ada.

Sungguh. Ini lebih berbahaya ketimbang data bocor Facebook tempo hari loh. :))))

Ingat kasus seorang wanita pendatang di Jogja yang ngatain orang Jogja miskin dan pemalas, hanya lantaran ia disuruh ngantre BBM ketika BBM langka kapan dulu itu nggak? Kasusnya, si mbak ini bikin status di Path, dan diprotect pula, soal kejengkelannya lantaran disuruh ikut antre BBM di salah satu pom bensin di Jogja.

I mean, Path yakni media umum yang paling private. Ini aja discreen capture, dan menyebar ke mana-mana lo! Jangan kira kasusnya berhenti dengan perundungan terhadap si mbak ini. Ia bahkan diadili di pengadilan, dan mendapatkan eksekusi lo!

Screen capture does exist, and it’s even meaner than people talking!
Tweet kau sanggup diapus, status Facebook kau sanggup diapus. Tapi siapa yang sanggup jamin bahwa tweet atau status kau enggak dicapture orang?

Orang saya aja pernah, nyinyirin Jokan tapi karenanya saya hapus. Eh, salah seorang teman ternyata lihat dan ngecapture tweet saya itu. Untungnya cuma dibawa ke WAG, dan semuanya teman sendiri :)))) Jadi, saya aman. Nggak diserang penggemar Jokan. Hahaha.

Coba jika saya selebtweet or selebgram. Wew. Udah, niscaya ke mana-mana deh itu.
Nah, ada untungnya juga kan kita bukan seleb. Wkwkwkw.

3. People are mean!

Netyjen itu jahap, bosque. Selain tentunya mereka mahabenar dan mahatahu.

Kalau yang ini sudah niscaya pada ngeh dan nyadar seharusnya ya.
Apa saja yang digelindingkan di media sosial–terutama jika kau yakni seorang selebgram, selebtweet, atau seleb embuhlah–pasti akan jadi semacam bola salju. Makin gede. Ditambah-tambahin soalnya.

Kemudian muncullah makhluk-makhluk yang berjulukan haters.
Haters biasanya muncul sehabis ada fans. Haters yakni “buah” kefemesan kita. Udah pastilah itu.

And, haters gonna hate.
They never like anything on you.

Siapkan saja mentalmu menghadapi mereka.

Kalau masih belum yakin jika people are mean, coba bertandang ke akun Instagram Syahrini atau Ayu Ting Ting. Lihat di kolom komen-komennya.

4. You DON’T know people

Kalau kau belum pernah ketemu dengan seseorang secara langsung, atau kenal seseorang di dunia nyata, maka tanamkan pada diri sendiri, that you don’t really know that person.

Kenapa?
Kita nggak pernah tahu gimana orang yang sedang bersembunyi di balik sebuah akun media sosial.

Saya pernah nih ditanya–eh bukan pernah lagi deng, sering!–begini, “Kok nggambar sketsa-sketsanya kek gitu melulu sih? Ngeri amat. Are you OK? Are you happy with your life? Atau, sanggup “lihat” kek gituan ya?”

Bahkan ada yang nanya, “Kamu indigo ya?”

Haelah!
FYI. Saya cukup normal. Saya senang dengan hidup saya. Permasalahan hidup saya nggak pernah jauh beda dengan orang lain. Nggak, saya nggak sanggup “lihat” kek gituan. PUJI TUHAN!
Dan, enggak, saya bukan indigo.

Saya tahu banget, orang-orang yang nanya gitu tuh, yakni orang-orang yang belum pernah ketemu sama saya secara langsung, yang “hanya” sanggup menilai saya dari apa yang saya perlihatkan di media sosial.

Ada yang bilang, “Don’t judge me, because I only show you what I want you to see.”
Ya, ini ada benarnya juga. Tapi, saya pribadi sih dengan bangga dan sadar betul mendapatkan konsekuensi dari “apa yang saya perlihatkan”. Yaitu di-judge sebagai orang aneh.

Nggak papa.
Lagi-lagi, untung saya bukan selebtweet atau selebgram. Jadi, nggak masalah.

Kita nggak sanggup menghakimi orang lain hanya berdasar apa yang kita lihat di media sosial. Ya, kita boleh saja sih berasumsi atau berkesimpulan sendiri. Hal tersebut juga hak kita kok. Kadang bukan salah kita juga jika kita berkesimpulan salah, lantaran memang hanya sebegitu yang diperlihatkan. Iya nggak sih?

Begitu juga dengan kasus mbak seleb dan mas bankir. Mbak seleb lantaran murka telah dilecehkan eksklusif deh pasang foto orang yang melecehkan di Instagram Story. Padahal itu foto yang dicolong dari akun lain.

Ya, memang. Gimana kita sanggup tahu jika itu yakni fake account?
Makanya saya bilang, we don’t know people.

Terus kenapa?
Mari kita ke poin selanjutnya.

5. Karena nggak kenal, maka sopanlah

Dan, lantaran kita nggak sanggup kenal betul dengan orang lain di media sosial, maka ya sebaiknya kita harus menjaga setiap kata yang kita keluarkan dan tetap sopan sama siapa pun. Termasuk pada penggemar, jika kita nanti jadi selebgram.

Pernah kepoin komen-komen di Instagram Yuni Shara belum?
Kapan itu pernah viral, soal jawaban-jawaban Yuni Shara pada para hatersnya yang savage banget :))

Jawaban Yuni Shara pada haters. Demen deh waaaa =)) Image via Tribun Jambi

Tuh, tanggapan wanita pinter dan cerdas tuh gitu. Balikin deh ke komentatornya. Dan, tetap denga sopan.

Jangan malah nyebut “Nyet!”
*masih ngekek* Ya Allah. *shake my head*

Sekali lagi deh ya, jangan balas komen atau nyetatus ketika emosi ya. Ya gitu tuh, hasil keluarannya. Nyat nyet nyat nyet.

Nah, itu cuma 5 hal yang mesti diperhatiin jika kau mau manjat sosial, terus pengin jadi selebgram. Tentu masih banyak hal lain juga yang mesti kau persiapkan. Yang lebih teknis-teknis, kayak ratecard, grafik demografi, email dan nomor WhatsApp untuk dihubungi, dan lain-lainnya.

Semoga ini sanggup jadi bekalmu untuk menjadi seorang selebgram yang bermartabat.

Moral of the story.
Jangan pernah ganggu cewek yang lagi PMS!

Bahaya, cyin. Cewek PMS lagi jalan ketemu batu, yang pindah batunya!

Ya sudah, saya pamit dulu.
Mau cari selebgram berpengikut 600K++ untuk diajak ribut. Biar follower IG saya nambah 3000an lagi.

Kan mayan.