Mengapa Kita Hanya Berakhir Menjadi Blogger Medioker?

25 views
Kadang iri, iya nggak sih? Blogger lain pada dapat dapetin job keren-keren lantaran DA/PA-nya tinggi. Yang sebelah sana lagi tuh, dapat jadi influencer lantaran punya follower banyak.
Terus, coba lihat. Barusan ada yang unggah screenshoot Google Analytics-nya. Ckckck. Pageviewnya 20.000 per hari bok!
Kok dapat ya?

Dia kok bisa? Saya kok ga bisa? Kenapa?Saya rajin blogwalking. Saya hadir di tiap event dan acara, bikin liputan juga (meski 2 bulan setelahnya). Saya juga selalu ikutan absen, kalau lagi ada job di-floor di grup/komunitas pasar bajer. Saya juga rajin update blog.
Tapi kok, segini aja ya?Pageview di bawah 100 setiap hari. DA malah anjlok. Belum lagi spam scorenya … hedeh! Nggak usah nanya Alexa juga deh! Ndut bener.
Ada apa dengan blog saya?

Well, bersama-sama saya dapat jawab.
Bukan blognya yang bermasalah.
Mungkin kamulah sebagai blogger, yang bermasalah.
Mari kita lihat.
Saya bukannya menghakimi ya, tapi sejauh sependek pengamatan, kebiasaan jelek ini masih saja saya temui di antara teman-teman blogger saya.
Sedi akutu kalau liat!

Mengapa kita berakhir hanya menjadi blogger medioker?

1. Praktis salah paham

Inget banget pas problem outbound link beberapa waktu yang lalu. Banyak sekali yang dm atau japri saya, dan menanyakan hal-hal seperti:

“Mbak, ada yang nawarin job nih. Aku mesti pasang 3 link keluar. Kira-kira berbahaya nggak ya?”
“Mbak, saya mau posting artikel nih di blog. Tapi mesti kasih link ke blog lain, jumlahnya 11 link. Kira-kira gimana ya?”

Atau sering juga saya menjumpai kalimat seperti:

“Ih, kasih link keluar? Wani piro? Kalau bayar ya, saya mau. Kalau enggak, nggak mau ah! Rugi di kita dong.” 

Sejujurnya, saya duka liatnya. Berarti banyak sobat yang belum paham cara kerja sebuah outbound link, atau external link, ataupun link keluar dari blog kita.
Karena kalau memang paham betul mengenai external link, nggak akan ada pertanyaan menyerupai di atas, pun nggak akan ada pernyataan “wani piro?” itu.
Hingga kemudian berbuah ke ketakutan untuk memberi link dofollow pada rujukan, tapi justru dengan bahagia hati menawarkan link pada mereka yang mau membayar.
Inilah “hasil” dari kesalahpahaman. Kenapa dapat hingga salah paham? Bisa banyak sebab. Mungkin lantaran kurang mau menggali lebih dalam mengenai satu dua hal yang belum dipahami. Mungkin juga nggak menemukan sumber yang dapat dipercaya.
Atau … mungkin lantaran poin kedua berikut.

2. Suka menelan mentah

Kadang kita memang sudah berusaha untuk mencari tahu. Lalu, menemukan sumber.
Tapi sayangnya, kita terbiasa menelan mentah saja apa yang diberikan oleh orang lain.
Terlalu terbiasa “disuapi”. If you know what I mean.
Artikel dari Mas Febriyan Lukito ini menjelaskan maksud saya.
Saat kita disodori informasi, atau tip dan trik blogging–karena kita berbicara soal ngeblog–oleh orang yang kita “anggap” lebih pinter dan lebih tahu, kita pun jadi terlalu penurut. Nggak mau nanya, kenapa begini kenapa begitu pada mereka.
Padahal orang pinter itu dapat saja salah lo.
Akhirnya, informasi salahlah yang kita terima.
Sudahlah infonya salah, dilakuin, terus difanatikin lagi.
Ya ampun. Sedi akutu liatnya. 🙁
Salah satu hal yang mesti diupdate soal SEO–misalnya ya–adalah soal goresan pena harus dibold sana sini. Juga ngasih link ke artikel itu sendiri.
You know what, kini bold font goresan pena itu sudah nggak masuk ke trik SEO lagi. Tahu nggak sih? Nggak ada tuh, yang nangkring-nangkring di posisi pertama Google search ada yang di-bold-bold tulisannya. 
Juga yang dikasih link ke goresan pena itu sendiri itu, buat apa ya?
Orang kini malah pada jengkel kalau ngeklik balasannya balik ke artikel itu lagi.
SEO zaman now itu fokusnya user experience.
Bukan lagi search engine experience. Dilogika aja deh. Dengan di-bold, dapat kasih pengalaman baik apa untuk user? Mana yang di-bold bukan serpihan yang penting lagi.
Logikanya gimana?
Dulu memang, trik ini dapat jadi cukup efektif boost peringkat di Google. Tapi algoritma Google itu selalu berubah. Update dong!

3. Nggak pernah praktik

Ini juga lucu.
Saya sering liat, ada banyak orang berebutan ikut kelas menulis, kelas ini itu, kelas SEO, kelas viral content … apalah apalah.
Pokoknya rajin banget deh ngumpulin teori.
Tapi teori tinggal teori.
Dipraktikkan enggak tuh?
Enggak.

