Resign Dari Kantor Dan Jadi Freelancer, Pastikan Punya Beberapa Hal Ini Dulu!

22 views

Beberapa hari yang lalu, aku dicurhatin seorang teman. Sebut saja Mawar. Dia bilang, dia sudah nggak betah lagi kerja di kantornya. Dia merasa nggak berkembang, dan gerah dengan aneka macam intrik kantor.

Mendengarnya berkeluh kesah, tak pelak menciptakan pikiran aku melayang kembali ke beberapa tahun yang lalu. Mungkin sekitaran tahun 2012-2013, ketika aku masih bekerja di sebuah kantor industri kreatif–spesifik lagi yang bergerak di trading dan interior design–di kota daerah aku tinggal.

Sebenarnya, aku nggak ada permasalahan dengan pekerjaan aku di sana. Setiap hari aku sanggup saja menghadapi hal baru. Gara-garanya ya memang aku mesti selalu berpikir kreatif, ditambah lagi Pak Bos yang juga super kreatif. Pagi bilang A, sore eksklusif berubah B. Besoknya balik lagi ke A, kemudian siangnya jadi C. Huahahaha. Tapi ya emang gitu sih, dan aku asyik aja ngadepinnya meski kadang ya kelimpungan. Hihihihi.

Tapi ternyata ada satu dua hal yang menciptakan aku harus tetapkan untuk resign dari sana. Padahal bekerjsama aku itu bukan orang yang simpel mengajukan resign. Saya malas menghadapi dan harus mengikuti keadaan dengan lingkungan baru. Hal itu menciptakan aku untuk mengajukan seruan menjadi part timer saja.

Setelah resign dari kantor tersebut, aku pun bekerja di Stiletto Book. Dari part timer, kemudian jadi full timer lagi. Ternyata, sesudah satu tahun, aku juga merasa mentok lagi. Ditambah kondisi keluarga yang nggak memungkinkan, maka aku pun memberanikan diri untuk meminta jadi freelancer saja. Untung Bu Bos juga setuju. Kayaknya si ia juga tahu jikalau aku merasa gerah jikalau dikurung dalam ruangan. Hahaha.

So, semenjak 2015, aku pun resmi menjadi pekerja lepas.

Memutuskan untuk menjadi freelancer itu nggak simpel lo. Apalagi jikalau mengingat, tadinya kita punya bayaran yang lumayan.

So, mau resign dari kerja dan pengin jadi freelancer aja? Ini modalmu!

1. Tabungan yang cukup

Ternyata, tabungan itu punya tugas penting begitu kita tetapkan untuk freelancing.

Apa pentingnya?

Satu, hari-hari freelancing itu penuh ketidakpastian, bro, sis. Sebulan kadang full, sebulan nganggur. Tergantung jenis pekerjaan freelancingnya juga sih.

Yang pasti, belum tentu kau akan menerima uang gajian rutin. Bulanan.
Makanya, tabungan itu penting. Bahkan semenjak awal kita mulai tetapkan untuk freelance, kita mesti punya tabungan yang cukup buat hidup.

Dua, kadang pekerjaan freelance itu juga butuh modal. Tergantung jenis pekerjaan juga sih. Misal, aku sebagai content writer, nggak cukup cuma baca-baca media online. Saya pun langganan tabloid dan majalah.

So, jikalau kau pas masih kantoran hidupnya boros banget, misal untuk makan aja kau ngabisin 6 juta rupiah kek mbak selebtwit yang onoh, yang lantas bikin kau nggak punya duit tabungan yang cukup, sebaiknya pikir-pikir lagi deh mau freelancing.

Mau jadi freelancer, kudu siap hidup prihatin dan rajin menabung.

2. Sudah punya klien

Hal kedua yang mesti dipikirin yaitu “pasar”.
Akan lebih baik buat kau jikalau ketika kau tetapkan resign dan jadi freelancer, kau sudah punya klien duluan.

Means, ketika kau masih ngantor, seharusnya kau sudah mulai merintis bisnis freelancing kamu. Sudah mulai punya side job.

Minimal, kau seharusnya sudah tahu, ke mana mesti memasarkan jasamu.
Misalnya, kau sudah gabung di Behance, atau sudah jadi member Freelancer.com.

Jadi, jikalau kau gres mikirin, mau kerja apa sebagai freelancer sesudah kau resign dari kerja kantoran, kayaknya kok udah telat.

3. Dukungan dari orang-orang terdekat

Buat yang udah nikah, jangan lupa mendiskusikannya dengan soulmate. Kalau yang belum ya, minta derma dari keluarga lainnya.

Orang-orang terdekatmu itu nantinya sanggup jadi klien-klienmu yang pertama lo. Tentu saja tergantung bidang kerja freelancing kau ya.

4. Peralatan kerja yang cukup mumpuni

Misal kayak mau jadi editor lepas. Nggak mungkin kau ngedit pakai handphone. Kalau nulis, mungkin masih bisa. Pas ngedit, ya sanggup juga sih. Tapi haduh, aku kok nggak sanggup ngebayangin tuh, ngedit pakai hape.

Adakah yang pekerjaan editor lepas, dan ngerjainnya dengan handphone?

Sepertinya minimal mesti punya netbook.
Dan harga netbook kan juga nggak murah.

Buat para ilustrator, spek laptopnya beda lagi. Graphic designer, lebih lagi. Dan semua itu ada harganya juga.

Kalau kerja kantoran, akomodasi akan disediakan kantor. Kalau kurang mumpuni, ya tinggal request. Meski kadang sesudah dikasih ternyata speknya tetap seadanya.


5. Kepercayaan diri

Saya dulu juga masih dalam kondisi nggak pede pas mulai. Sehingga aku mengakalinya dengan mengakibatkan bos aku sebagai klien. Hahaha.

Seandainya udah punya iktikad diri, aku niscaya sanggup eksklusif lepas gitu aja.

Ya, hingga sekarang, aku pun freelancingnya masih yang setengah sih. Ngurusin klien tetap. Nggak benar-benar yang lepas per proyek. Bukan alasannya yaitu nggak pede jikalau kini mah. Tapi jodoh aja.

Seorang freelancer mesti siap untuk networking kapan pun. Makanya mesti punya modal iktikad diri yang tinggi. Selain juga punya portfolio yang meyakinkan.

Ah ya, portfolio.
Kamu juga harus menyiapkan portfolio ya. Dalam bentuk apa pun.


Nah, mau resign kini dan mantap jadi freelancer?

Semangat ya!