Belajar Gratis Susah, Berguru Tidak Gratis Disia-Siakan – Begitukah Mindset Umum Yang Ada?

Diposting pada 9 views

Disclaimer: Postingan kali ini yaitu postingan curcol, panjang, dan kebanyakan kata ‘saya’. Please skip, kalau tidak tertarik.

Kemarin di sebuah kelas online, saya agak sedikit kesel. Yah, saya tahu sih, seharusnya saya nggak boleh merasa kek gitu. Apalah saya?

Harusnya ya ketika semua penerima sudah melakukan kewajibannya–which is membayar uang pendaftaran–maka dalam bentuk dan kondisi apa pun, mereka harus mendapatkan haknya, yaitu bahan yang sudah saya siapkan. Memberikan bahan seutuhnya dan memfasilitasi mereka berguru yaitu kewajiban saya.

Betul enggak hingga di sini?

Sedangkan, apa hak saya? Menerima kompensasi. Tapi, ini urusan saya dengan pihak inisiator. Biarlah tetap menjadi urusan saya, nggak akan saya bahas di sini.

Tapi bukan itu permasalahannya.

Sejak awal, saya sudah semacam “diperingatkan” oleh partner moderator saya yang baik hati itu–yang sanggup banget ngademin suasana–bahwa kemungkinan nanti yang aktif ya 4L–loe lagi loe lagi. Saya bilang, baik, saya siap. Berapa pun yang mau serius dengan kelas, saya akan tetap profesional menunjukkan materi.

Tapi kenyataannya ….

Belajar itu memang hal yang berat ya, cyint.
Saya ngerasain sendiri dulu pas sekolah. Meski ‘katanya’ saya anak pinter, tapi saya ini bukan tipe anak yang pinter dari lahir. Saya mendapatkan nilai-nilai yang manis (tapi nggak pernah menjadi yang terbaik)–saya pikir–adalah lantaran perjuangan kerja keras berguru setiap malem. Saya banyak bikin rangkuman, saya bikin mindmap (waktu itu sih saya nggak kenal istilah mindmap, tapi saya sudah bikin demi sanggup mengingat dan melogika pelajaran yang saya terima), dan saya rajin ngerjain PR.

Pokoknya kalau nilai ulangan, rapor, dan IP saya bagus, itu lantaran saya kerja keras. Kalau orang lain sih bilangnya saya rajin. Rajin banget. Itu katanya. Kalau saya, saya kerja keras. Saya rasa, rajin dan kerja keras itu beda banget deh. Entahlah. Yang pasti, saya tahu, kalau saya nggak pernah mau punya nilai buruk yang bakalan bikin saya lebih susah lagi.

Ada tuh temen saya, yang kalau ada PR nyalin punya teman, kalau ada ulangan nggak pernah belajar. Tapi beliau tuh ulangan nilainya selalu bagus, dan selalu masuk 10 besar. Ada tuh. Dan bikin KZL sumpah! Saya udah ta belain berguru mati-matian, nilai nggak pernah sanggup ngalahin dia. KZL ZBLnya masih kerasa hingga sekarang, Ferguso. =))

Hingga hari ini, pemahaman bahwa ‘belajar itu berat’ juga saya tanamkan ke anak-anak. Bawelin mereka setiap hari, bahwa berguru itu memang susah. Jangan cuma mau berguru hal-hal yang praktis doang, sedangkan yang susah dimalesin. Bagaimanapun, di sekolah kan kita nggak sanggup menghindarinya.

Pun nanti, ya masa ketika mereka selesai sekolah, mereka akan lari dari kesulitan yang tiba sih? Misal ada A dan B yang harus dituntaskan. Masalah A ngeselin, yang B gampang. Terus yang diselesaikan B doang, yang A dihindari? Saya pikir, kalau anak hingga kek gitu ya jadilah beliau anak tempe.

