Histamin Dan Antihistamin, Cara Kerja Histamin Dan Antihistamin

133 views
Histamin Dan Antihistamin – Histamin adalah suatu amin nabati yang ditemukan pada tahun 1907 dan merupakan produk dari pertukaran asam amino Histidin. perubahan zat ini berlangsung dalam jaringan-jaringan secara enzimatis.

Histamin Dan Antihistamin

Hampir semua organ dan jaringan mengandung histamin dalam keadaan terikat dan tidak aktif, yang terutama terdapat pada sel-sel tertentu (mast cells). sel-sel tersebut banyak terdapat pada : selaput lendir mata, hidung, jalan masuk nafas, bibir dan kulit.

adalah suatu amin nabati yang ditemukan pada tahun  Histamin Dan Antihistamin, Cara Kerja Histamin Dan Antihistamin

Dari Mast Cell, Histamin sanggup dibebaskan oleh banyak sekali macam faktor, antara lain :

  1. Pengaruh makanan
  2. Pengaruh sinar UV dari matahari
  3. Pengaruh zat tertentu (racun ular, tawon, obat, dan lain-lain)
  4. Pengaruh mekanik atau termal atau cuaca.

Cara Kerja Atau Mekanisme Kerja Histamin

Cara kerja histamin yaitu hampir sama dengan prostagladin, yaitu meneruskan rangsangan-rangsangan tertentu dari mast cells ke sel-sel di sekitarnya. Efek dari dibebaskannya histamin antara lain yaitu sebagai berikut :
  • Kontraksi otot-otot polos bronchi, usus dan rahim
  • Vasodilatasi semua pembuluh darah dengan penurunan tekanan darah
  • Memperbesar permeabilitas kapiler sehingga terjadi udema dan pengembangan mukosa
  • Memperkuat sekresi kelenjar ludah, air mata, dan asam lambung
  • Stimulasi ujung syaraf sehingga terasa gatal-gatal.

Bentuk Kekebalan tergantung dari tugas dari dua jenis limfosit (T-cells dan B-cells), yaitu :

1. Imunitas seluler melalui T-cell (thymus dependent lymphocytes). 

Limfosit ini dibuat di sumsum tulang belakang dan di Aktivasi dalam organ limfoid Thymus (kelenjar kacang). Fungsi T-cells yaitu menyingkirkan semua zat ajaib yang masuk kedalam tubuh, dimana T-cells bermetamorfosis limfoblast atau mendatangkan makrofag untuk memusnahkan “musuh” (zat asing).

2. Imunitas humeral melalui B-cells (bursa dependent lymphocyte). 

Limfosit ini dibuat di sumsum tulang belakang. tetapi aktivitasnya berlangsung di bursa dari fabricius (organ limfoid). B-cells membentuk protein-protein tertentu yang disebut antibodi, segera sehabis zat ajaib (antigen) masuk ke dalam pemikiran darah.
Dapat dibuat 5 jenis antibodi atau immunoglobulin, yaitu tife G, tife A, tife D, tife E atau disebut IgG, IgD, Igm, dan IgE, tergantung dari antigen yang masuk ke dalam tubuh.

Reaksi Alergi Yang Ditimbulkan Oleh Histamin

Bila suatu protein ajaib (antigen) masuk berulang kali ke dalam pemikiran darah seseorang yang berbakat hypersensitive (faktor keturunan), maka B-cells akan membentuk antibodi type E (IgE), yang akan mengikatkan diri pada  mast cells.
Apabila ada antigen yang sama masuk ke dalam tubuh, maka terjadilah penggabungan antara antigen dengan IgE dan mengakibatkan reaksi alergi, yaitu mast cell pecah dan dilepaskan histamin.

Gejala-Gejala Dari Reaksi Alergi :

  • Gatal-gatal
  • Eksema
  • Pilek dan mengembang nya mukosa hidung
  • Mata lembap dan mengembang nya mukosa mata
  • Penyempitan bronchi
  • Reaksi anafilaksis.