“Iya, kemarin saya ikutan kelas X, Mbak.”“Oh ya? Keren dong. Berarti udah tahu dong, cara nulis artikel yang menarik.”“Hehe. Iya begitulah, Mbak.”

Setelah dibaca tulisannya yang terbaru, ya ampun. Masih gini aja. Banyak kalimat nggak nyambung. Nggak fokus pula, ini ngomongin apa.
Terus tahu-tahu, habis. Lah, bahas apa sih ini?
Yahhh. Saya nggak tahu juga sih permasalahannya ada di mana.

“Wih, kemarin si Y ikutan kelas fotografi lo!”“Oh ya? Keren dong! Gurunya kan si anu yang fotonya emang cakep-cakep.”“Iya!”

Setelah dilihat update Instagramnya, lah … masih muka doang se-frame tanpa ada indah-indahnya sama sekali.
Ya ampun 🙁
Terus buat apa ikut kelas ini onoh, padahal sudah bayar pun?
Nggak tahu saya juga 🙁

4. Kebanyakan alasan

“Aduh, pusing ah, SEO.”

Iya, SEO memang rumit. Tapi bukan berarti nggak dapat dipelajari pelan-pelan kok.

“Aduh, nggak bisalah kalau ngerjain goresan pena sehari harus jadi. Saya orangnya perfeksionis soalnya.”

Yah, memang. Ada aksara yang dibanggakan, tapi bersama-sama nggak banget. Kayak menjadi seorang perfeksionis ini, misalnya.
Bagus sih jadi perfeksionis. Artinya, ia niscaya akan memastikan bahwa hasil kerjanya anggun dan perfect. Tapi sayangnya, perfeksionis kerap juga menjadi “kambing hitam”, padahal bersama-sama yang dilakukan ialah “procrastinating”. Menunda..
Menjadi seorang perfeksionis itu akan anggun jikalau memang lantas dapat menghasilkan karya yang bagus. Tapi jangan lupa, bahwa unsur “kecepatan” itu juga ada dalam syarat “karya yang bagus”.
Kalau dengan menjadi perfeksionis itu menciptakan kita jadi lambat, kayaknya sih jangan dipiara perfeksionisnya yang kayak gitu.
Hanya jadi alasan aja tuh.
Dan, masih banyak lagi alasan lain yang saya dengar, setiap kali saya lagi mentoring blogger.

“Ya, soalnya saya memang masih sesukanya sih, Mbak, ngeblognya. Kan katanya ngeblog jangan dijadikan beban.”

Please catat ya. 
“Jangan dijadikan beban” dengan “mengerjakannya dengan serius” itu beda. 
Lagian, ngeblog masih sesukanya, kok minta DA/PA tinggi sih? Ya, kalau ngerjainnya sesukanya ya DA/PA juga sesuka-suka merekalah :))))
Duh, maaf ya, saya selalu ketawa kalau ada yang ngasih alasan beginian, setiap kali saya kasih tip dan trik menaikkan DA/PA ataupun menaikkan pageview.
Sungguh, jawaban menyerupai ini tuh bukan jawaban seorang blogger serius.
Kalau nggak serius ya, udah deh. Nggak usah berharap blognya melejit juga.
Ingat.
No pain no gain.

5. Nggak fokus

Biasanya kalau sudah ada keseriusan, lantas ada fokus yang mengikuti. Dan kemudian ada konsistensi juga yang akan tiba kemudian. 
Ini sudah dalil.
Coba lihat diri kita sendiri di tengah keriuhan blogsphere ini. Mau apa kita dengan topik yang nyampur aduk menyerupai ini?
Mau dikenal sebagai blogger apa?
Mau dikenal sebagai lifestyle blogger yang sukses?
Sukses di apanya?
Bahkan seorang blogger yang sudah tetapkan niche untuk blognya pun masih harus mencari keunikannya sendiri untuk difokusin kok supaya dapat stand out.
Lalu, apa yang mau kita “jual” dari blog kita yang nggak ada fokusnya itu?
Silakan ditanyakan pada diri sendiri, kemudian dijawab sendiri ya?
Karena “pengin dikenal sebagai blogger apa” ini ialah kunci melejitnya kita sebagai blogger, dan blog kita juga. Ini ialah objektif jangka panjang, untuk memecahkan kotak medioker ini.
* * *
Ya, begitulah.
Kadang kitalah yang membatasi diri kita sendiri untuk berkembang, hingga akhirnya, ketika melihat ada orang lain yang lebih sukses dan berhasil, bikin kita bertanya-tanya.

Kok ia dapat gitu ya? Kok saya nggak bisa?

Bisa kok. Bisa. Semua orang dapat sesukses apa pun yang mereka mau, asalkan jangan membatasi diri sendiri. Batasan itu jangan dirancukan dengan FOKUS ya.

“Yah, Mbak. Nggak apa-apa deh, saya jadi blogger medioker juga. Bisanya cuma segini soalnya.”

Listen to yourself! Baru saja kau menciptakan batasan untuk dirimu sendiri kan?
Dan, kau lebih menentukan menjadi blogger medioker? Fine, itu pilihan masing-masing kok.
Tapi juga jangan nanya, kenapa blog saya segini-segini aja?
Atau, mungkin blog isn’t really your thing.
Berhenti aja ngeblog, cari kegiatan lain yang lebih menyenangkan. Banyak kok! Bahkan lebih menjanjikan!
Buka perjuangan laundry, misalnya.