Berbagai Cara Menerbitkan Buku Yang Perlu Kau Tahu

24 views

“Mbak, gimana cara menerbitkan buku?”

Pertanyaannya cukup mudah ya, kedengarannya? Gimana cara menerbitkan buku? Seharusnya saya sanggup eksklusif menjawabnya dengan, “Ya, eksklusif kirim saja ke penerbit.”
Dan selesai.

Tapi kok rasa-rasanya, itu bukan tanggapan yang sempurna ya?
Jiwa marketing saya mau nggak mau tergugah. Seharusnya saya sanggup memperlihatkan gosip lengkap pada si penanya, from A to Z. Sampai si penanya puas dan nggak ada lagi yang ditanyakan.

Tapi kok ya penyakit saya itu juga menyebalkan; saya suka malas menjelaskan. Huahahaha. Marketing macam apah sayah inih?!

Makanya, mendingan saya tulis sajalah. Kebetulan juga ada kategori gres di blog ini, yakni wacana Penulisan Buku. Eciyeee. Baru nyadar kan, ada kategori ini? Dan gres satu juga isinya. Jadi, mari kita tambah deh isinya hari ini.

Baiklah, mari kita ulas sedikit mengenai cara menerbitkan buku.

Cara menerbitkan buku ini bahwasanya ada beberapa cara, tergantung tujuan kau menerbitkan buku. Setelah beberapa usang saya bekerja di penerbitan, juga bolak-balik menerbitkan buku secara indie, masing-masing cara menerbitkan buku ini punya keunggulan dan kekurangan, yang seharusnya sanggup kita manfaatkan dan pergunakan semaksimal mungkin sesuai dengan tujuan kita menerbitkan buku.

Nah, jadi, sebelum menanyakan bagaimana cara menerbitkan buku, ada baiknya kau definisikan dulu apa tujuanmu menerbitkan buku, buku itu topiknya apa, dan siapa saja sasaran marketnya nanti.

Kalau semua sudah terdefinisikan dengan jelas, maka kemudian kau sanggup menentukan cara menerbitkan buku berikut ini.

4 Cara Menerbitkan Buku

1. Self Publishing

Self publishing berarti kita sebagai penulis juga bertindak sebagai produser.

Kita harus mengurusi buku kita sendiri mulai dari A – Z. Mulai dari menulis bukunya, kemudian editing (kalau merasa kurang kompeten, kita sanggup menyewa jasa seorang editor lepas). Setelah itu, kita harus mencari layouter untuk desain isi buku, atau jikalau mau dilayout sendiri juga boleh.

Setelahnya, kita punya desain kaver yang juga harus dibentuk atau setidaknya kita harus mencari sendiri desainer kaver buku yang cocok, sampai mencari percetakan yang sanggup mencetak buku kau tersebut.

Nah, jikalau pengin bukunya ada di toko buku, kita juga sanggup mencari distributor buku untuk membantu pendistribusiannya. Hasil penjualan biasanya bagi laba dengan distributor.

Hmmm, kapan-kapan kayaknya sepakat juga nih jikalau saya interview salah satu distributor buku biar kasih citra lengkap mengenai hal ini ya. Let’s see deh.

Self publishing ini cocok untuk kau yang pengin menerbitkan buku yang “kamu banget”, dan pengin memegang kendali semua aspek penerbitan sendirian.

2. Indie publishing

Indie publishing, atau penerbitan mandiri–saya pribadi menganggapnya sebagai–“setengah” self publishing.

Jadi, kita sanggup meminta santunan sebuah penerbit indie untuk membantu kita menerbitkan buku, dengan biaya kita. Biasanya sih, si penerbit indie ini akan juga menyediakan jasa editing, desain kaver, cetak, sampai juga sanggup bantuin kita untuk mendistribusikan buku ke toko buku.

Semua biaya tentu saja ditanggung oleh penulis. Hasil penjualan akan dibagi dengan penerbit.

Nah, indie publishing ini cocok buat kamu, yang pengin bikin buku yang “kamu banget”, tapi nggak mau repot urusin ini itu. Biasanya sih penerbit indie ini menyediakan aneka macam macam paket penerbitan yang fasilitasnya beda-beda, dengan harga yang diubahsuaikan pula. Jadi, kau sanggup pilih yang sesuai dengan kantong kamu.

