Duh, Dek! Magang Kerja Kurun Gitu?

29 views

Oke, artikel kali ini memang bukan soal nulis konten ataupun ngulik media sosial, tapi saya mau dongeng soal magang kerja.

Beberapa waktu yang lalu, perusahaan penerbitan kawasan saya kerja membuka lowongan magang kerja untuk para dedek mahasiswa. Syaratnya gampang, nggak pake aneh-aneh. Cukup semester 5, terus suka membaca dan menulis. Seterusnya, sanggup diatur.

Magang kerja di kantor penerbitan itu cukup ringan kok. Boleh masuk jam berapa pun, asal memenuhi 4 jam setiap harinya. Boleh dikoordinasi dulu sama Bubos. Soal uang saku, ya lumayanlah ya. Cukup banget buat makan siang di warung. Kalau sanggup menghemat, ya sanggup untuk jajan-jajan ini itu. Kalau sudah selesai masa magangnya, bakalan dikasih merchandise dan buku seabrek-abrek.

Suasana kerja? Yah, sama kayak karyawan yang lainlah. Serius tapi santai.

Kalau kantor penerbitan ini sih sudah beberapa kali mendapatkan mahasiswa magang. Mostly kerjanya bagus, sebenarnya. Bahkan kemarin pas ada program outing bareng sekantor, 2 mantan pemagang ikut diajak rafting di Kali Progo lo.

Tapi yang terakhir kemarin ini lucu.
Kita buka lowongan, kriteria kurang lebih sama.
Oleh Bubos, terpilihlah satu orang. Bukan yang ideal, tapi ya yang paling tidak mengecewakan di antara semua.

Tapi, apa yang terjadi?

Saat ditelepon untuk mengonfirmasi bahwa beliau diterima, beliau menjawab, “Maaf, Mbak. Saya berubah pikiran. Saya mau fokus kuliah aja.”

WTF …
(((berubah pikiran)))

Yang kemudian berbuah saya ngomel di Twitter

Dan, kemudian, si Annpoet ngereply begindang.

Yha!
Ini sih parahbet.

Dan terus, ChiEru nimbrung:

Memang semenjak zaman saya dulu, yang namanya magang kerja atau Kerja Praktik itu kadang cuma dianggap formalitas saja. Kadang sebagai mahasiswa kita nih istilahnya masih belum “butuh uang” banget-banget. Asal masih sanggup makan di warmindo saja, itu sudah cukup. Selebihnya, ya uwislah, buat senang-senang. Mumpung masih muda, katanya.

Padahal, kalau kesempatan magang kerja ini dimanfaatkan sebaik-baiknya, bukan nggak mungkin jadi jalanmu untuk berkarier mulus lo.

Editor buku indie-nya kantor aja mantan anak magang yang alasannya ialah kerjanya manis banget lantas dilamar sama Bubos untuk jadi karyawan tetap. Sekarang, beneran jadi karyawan tetap dan sudah menjadi manager penerbitan!

Think about that, wahai para dedeq mahasiswa!

Memang sih nggak semua menyebalkan, tapi dongeng internship atau para magangers yang menyebalkan ini bukannya jarang saya dengar.

Saat saya masih kerja di kantor usang yang bergerak di industri kreatif desain interior dan furniture expor itu, saya juga pernah ngurusin sepasang magangers.
Dan, saya gres nemu tweet ihwal salah satunya lagi barusan.

Huahahaha. Sampai sebel kek gitu ya?

So, artikel kali ini saya dedikasikan buat kamu, para dedeq mahasiswa, yang pengin magang kerja, atau istilah kerennya intership, dan pengin memanfaatkannya semaksimal mungkin demi masa depanmu sendiri.

Kuncinya ialah pada hari pertama kau mulai masuk.
Seperti halnya ketika seorang karyawan gres di hari pertamanya bekerja, hari pertamamu magang kerja akan menjadi penentu hari-harimu selanjutnya di kantor itu.

So, beberapa hal ini sanggup kau lakukan di hari pertama magang kerja kamu

Klarifikasi ekspektasi perusahaan kawasan kau magang kerja terhadapmu

Apa yang mereka harapkan untuk didapatkan darimu, hasil menyerupai apa yang mereka inginkan?

Tanyakan hal ini pada supervisormu, kemudian negokan jikalau ada satu dua hal yang mungkin tak sanggup kau lakukan.

Tapi jangan semua dinegokan juga. Kamu harus terlihat mau berusaha untuk belajar. Bagaimanapun, dunia kerja itu lebih kompleks ketimbang teori-teori yang kau pelajari di kampus. Bahkan sanggup jadi berbeda 180 derajat.

Jangan bawa semua idealismemu ke kantor

Tinggalkan saja di kampus.

