Mau Ke Mana Jikalau Facebook Mati?

18 views

Ngikutin informasi soal Mark Zuckerberg yang disidang sama Congres di Amrik nggak, soal data pengguna yang bocor dalam skandal Cambridge Analytica?

Perkembangannya agak menggelisahkan–setidaknya buat aku sih, sebagai kuli konten. Ternyata data yang disalahgunakan nggak hanya milik 50 juta pengguna saja, tetapi bermetamorfosis 87 juta pengguna.
Disusul lagi dengan fakta ternyata juga ada 1 juta pengguna Indonesia yang juga bocor dalam kasus yang sama.

Saya sebetulnya juga nggak habis pikir sih.
Soal data yang terunggah ke internet, bukankah seharusnya menjadi tanggung jawab masing-masing user? Jika mereka nggak mau datanya terpakai, ya nggak usah pakai internetlah. :)))

Balik lagi ke soal Babang Mark, aku … tidak mengecewakan ngikutin. Dan so far, aku ikutan harap-harap cemas dengan keputusan Kongres Senat tersebut.

Lah, kenapa?
Emang penting banget ya Facebook buatmu, Ra?

Well, kalau buat eksklusif sih nggak masalah, aku sanggup berekspresi lewat apa pun kok. Tapi soal kerjaan … nah itu.

Oke, aku mau curhat dikit ah, kenapa aku mau nggak mau ikut gelisah akan nasib Mark Zuckerberg.

Mungkin bagi para pengguna “biasa”, artinya mereka yang memakai media umum hanya sebagai media hore-hore, ketimbang cuma nganggur, atau sekadar dijadiin teman nunggu antrean di bank, barangkali nggak akan terpengaruh banyak.

Bahkan Menkominfo, Rudiantara, pun sempat ngetwit, bahwa sekali waktu nggak usah ngakses media umum itu akan baik buat kita.

Betulkah demikian?
Betul. Itu pendapat hampir sebagian besar orang.

Tapi, mari kita lihat dari sisi lain.
Sebenarnya media umum itu kan interaksi antara 3 pihak: pihak komoditi (pengguna), pihak “penjual” yaitu para publisher–si penyedia konten, dan pihak “penyedia lapak” yaitu orang-orang yang bekerja di balik platform media umum tersebut.

Satu sama lain bekerjsama saling membutuhkan.

Sebentar. Pengguna media umum = komoditi?
Iya.
Baru nyadar ya, kalau kamu-kamu semua itu memang “barang dagangan” di media sosial? *smirk*

Saya pernah bahas ini di salah satu artikel yang aku kirimkan ke Mojok.co, ketika aku membahas soal Skandal Cambridge Analytica lalu.

Bahwa nggak pernah ada yang gratis di dunia maya ini, gaes.
Media sosial gratis? Enggaklah!
Kamu harus menukarnya dengan data diri kamu.

Kok bisa? Ya, itu sudah aku tulis di artikel di Mojok itu. Hehehe.
Jikapun ada yang menjanjikan ad-free, tapi niscaya ada sesuatu yang lain yang akan mereka gunakan juga sebagai komoditi. Karena apa? Internet is a business, mylov #terMojok

Mari kita kembali ke Facebook. Setelah klarifikasi aku berikut kau niscaya akan mengerti mengapa kasus Facebook ini sanggup mengancam banyak pihak, nggak cuma bala-bala Mark doang.

Coba aku perlihatkan sedikit statistik Google Analytics dari Rocking Mama, sebuah portal bagi ibu-ibu muda, yang kebetulan banget merupakan generasi Facebook.

User Rocking Mama untuk bulan Maret

Dari data di atas, terlihat bahwa traffic dari media umum memang hanya menempati urutan ke-5 dari pageview yang tiba ke web Rocking Mama.

Nah, mari kita lihat ke bab Social ya.

User yang tiba ke Rocking Mama melalui media sosial

Bisa dilihat ya, yang tiba dari Facebook ada 90% keseluruhan statistik traffic dari media sosial.

Sedangkan untuk jumlah pageview, dari rerata 50K/hari, 4000-nya berasal dari Facebook. Jadi, kalau Facebook mati, maka kami harus siap-siap untuk kehilangan seenggaknya 4K view setiap harinya.

Hedeh.

So, masuk logika kan kini kalau aku bilang, bahwa penutupan Facebook ini sangat menggelisahkan para publisher?

Itu gres Rocking Mama lo. Saya enggak tahu, ada berapa banyak publisher (termasuk blogger) di luar sana yang juga terancam penurunan pageview bila Facebook ditutup.

Means, kami harus memutar otak lagi, menemukan sumber traffic lainnya.

Karena itu, kemarin secara iseng aku ngadain survei ala-ala di Facebook.


