Menulis Storytelling Semoga Menarik Dan Tidak Membosankan

Diposting pada 4 views

Artikel storytelling itu nggak akan pernah ada matinya.

Mungkin memang nggak selalu berpotensial viral atau booming (kecuali topiknya memang “sensitif”), tapi artikel tipe storytelling begini biasanya lebih long lasting dan evergreen. Hanya saja, berbeda dengan listicle yang lebih simpel dan yummy dibaca, jikalau membaca storytelling itu lebih riskan membosankan.

Kenapa?
Karena strukturnya yang monoton.

Storytelling ini mau menarik atau enggak, memang tergantung banget dengan keterampilan kita dalam menyuguhkan kisah dan pesan. Dan, saya akui, ini nggak semua orang dapat melakukannya.

Nah, supaya artikel storytelling kita lebih menarik untuk dibaca dan juga enggak membosankan, ada beberapa hal yang memang harus diperhatikan. So far, problema yang sering saya temui dalam tulisan-tulisan yang bermodel storytelling yakni kronologis cerita. Nggak urut, gitu. Dari A ke K kemudian balik lagi ke B, terus ke M. Tahu-tahu Z, dan habis.

Kalau di goresan pena fiksi–cerpen, misalnya–memang ada yang disebut alur maju, alur flashback, dan alur campuran. Alur gabungan ini ya gabungan antara alur maju dan alur flashback. Nah, butuh keterampilan untuk meramunya biar nggak membingungkan pembaca, memang.

Dalam artikel nonfiksi pun, alur itu penting. Jangan hingga kacau, alasannya yakni dapat bikin pembaca pusing. Mesti runtut, meski secara kronologis maju mundur.

Ada baiknya kita kenali dulu beberapa bab dalam goresan pena itu nantinya, biar kita nggak kebolak-balik dalam penceritaannya. Karena alur kisah yang meloncat-loncat akan cenderung menciptakan pembaca galau dan balasannya nggak betah baca.

Bagian-bagian dalam sebuah artikel storytelling

menulislah sesuai dengan kepribadian kita sendiri. Biasanya sih aksara kita sendiri dapat banget menciptakan suatu goresan pena menjadi unik.

Be creative!

3. Pertahankan kronologis cerita

Jika kita bercerita tidak dalam kronologis yang urut, pembaca akan lebih gampang lelah. Mereka serasa diajak melompat-lompat, belum lagi juga ada risiko #gagalpaham yang dapat saja menciptakan pesan yang kita sampaikan tidak terbaca dengan baik.

Jadi, kalaupun mau mengajak pembaca untuk melompat ke adegan lain atau timeline yang lain, berikan “bridge” atau jembatan yang menghubungkan lompatannya.

Hal ini akan menciptakan goresan pena kita jadi lebih mengalir.

4. Pisahkan dalam beberapa bagian

Agar goresan pena storytelling kau tidak membosankan dibaca hingga akhir, ada bagusnya juga kau pisahkan per bab dalam subheading-subheading.

Subheading ini akan membantu kau menstrukturkan kisah sehingga orang-orang tipe fast reading lebih gampang scanning artikel kamu. Karena behaviornya memang begitulah para pembaca Indonesia inih. Scanning dulu, gres kemudian jikalau mereka tertarik lebih, mereka akan kembali ke awal dan membaca dengan lebih saksama.

5. Garnish!

Garnishing ini penting ya, demi menjaga kelelahan pada mata.

Kalau artikel kau yakni artikel perjalanan ya semestinya sih niscaya banyak foto-foto yang dapat ditampilkan. Tapi juga jangan dijejerin doang sih fotonya tanpa ada story-nya.

Tentunya akan lebih baik jikalau kau mengolah foto dan kisah secara sistematis dan yah … yang bercerita gitu. Kalau foto hanya dijejerin doang, tanpa ada cerita, ya … pembaca dapat saja lost.

Jadi, mau foto atau video atau infografis atau jenis konten visual lain memang penting untuk selalu ada, dan usahakan dapat menyatu dengan kisah kamu.

Hmmmm. Memang susah ya, menjelaskan sesuatu tuh. Hahaha. Terus terang, tip menulis storytelling saya ini–saya sadar–juga kok masih kurang.

Ya, pada dasarnya sih banyak-banyak saja membaca dan melihat rujukan menulis storytelling.

Buat saya, the best storyteller masih dipegang oleh Cerita Eka. Udah deh, Eka the best jikalau kisah mah. Jempolan.
Silakan berkunjung ke blog Eka jikalau mau lihat-lihat tulisannya. Ubek-ubek aja semuanya. Ntar kan ketahuan, gimana cara ia meramu kisah hingga kita rasanya diajak Eka jalan-jalan.

Well, selesai kata, selamat nulis! Semoga artikelnya bermanfaat.