Karena ya itu tadi, dunia kerja itu sanggup jadi jauh berbeda dengan teori-teori yang kau dapatkan di kampus. Pelajaran yang sesungguhnya akan kau terima seiring hari-hari kerjamu berjalan.

Siap-siap saja.

Fokuslah pada keterampilan komunikasi

Inilah soft skill yang tak akan pernah kau pelajari di kampus. Kamu akan menghadapi aneka macam tipe orang di kantor, dan kau harus sanggup mengatasinya semua.

Rasanya niscaya menyerupai barusan keluar dari tempurung kura-kura. Kamu barangkali biasa menghadapi teman-teman mahasiswamu yang asyik dan simpel dibawa santai. Tapi di kawasan kerja mungkin kau akan menghadapi orang yang keras kepalanya kebangetan, atau orang yang cara kerjanya konservatif kuno dengan senioritas yang tinggi dan susah diajak maju, atau mereka yang sok tahu segalanya.

Cara untuk mengatasi mereka semua ialah dengan menemukan cara dan timing yang sempurna untuk berkomunikasi.

Tapi ya enggak semua kayak gitu juga. Kalau kau mendapatkan lingkungan kerja yang memang komunikatif sih … you can consider yourself as lucky.

Jadilah pengamat yang baik

Keterampilan komunikasi yang baik akan sanggup kau capai kalau kau sanggup menjadi pengamat yang baik.

Amati lingkungan kerjamu, terutama bagaimana orang-orangnya saling terhubung satu sama lain, bagaimana mereka berkomunikasi. Kalau kau cukup peka, maka kau akan sanggup menangkap, oh, si bapak ini orangnya begini-begini. Dia paling suka dibeginiin, beliau ga suka begitu. Oh, si mbak yang itu orangnya nganuan, jadi mesti dianuin.

(((dianuin)))

Betul, kerja di sebuah perusahaan itu merely ialah ihwal “ngemong” orang lain. Bukan sekadar momong, ini ialah momong demi kelancaran pekerjaan kita sendiri juga. Jadi, beda ya, dengan “menjilat” or “kissing asses”.

Dengan mengamati orang-orangnya, kau akan tahu bahwa setiap orang itu unik dan memang butuh treatment sendiri-sendiri.

Hal ini nggak bakalan kau terima pelajarannya di kampus. Dan, kalau kau sanggup berbagi soft skill satu ini semenjak kau magang kerja, yaqin deh, kau bakalan jadi orang sukses.
Amin!

Belajarlah untuk bekerja sama

Semua orang di kantor kawasan kau magang kerja itu ialah partner. Meski kau “hanya” magang, tapi kau pastinya nggak boleh cuma magabut–alias makan honor buta.

Jadi, belajarlah untuk bekerja sama. Ingat-ingat, bahwa kau nggak ada di kawasan itu buat ngerecokin orang, tapi untuk menunjukkan bantuan yang sama besarnya dengan yang lain.

Kamu akan mendapatkan banyak ilmu ihwal surviving di kantor yang sebenarnya. Yang di kampus itu, enggak ada apa-apanya.

Seriuslah!

Ya, magang kerja bukan sekadar coba-coba lucu, menyerupai kata Annpoet.

Magang kerja ya kerja. Kamu latihan kerja yang bener, supaya nanti nggak kaget ketika benar-benar mesti cari duit. Dikira simpel apa? Cuma nongkrong di kantor terus digaji? Enggak sanggup gitu.

Kaprikornus PNS aja kini sudah nggak sanggup keluyuran sembarangan kok.

Meski “cuma” magang kerja, tapi anggaplah pekerjaanmu sebagai hal yang serius.
Jangan asal kabur.
Kebiasaan yang jelek itu, Dek. Beneran deh.

Disiplin

Memang kalau kau statusnya masih belajar, para senior juga akan maklum kalau kau masih salah-salah, atau masih belum sanggup memenuhi target.

Iya, kau niscaya masih akan dimaklumi.

Tapi, seenggaknya disiplinlah ketika harus masuk ke kantor. Kalau harus izin atau mungkin kau agak telat masuk, segera kirim kabar.

Kedisiplinanmu menjadi ukuran keseriusanmu.

Di simpulan “masa tugas” nanti, jangan lupa untuk meminta surat rekomendasi pada supervisor atau staf HR atau bos kau di kantor. Surat magang kerja ini laris banget untuk digadaikan ketika kau benar-benar melamar kerja nanti.

Jadi, jangan hingga lupa minta ya.

Nah, Dek, agar tip magang kerja dari Qaqa ini bermanfaat ya. Jangan anggap magang kerja itu sebagai hal yang cuma buang-buang waktu, hingga kau malas-malasan menjalaninya. Magang kerja itu investasi untuk karier kau mendatang.

Jadi, jangan sekadar coba-coba lucu. Ntar jadi beneran nggak lucu.