Dari hasil sementara pagi ini–saat artikel ini ditulis–sudah ada 47 teman yang sudah baik hati mau ngejawab (abaikan yang jawab Meikarta atau yang nggak serius lainnya). Terima kasih ya.
Persentasenya yaitu sebagai berikut:

  • Yang mau pindah ke Twitter ada 25%
  • Mau pindah ke Instagram 40%
  • Lain-lain 31%
  • Sedangkan yang pengin Facebook tetap ada sejumlah 23%

Kok lebih dari 100%? Iya, soalnya ada yang pilih 2 opsi. Lagi pula, ya aku cuma sanggup mengumpulkan pendapat 47 orang (itu pun yang mau serius jawab. Wkwkwk.). Kayaknya belum sanggup juga sih mewakili banyak pendapat. Tapi ya gitu deh, setidaknya ada sedikit gambaran.

Tapi, kalau aku eksklusif sih rada nggak yakin, kalau Facebook sanggup tergantikan beberapa fiturnya oleh media umum yang ada itu.

Twitter?
Selain status di Facebook sanggup lebih panjang daripada Twitter, lifespan tweet–atau usia tweet biar sanggup terekspos–itu rerata hanya 18 menit, berdasarkan data MOZ. Sedangkan, lifespan sebuah status yang diposting di Facebook itu rerata yaitu 2 jam 30 menit, berdasarkan data Wisemetrics.

Instagram?
Kalau kau yaitu selebgram, lifespan post kau di Instagram sanggup mencapai 48 jam. Tapi kalau kau hanya penggembira ya, paling hanya beberapa menit. Apalagi kalau foto kau tuh nggak elok :)))
Untuk di Instagram, kita butuh kekuatan khusus di visual (yang nggak semua orang punya). Untuk blogger, aku lihat hanya sedikit saja yang memang mumpuni di visual. Lagipula, kekurangan paling besar dari Instagram yaitu kita tidak sanggup memasukkan link hidup ke caption. Link hidup hanya sanggup ditaruh di bio.
API Instagram juga nggak memungkinkan kita untuk menjadwal postingan secara otomatis. Bisa sih dibikin draft dulu, tapi nggak terposting secara otomatis juga. Nggak kayak Facebook yang ada akomodasi scheduled post.

Blog?
Hmmm. Saya belum punya citra sih gimana mensinergikan portal dengan blog. Repost? Kena bahaya double content, beda sama nyetatus di Facebook. Kalau memfungsikan blog sebagai aggregator juga kualitas si blog nggak akan dinilai elok sama Google, which means link yang tiba dari blog justru sanggup “mengancam” keberadaan si portal.
Lagian, blog beda bangetlah sama Facebook, fungsinya beda. Blog lebih ke situs sih, bukan media sosial.

WhatsApp?
Telegram?
Path?
Saya melihat ketiga platform tersebut lebih private ya. Kurang sanggup digunakan untuk broadcast sesuatu menyerupai promosi artikel, kecuali kita mau dianggap annoying.

Lagipula, dengan jumlah pengguna 2.13 miliar setiap bulannya, Facebook masih merupakan raksasa media umum terbesar ketika ini.

Jadi, duh, buat aku Facebook belum sanggup tergantikan dengan yang lain, terutama terkait dengan penyebaran dan promosi artikel/konten (meski aku sempat nyumpah-nyumpahin Facebook juga alasannya yaitu jahat banget sama publisher dengan mengubah algoritma Page-nya. Wkwkwk.)

However, bekerjsama Facebook kini sih sudah menciptakan beberapa perbaikan, yang mereka jelaskan melalui Facebook Newsroom, di antaranya:

  • Facebook Events: kini pihak ketiga tidak sanggup melihat guest list ataupun post di wall events, kecuali admin events.
  • Facebook Groups: pihak ketiga tidak akan sanggup melihat foto dan nama-nama para member grup.
  • Facebook Pages: memperketat API untuk apps
  • Facebook Login: bila kita memakai Facebook untuk login ke situs ataupun apps lain, maka apps tersebut akan lebih dibatasi aksesnya. Mereka tidak akan sanggup melihat data-data menyerupai religious or political views, relationship status and details, custom friends lists, education and work history, fitness activity, book reading activity, music listening activity, news reading, video watch activity, and games activity.
Hmmm … kayaknya sanggup jadi satu postingan sendiri sih ini. Ntar aja deh, yang lain dalam artikel terpisah yah. Wkwkwk. Ya, pada dasarnya 4 itu sih yang paling krusial dan paling penting sekarang.
Yakin banget sih, Facebook niscaya berusaha supaya nggak ditutup oleh pemerintah US. Pekerjanya udah banyak, dan bakalan banyak efek deh ntar bagi para pihak ketiga yang memanfaatkan Facebook ini.
Facebook colaps, ya colaps semua.
Yah. Jadi, kini ya berharap sajalah semua akan terselesaikan dengan baik.
Makanya, Bang Mark. Kemarin jahat banget sih sama publisher, ngubah algoritma sampai impression dan reachingnya menurun gila gitu. 
Jangan jahat-jahat sama publisher ya. Karma lo! #hlah