Penggolongan Reaksi Alergi :

Alergi Type I (immediate) atau Reaksi anafilaksis

Reaksi anafilaksis yaitu antigen bergabung dengan IgE yang terikat pada mast cells, kemudian mast cell pecah dan dilepaskan histamin, misalnya : asma, alergi terhadap pollen, alergi terhadap obat, alergi terhadap makanan, alergi akhir sengatan serangga, dan lain-lain.

Alergi Type II atau Reaksi Sitotoksik

Reaksi sitotoksik yaitu antigen yang mengikatkan diri pada membran sel jikalau antigen tersebut bergabung dengan IgG atau IgM maka sel tersebut akan musnah (lysis), misalnya leukopenia, anemia, hemolitik.

Alergi Type III atau reaksi arthur atau disebut juga penyakit imun kompleks

Reaksi arthur atau penyakit imun kompleks yaitu antigen bergabung dengan IgM membentuk kompleks yang mengikatkan diri pada antara lain sel-sel ginjal, paru-paru dan sendi-sendi, sehingga terjadi aktivasi dari complement (kompleks protein dalam darah) dan terjadi pelepasan zat-zat toksik. Contohnya : penyakit serum dan lupus erythematodes (LE).

Alergi Type IV (delayed) atau Reaksi Hipersensitivitas Lambat

Reaksi hipersensitivitas lambat yaitu antigen terdiri dari suatu kompleks hasten dan protein, yang bereaksi dengan limfosit yang sudah desensitisasi. Limfosit akan melepaskan perantara aktif sehingga menjadikan reaksi kulit menyerupai ekzema.

Antihistamin

Definisi Antihistamin – Antihistamin yaitu zat-zat yang sanggup mengurangi atau menghalangi efek histamin yang berlebihan dengan memblokir reseptor-reseptor histamin. Dikenal dua jenis antihistamin yaitu H1-blockers dan H2-blocker.

Jenis Antihistamin

1. H1-blockers atau antihistamin-H1 yang memblok reseptor-H1 dengan efek : penciutan bronchi, usus, dan rahim, sensitisasi ujung syaraf (gatal-gatal), vasodilatasi pembuluh, menaikan permeabilitas pembuluh darah, dan lain-lain.
2. H1-blockers atau antihistamin-H2 yang khusus memblok reseptor-H2 dengan efek terhadap hiperseksresi asam lambung.

Penggunaan Antihistamin-H1 :

  • Asma yang bersifat alergi
  • Rhinitis alergi
  • Sengatan serangga
  • Urtikaria (kaligata)
  • Kurang nafsu makan
  • Sebagai sedatif dan hipnotik
  • Penyakit parkinson
  • Mabuk alasannya diperjalanan.

9 Efek Samping Antihistamin

  1. Efek hipnotik-sedatif 
  2. Efek hipnotik-sedatif yaitu yang paling sering terjadi, efek ini terkuat pada prometazin dan difenhidramin dan agak ringan pada d-klorfeniramin dan mebhidrolin serta tidak terjadi pada terfenadin dan astemizol
  3. Efek sentral lainnya
  4. Efek sentral lainnya menyerupai : pusing-pusing, gelisah. rasa letih, lesu dan tremor.
  5. Mengalami gangguan lambung-usus
  6. Efek samping dari antihistamin salah satunya yaitu mengalami gangguan lambung-usus menyerupai mual dan muntah serta diare.
  7. Meningkatkan nafsu makan dan berat badan
  8. Efek samping dari antihistamin yaitu salah satunya dengan meningkatkan impian makan dan diiringi dengan berat tubuh yang meningkat.
  9. Efek teratogenik dari siklizin, meklozin dan klorsiklin telah dibuktikan pada binatang percobaan, sehingga tidak dianjurkan untuk perempuan hamil.

