Kortikosteroid – Prosedur Kerja, Pengaruh Samping Kortikosteroid

61 views
Kortikosteroid – Kortikosteroid berperan dalam metabolisme karbohidrat, lemak, protein, asam nukleat, cairan dan elektrolit, serta tulang dan kalsium. Kortikosteroid diharapkan untuk mempertahankan aneka macam fungsi fisiologis menyerupai tekanan dan volume darah, fungsi otot, gula darah, dan glikogen hepar, kortikosteroid meningkatkan degradasi dan menurunkan sintesa protein di banyak jaringan. Selain itu kortikosteroid menurunkan transpor glukosa ke dalam sel dan meningkatkan pemakaian glukosa perifer.

Kortikosteroid – Efek, Mekanisme Kerja, Efek Samping Kortikosteroid

 Kortikosteroid berperan dalam metabolisme karbohidrat Kortikosteroid - Mekanisme Kerja, Efek Samping Kortikosteroid

Efek lain dari kortikosteroid ialah anti inflamasi dan imunosupresan. Kortikosteroid bekerja sekaligus pada aneka macam kaskade dalam proses inflamasi, yaitu produksi, pengerahan, dan aktivasi dari fungsi efektor. Terhadap produksi dan fungsi imunoglobulin terutama IgG, IgA, dan IgE, kortikosteroid mempunyai imbas supresi yang terjadi maksimal 2-4 ahad pasca pemberiannya dan kembali sesudah kortikosteroid dihentikan. produksi dan pelesan histamin pada basofil dan sel mask juga dihambat oleh korstikoroid.

Hormon ini juga bekerja pada banyak tahap inflamasi dengan imbas simpulan mengurangi gejala, tanda-tanda lokal dan kerusakan oleh inflamasi. Produk nitrit oksida dihambat sehingga dengan menurunnya senyawa ini akan mengurangi edema dan eritema pada sendi dengan inflamasi.
Terhadap leukosit, kortikosteroid bisa mengubah lintas sel tersebut dalam sirkulasi. pada suntikan kortikosteroid sekali secara intravena, jumlah neutrofil mendadak meningkat sedangkan sel-sel lainnya menyerupai limfosit, monosit, eosinofil dan basofil justru menurun. penurunan limfosit disebabkan redistribusi sel ke jaringan limfoid dan sumsum tulang.

Kortikosteroid menurunkan jumlah sel dalam sirkulasi, menurunkan migrasinya ke jaringan inflamasi, dan mengurangi respon sel terhadap aneka macam sitokin. Efek lain kortikosteroid ialah menghambat proliferasi dan kegiatan limfosit, agregasi trombosit, serta metabolisme asam arakidonat fibroblas dan endotel vascular.

Mekanisme Kerja Kortikosteroid

Setelah diabsorpsi, kortikosteroid melintasi membran sel sasaran, diikat reseptor spesifik di dalam sitoplasma dan membentuk kompleks kortikosteroid-reseptor. Kompleks ini ditranslokasikan ke nukleus untuk diikat GCRE (glucocorticoid respon element) spesifik dalam kromatik. insiden ini menjadikan transkripsi DNA yang selanjutnya membentuk protein baru.
Reseptor kortikosteroid ditemukan pada aneka macam jenis sel menyerupai limfosit, monosit, makrofag, osteoblas, sel hati, otot, lemak dan fibroblas. hal ini membuktikan mengapa kortikosteroid memperlihatkan imbas biologis terhadap begitu banyak sel.

5 Efek Samping Kortikosteroid

  1. Kortikosteroid sanggup menjadikan aneka macam imbas samping kompleks sehingga banyak dokter takut memperlihatkan kortikosteroid yang usang dan menetap : meningkatkan gangguan emosi, gangguan penyembuhan luka, resiko abses meningkat, hiperurikaria, katabolisme protein meningkat.
  2. Pada pinjaman takaran tinggi yang kumulatif : osteoporosis, katarak kapsul posterior, atrofi kulit, gangguan pertumbuhan (anak), aterosklerosis.
  3. Eksaserbasi lantaran terapi dengan kortikosteroid (tergantung dosis) : hipertensi, intoleransi glukosa, tukak lambung, akne vulgaris.
  4. Kadang-kadang tergantung takaran : nekrosis avaskular, miopati. perlemakan hati.
  5. Jarang terlihat, tidak terduga : psikosis, pankreatitis, lipomatosis, glukoma, pseudotumor cerebri, alergi kortikosteroid.

