Nggak Dapat Beli, Begini Cara Memberi Support Pada Sobat Penulis Buku Tanpa Meminta Buku Gratis

16 views

Suatu hari, ada pesan WhatsApp mampir ke handphone saya.

Her: “Hai, Mbak Carra! Mbak, saya lagi di Jogja lo! Ketemuan yuk!”
Me: “Wah, iyakah? Sampai kapan?”
Her: “Iya, Mbak, saya lagi ada program di hotel X (menyebutkan salah satu nama hotel ternama di Jogja). Sampai besok sih, Mbak.”
Me: “Ya udah, mau ketemuan di mana?”
Her: “Di mal Y (menyebutkan nama mal yang berdampingan dengan hotelnya) saja ya.”
Me: “Oke.”
Her: “Mbak, saya pengin banget deh buku Blogging-nya. Dibawain dong, Mbak!”
Me: “Siap!”

So, agak sorean itu, saya pun ketemu dengan Her. Tentu saja saya bawakan buku Blogging: Have Fun and Get the Money (kamu sudah punya belum? Coba deh, beli jikalau belum punya #selaluadacelahuntukpromosi) itu. Ada yang mau beli, ya masa enggak saya bawain kan?

Singkat cerita, saya ketemuan dengan Her. Obrol sana obrol sini, basa sana bau sini. Sungguh pertemuan yang berfaedah.

Bukunya?
Tentu saja saya sodorkan.

Tapi …
Sampai selesai ketemuan, tidak ada ganti ongkos cetak dan nulis buku yang seharusnya saya terima.
Hahahaha.
HAHAHAHAHA.

Yep, nggak ada.
Apa iya, saya mesti nagih menadahkan tangan, sembari bilang, “Eh, mana uang bukunya?”

YHA KHALI.

Saya pun pulang.
Berusaha ikhlas.

Yah, begitulah. Saya kira, orang umumnya sudah tahu, bahwa butuh banyak perjuangan untuk menulis sebuah buku–buku apa pun itu. Sudah sering saya baca status-status ataupun mendengarkan keluh kesah para penulis buku yang murung alasannya yaitu teman-temannya–yang katanya dekat, akrab, dan mendukung profesinya sebagai penulis buku–yang meminta buku secara gratis.

Tapi saya yakin. Penulis sebesar Dee Lestari dan Tere Liye pun sekali dua kali barangkali juga masih mengalami hal menyerupai ini. Apalagi penulis anonoh macam saya.

Ya, kesannya saya cuma sanggup tersenyum kecut.
Seandainya, si Her tadi dengan terang-terangan minta gratis, tentu saja saya sanggup ngeles. Tapi saya merasa kek dikibulin sih. *sigh* Di situ sedihnya saya.
Bahkan sebetulnya insiden itu sudah luama sekali. Tapi, ya hingga kini saya nggak sanggup melupakannya. Dendam? Nggak juga. Saya sudah mengikhlaskan buku itu. Toh, jikalau dari segi materi, sudah ketutup semua kok dari royalti.
Tapi, bukan di situ masalahnya.

Saya merasa tidak dihargai.

Saya pribadi nggak pernah memaksa teman-teman saya untuk membeli buku saya. Kalau ada yang butuh, ya niscaya kok mau beli. Kalau enggak, ya, saya juga nyadar. Buku itu ada di tingkat prioritas keberapa sih dari orang-orang? Kalau ada sisa uang jajan, ya mungkin sanggup beli buku. Tapi jikalau ada yang lain yang lebih diminati atau diperlukan, ya prioritas buku akan turun lagi.

Cuma ya, nggak gitu juga mainnya.


Puji Tuhan, yang kayak Her di atas itu ya cuma segelintir. Untuk kasus buku Blogging, ya cuma satu orang ini aja sih. Tapi entah kenapa, nusuk amat ya, bok. :)))

Saya juga suka menunjukkan buku saya secara gratis pada orang-orang tertentu. Tapi itu pastinya beda kasus dengan yang di atas. Saya memberi alasannya yaitu saya memang mau memberi. Bukan dipaksa untuk memberi.

So, saya cuma mau kasih beberapa tip nih.

Jika kau punya sahabat seorang penulis, dan kau nggak sanggup ikutan beli bukunya–entah alasannya yaitu apa pun penyebabnya–kamu tetap sanggup kok men-support sahabat penulis kau itu TANPA HARUS MEMBELI bukunya, tapi juga nggak minta gratis.

Begini caranya.

5 Cara untuk men-support sahabat penulis buku

1. Bersedia diajak diskusi

Misalnya temanmu itu masih dalam proses menulis, maka coba tanyakan kabarnya. Kabar bukunya, terutama.