Penggolongan Antihistamin – H1

1. Derivat Etanolamin :

A. Difenhidramin : Benadryl
Antihistamin ini memiliki efek sedatif yang kuat, spasmolitik, anti-emetik, dan antivertigo (pusing-pusing), juga dipakai sebagai obat anti gatal akhir alergi
Dosis :
oral : 4 x sehari @ 25-50mg
i.v. : 10 -50 mg.
B. Dimenhidrinat : Dramamine
Khusus dipakai pada mabuk akhir perjalanan dan muntah-muntah pada waktu kehamilan.
Dosis : oral : 4 x sehari @ 50-100 mg.

2. Derivat Etilendiamin :

A. Antazolin : Antistin
Daya antihistaminnya kurang besar lengan berkuasa tetapi tidak merangsang selaput lendir, maka banyak dipakai sebagai antialergi pada mata dan hidung.
Dosis : 1 -4 kali sehari @ 50-100 mg.
B. Klemizol
Klemizol dipakai dalam preparat kombinasi anti-selesma (apracur-schering) dan salep supp antiwasir (scheriproct, ultraprotect).

3. Derivat Propilamin

A. Feniramin : avil
Zat ini memiliki efek meredakan batuk sehingga sering dikombinasikan dalam obat batuk
Dosis : 3 x sehari @ 12,5 -25 mg.
B. Klorfeniramin
Klorfeniramin yaitu zat yang memiliki dua bentuk, yaitu bentuk – sextronya (dexklorfeniramin) dan bentuk adonan (dl).
Dosis : 
Bentuk-d (polaramin) : 3 – 4 kali sehari @ 2 mg
Bentuk-dl (CTM) : 3-4 kali sehari @ 3- 4 mg.

4. Derivat Trisiklik lainnya :

A. Siproheptadin : Pronicy
Zat ini memiliki efek samping menambah nafsu makan disamping sebagai antihistamin juga banyak dipakai sebagai obat penambah nafsu makan.
Dosis : 3 kali sehari @ 4 mg.
B. Ketotifen : Zaditen
Zat ini memiliki efek stabilisasi terhadap mast cells sehingga dianjurkan sebagai pencegah asma.
Dosis : 2 kali sehari @ 1-2 mg. 

5. Derivat Piperazin

A. Siklizin : Marzine
Zat ini sanggup dipakai sebagai anti-rematik, tetapi alasannya memiliki efek teratogenik, maka semenjak januari 1963 tidak boleh beredar lagi.
B. Sinarizin : Stugeron
Zat ini sanggup dipakai sebagai obat pusing-pusing dan obat indera pendengaran berdengung (vertigo, tinnitus)
Dosis : 2-3 kali sehari @ 25 – 50 mg.

6. Derivat Fenotiazin :

A. Prometazin : Phenergan
Zat ini banyak dipakai pada reaksi alergi akhir serangga dan tumbuh-tumbuhan
Dosis : 3 kali sehari 25 – 50 mg.
B. Isotipendil : Andantol
Zat ini kerjanya lebih pendek dibanndingkan prometazin dengan efek sedatif lebih ringan.
Dosis : 3-4 kali sehari @ 4-8 mg.

7. Zat-zat non Sedatif :

A. Terfenadin : Aldane
Zat ini banyak dipakai pada rhinitis alergi dan reaksi-reaksi alergi lainnya, mulai kerjanya cepat dan sanggup bertahan hingga 8 jam
Dosis : 2 kali sehari @ 60 mg.
B. Astemizol : Hismanal
Senyawa ini berdaya antihistamin besar lengan berkuasa tanpa efek samping sentral, penggunaannya sama dengan terfenadin dengan jangka waktu kerjanya lebih panjang.
Dosis : 1 kali sehari @ 10 mg.

8. Lain-lain :

A. Mebhidrolin : Incidal
Dosis ; 2-3 kali sehari @ 50 mg.
B. Dimentinden : Fenistil
Dosis : 3 kali sehari @ 1-2 mg.