3 Prinsip Umum Penggunaan Kortikosteroid

1. Pada pinjaman kortikosteroid sistemik perlu diperhatikan beberapa fase pengobatan, yaitu induksi, konsolidasi, tapering off, dan takaran perawatan.
2. Pada fase induksi, untuk menghentikan inflamasi diberikan takaran awal 1 mg per kg/hari, terbagi 3 kali sehari. kalau terjadi perbaikan disebut sebagai fase konsolidasi, takaran sanggup dijadikan takaran tunggal pagi hari.
3. Bila perbaikan menetap atau tanda-tanda menghilang, takaran selanjutnya dikurangi (tapering off), kalau mungkin dihentikan. Beberapa dokter tidak melaksanakan tapering off, tetapi menghentikan dengan mendadak sanggup menjadikan kembali inflamasi sehingga takaran harus dimulai lagi menyerupai semula. Pemakaian kurang dari seminggu tidak perlu tapering off.
Untuk pemakaian kurang dari sebulan, takaran perlu diturunkan lebih perlahan, contohnya 2,5 mg setiap 2-3 minggu. kalau sudah mencapai 7 mg, penurunan lebih kecil lagi, contohnya 1 mg setiap 2-3 minggu.
Pada beberapa kondisi, kortikosteroid mustahil tidak boleh lantaran akan menjadikan kekambuhan, maka disarankan untuk memperlihatkan takaran perawatan, yaitu takaran sekecil mungkin yang efektif, satu kali setiap pagi.

Zat-Zat Tersendiri :

1. Kortikotropin

Hormon ini diperoleh dari hipofisis babi dan merupakan polipeptida dengan 39 asam amino. lantaran terurai oleh enzim proteolitik maka obat ini hanya digunakan dalam bentuk injeksi.
Penggunaan Kortikotropin
Pada zaman dahulu kortikotropin digunakan pada terapi non spesifik sebagai pengganti prednison (asma, dll) lantaran kurangnya risiko osteoporosis dan atrofi otot, tetapi lantaran imbas sampingnya juga berat kini hanya digunakan untuk memilih fungsi cortex adrenal, contohnya kalau diduga adanya penyakit addison.
Dosis Pemberian Kortikotropin : sebagai diagnostik sc 4 x 10 UI.

2. Desoksikorton

Mineralokortikoid alamiah ini sudah dibentuk secara sintetik pada tahun 1937, terutama digunakan pada insufisiensi adrenal menyerupai pada penyakit addison yang mempunyai tanda : hilang tenaga, letih, otot-otot lemah, umumnya digunakan bersama hidrokortison.
Penggunaan Desoksikorton
Penggunaan desoksikorton bisa sublingual atau parenteral, lantaran peroral bioavailabilitasnya rendah akhir resorpsinya kurang baik.
Dosis : 
Sublingual : 4-10 mg sehari
Im : 25 mg setiap 2-3 minggu

3. Hidrokortison

Khasiat hidrokortison terutama pada metabolisme karbohidrat, protein dan lemak, serta sangat ringan terhadap metabolisme mineral dan air. resorpsinya di usus kurang baik, maka digunakan sebagai injeksi (im dan intra articular) juga secara lokal (salep atau krim)
Penggunaan Hidrokortison
Penggunaan hidrokortison secara lokal banyak digunakan dalam krim (1-2% asetat), juga dalam tetes mata (1%).
Dosis :
Im / iv : 100 – 300 mg larutan
Rektal : 2x sehari 25 mg (pada wasir).

4. Prednisolon

Zat sintetik ini 5 kali lebih besar lengan berkuasa dari kortisol dengan imbas mineralokortikoid yang lebih ringan. berhubung sifat-sifat tersebut, maka prednisolon dan prednison dianggap sebagai glukokortikoid pilihan pertama untuk terapi sistematik.
Dosis :
Oral : 5-60 mg sehari pagi hari, diturunkan 5-10 mg setiap hari
Im atau iv : 25 – 75 mg sehari.
Turunan Prednisolon
  • Prednisone
  • Methylprednisolone
  • Budesonida

5. Medrison

Derivat kortikosteroid ini mempunyai imbas glukokortikoid yang sama dengan kortisol. khususnya digunakan pada tetes mata 1% , pada radang selaput lendir dan selaput bening.
Fluormetolon ialah derivat-fluor dengan daya antiradang 30 kali lebih kuat, juga jarang sekali menjadikan peningkatan tekanan intra okuler, khusus digunakan pada tetes mata 0,1%.

6. Golongan Flukortikoida

Turunan prednisolon ini mempunyai daya glukokortikoid 6-7 kali lebih besar lengan berkuasa dari prednisolon, sedangkan daya mineralokortikoid nya lenyap sama sekali.
Penggunaan Flukortikoida
Lokal : banyak digunakan dalam salep, lantaran lebih manjur dari hidrokortison.
Golongan Flukortikoida
  1. Betametason
  2. Desoksimetason
  3. Dexametason
  4. Fluocortolon
  5. Fluosinolon
  6. Parametason
  7. Triamsinolon