Biasanya sih penulis memang butuh masukan yang nggak menggurui. Hanya sekadar pandangan dari kita yang suka baca buku.

2. Tawarkan diri untuk menjadi first reader

Tawarkan dirimu sendiri untuk menjadi first reader.
Kalau drafnya masih mentah ya cobalah untuk memberi beberapa komentar atau catatan. Akan lebih anggun lagi jikalau sanggup kasih saran.

Tapi kalaupun enggak, yang berupa komen pun akan sangat berharga. Misalnya, untuk novel nih, “Karakter tokoh A menurutku tuh begini begini ya, orangnya?”

Kalau kita sanggup sempurna mendeskripsikannya menyerupai bayangan penulis, maka itu berarti ia sudah baiklah dalam penggambarannya. Kalau meleset, berarti ia jadi punya catatan apa yang perlu diperbaiki.

Untuk nonfiksi, kita sanggup bantuin untuk melihat cuilan mana yang perlu klarifikasi lebih lanjut.

3. Ikut promosi

Nah, meski nggak sanggup beli bukunya, kau sanggup men-support si penulis buku–teman kau itu–dengan cara ikut mempromosikan bukunya.

Gimana caranya?

Ya, sanggup saja. Misal, share saja covernya–biasanya di website penerbit ada tuh dipajang covernya. Bisa kau save as kan, terus posting deh di media umum kamu. Kalau kebetulan kau ikutan baca drafnya sebelum diterbitkan, kau sanggup juga dongeng bagaimana kesanmu ketika baca pertama dulu.

Kamu punya akun Goodreads? Nah, berikan rating deh bukunya di sana. Nggak harus beli ini kan? Hahaha. Kasih aja rating bagus. Wqwqwq.

Atau kau kasih saja dongeng ihwal temanmu itu.

Kalau ada sahabat sirkelmu yang tertarik dan pas dengan kebutuhannya, kan sanggup jadi sanggup info. Kamu nggak beli, tapi kau ikut ngejualin juga kan?

Kamu nggak rugi, dan juga nggak ngeluarin ongkos kan?
Teman penulismu niscaya juga seneng kau promosikan.

Seandainya kau ada waktu, kau sanggup kunjungi toko buku di kotamu. Coba cek deh, apakah buku sahabat kau itu sudah ada di rak buku. Kalau sudah ada, foto, kemudian kirimkan pada temanmu. Atau, pribadi saja posting di media sosialmu, dan tag deh penulisnya.

Biasanya seorang penulis akan seneng banget jikalau ada yang nginfoin bahwa bukunya ada di toko buku tertentu.

4. Ikut hadir di event bukunya

Mungkin sahabat kau itu punya program untuk mempromosikan bukunya? Kamu juga sanggup ikut meramaikan.

Kalau kau nggak sanggup bantu-bantu di persiapan, kau bisa, misalnya, ikut nyebarin banner promo acaranya. Colek teman-teman lain yang mungkin tertarik ikut.

Dan, kau sendiri usahakan juga tiba ke acaranya, entah itu program bedah buku atau talkshow atau book signing.

5. Semangati penulis

Kalau penulis amatir–kayak saya gini–apalagi yang nulis bukunya gres buku pertama, ya pokoknya belum setenar atau seproduktif Tere Liye, Indah Hanaco dkk, maka biasanya si penulis akan secara perlahan karam dalam euforia buku pertamanya tersebut.

Selanjutnya entah deh, sanggup menulis lagi apa enggak.

Karena itu, coba deh, semangati si penulis, agar segera bikin buku lagi sesudah buku yang terdahulu sudah terbit. Coba tanyakan, apakah ia punya niat untuk menulis buku apa lagi, ada wangsit seru apa, dan seterusnya.

See?
Banyak kok yang sanggup kita lakukan untuk kasih support ke sahabat penulis buku, tanpa harus membeli bukunya–meskipun jikalau kau mau membeli sih akan sangat baik adanya.

Saya sendiri selalu berusaha membeli buku-buku yang ditulis oleh teman-teman saya meski banyak dari mereka nggak balik beli buku saya. Ikhlas saya mah :)) Sesuatu, gitu. Kita berguru apa pun dari hidup kan ya? Hahaha.

Dengan cara demikian, saya mencoba untuk ikut andil menghidupkan dunia buku, yang saya cintai ini.

So, btw, sudah pada beli buku Blogging: Have Fun and Get The Money belum? Tinggal dikit stoknya di gudang penerbit ini.

#teteup