Untuk seluk beluk penerbitan indie, saya pernah membahasnya juga di blog ini. Silakan dibaca jikalau memang tertarik lebih jauh.

3. Mayor publishing

Nah, jikalau cara menerbitkan buku secara mayor sih A to Z-nya dipegang sepenuhnya oleh penerbit, sebagai pihak produser, pemasaran, sampai tetek bengeknya.

Kita sebagai penulis buku harus mengirimkan naskah ke penerbit buku mayor, sesuai dengan syarat dan ketentuan yang sudah mereka tentukan.

Penerbit mayor biasanya akan melaksanakan seleksi, apakah naskah kita layak diterbitkan dan cocok untuk pasar mereka. Kalau di Stiletto Book, lamanya review naskah itu 30 hari kerja, kurang lebih. Kalau lebih dari 30 hari kerja nggak ada tanggapan, maka anggaplah naskahmu nggak lolos. Penerbit mayor lain punya kebijakan sendiri-sendiri juga.

Maka, penting banget buat kau untuk ngepoin dulu si penerbit mayor ini sebelum kau mulai mengirimkan naskahnya. Coba cari tahu: buku-buku apa saja yang biasanya diterbitkan oleh si penerbit, pasarnya kurang lebih menyerupai apa, apa saja syarat dan ketentuan kirim naskah, dan berapa usang kau sanggup menunggu naskahmu di-review.

Please note: Jangan sekali-sekali mengirimkan satu naskah ke banyak penerbit sekaligus via email, apalagi dengan CC, BCC, atau rombongan. Please personalize it. Mostly penerbit mayor nggak suka diperlakukan pasaran begini. Perlakukanlah mereka dengan istimewa. Anggaplah mereka calon bos yang sedang meng-interview kau sebagai karyawan baru.

Setelah dinyatakan lolos dan layak terbit, gres deh proses penerbitan dimulai. emua keputusan ada di tangan penerbit, mulai dari isi buku yang sanggup saja minta direvisi sesuai dengan mau mereka, sampai keputusan pemilihan kaver, semua diatur oleh penerbit.

Kabar baiknya, kita nggak perlu membayar sepeser pun jikalau naskah kita diterima untuk diterbitkan. Kita akan mendapatkan royalti yang besarnya berdasarkan kesepakatan. Biasanya sih antara 8 – 10%, tergantung besar kecilnya penerbit dan juga jam terbang si penulis. Semakin best seller buku-bukumu sebelumnya, royalti sanggup semakin besar.

Pankapan kita bahas mayor publishing ini lebih dalam ya. Karena so far, masih banyak yang nggak mudeng soal mayor publishing ini. Mau jadi penulis kok nggak tahu susila kirim naskah ke penerbit mayor tu ya gimana ya? Ke maritim aja sono.

Sebagai seorang penulis juga, saya sering murung jikalau sempat ngintip kiriman-kiriman naskah ke email Redaksi tu. Entah orang-orang ini saking nggak mudengnya, atau ignorant? Entahlah.

4. Melalui agen

Di Indonesia juga masih jarang nih, biro naskah. Saya sendiri gres tahu 2 biro naskah yang cukup besar. Pengin juga sih main di sini. Hahaha, tapi belum sanggup meraba sistemnya bagaimana.

Kalau di luar negeri, biro naskah ini banyak banget, dan masing-masing punya reputasi yang sanggup dipertanggungjawabkan.

Penulis yang tergabung dalam biro naskah ini boleh mengirimkan draf naskah buku ke agen, kemudian agenlah yang ngider ke penerbit. Atau biro naskah mendapatkan pesanan dari penerbit, kemudian ditawarkan ke penulis yang ada dalam database-nya.

Huhuhu. Beneran, saya pengin jadi biro naskah. Hahaha. Doain ya. Atau, ada yang sudah tertarik untuk saya agenin? #eakkk

Nah, itu beliau beberapa cara menerbitkan buku yang perlu kau tahu. Tentunya kau sanggup sesuaikan dengan kebutuhan, dan juga tujuan kau menerbitkan buku.

Perlu kau ingat, bahwa tidak ada cara menerbitkan buku yang lebih baik daripada yang lain. Masing-masing punya laba sendiri-sendiri, yang sanggup maksimal banget kau manfaatkan jikalau sanggup kau sesuaikan dengan tujuan dan sasaran kau menerbitkan buku.

Semoga bukumu laku ya!