Belajar memang berat.
Itu pula yang saya alami beberapa tahun belakangan. Profesi saya sebagai freelancer, mengharuskan saya berguru banyak hal secara mandiri. Mulai dari berguru nulis yang baik, berguru bikin desain grafis yang kekinian, hingga berguru teknis SEO (yang dulu amit-amit jabang bayi, saya nggak mau sentuh saking malesinnya). Saya berguru menaklukkan Instagram, berguru jualan dengan kata-kata tapi secara soft selling. Belajar copywrite semoga sanggup bikin konten yang enggak sanggup ditolak orang.


Kenapa semua harus saya pelajari?
Karena saya yakin dan tahu betul, bahwa di luar sana tuh yang lebih dari saya tuh buanyak! Akhirnya balik lagi ke pemikiran ketika saya masih sekolah. Kalau saya nggak berguru dengan keras, saya sanggup nggak naik kelas. Maka, kalau saya nggak mau kalah dari semua orang yang udah pinter dari sononya–apalagi mereka diberkahi juga dengan bahan yang lebih banyak–ya udah maka saya harus kerja keras.

Dan, lantaran saya ini nggak punya modal, maka saya hanya sanggup berguru secara mandiri. Baca artikel-artikel mereka yang lebih pinter. Nanya-nanya sana-sini.

Dan, sadar betul. Karena saya nggak punya uang buat bayar seseorang untuk menjadi mentor saya, maka saya nanya ke orang lain tuh nggak pernah lengkap. Mengapa? Karena ilmu itu buat saya nggak ada yang gratis. Semua ada “harga”-nya. Apalagi ilmu. Mahal lo, ilmu itu. Pikir saya, kalau saya nanyanya dikit tapi pas, ntar ada clue. Maka clue itu yang kemudian saya telusuri sendiri. Dapet deh yang saya cari :))

Makanya kemarin juga ada yang nanya tip untuk menaikkan PV. Saya jawab, yuk, ikutan kelas online. Lalu beliau nanya lagi, gratiskah? Yha! Hahahaha. Kalau mau gratis, kau mesti siap untuk berguru otodidak, Luis Fernando.

Nah, balik lagi ke saya yang nanya orang. Karena nanya nggak lengkap maka dijawabnya juga nggak lengkap dong. Padahal saya kepoan. Akhirnya telusuri sendiri. Terus ngeh. Oh ini begini jadinya begitu. Oh yang itu tuh lantaran alasannya yaitu ini, jadi penyebab ini harus dibikin begono supaya begitu. Dikembangin sendiri. Melalui ribuan trial and error.

Sampai kemudian hingga kini ini. Semua hal yang saya dapatkan tuh gratis. Karena ya, saya cuma sanggup mencuri ilmu. Saya curi ilmunya Mbak Indah Juli, Mas Febriyan Lukito, Langit Amaravati, Jon Morrow, Gretchen Rubin, Darren Rowse, Neil Patel, … semuanya. Mereka nggak sadar juga kali, ilmunya saya serap sedemikian rupa :)) Saya ambil ilmu mereka, kemudian dipraktikkan. Diutak-atik sendiri, hingga ketemu formulasi yang paling sesuai untuk saya terapkan sendiri.

Hukumnya tuh berlaku. Kamu mau gratis, maka perjuangan lebih ekstra. Kalau kau nggak mau perjuangan ekstra, berarti kau mesti punya sesuatu untuk “ditukarkan” dengan kemudahan itu.

So, lantaran pengetahuan yang saya dapatkan itu gratis semua, maka semua juga saya catat di sini. Teman-teman sanggup mendapatkannya dengan cara yang sama dengan saya; dibaca, dipraktikkan sendiri, diutak-atik sendiri, disesuaikan, kemudian akan ketemu formulasi yang pas. Trial and error itu sudah pasti.

Gratis? Gratis. Catatan saya selama belajar, semua ada di blog ini. Saya catat juga bukan buat apa-apa, tapi saya pelupa! Saya nggak mau nanti terjebak dulu saya nggak bisa-belajar-lalu bisa-sekarang lupa. Ini mah malesin amat :)) Maka, semuanya saya catet di sini. Ada yang mau memanfaatkan, silakan. Tapi ya itu tadi, mandiri.

Makanya, saya selalu angot-angotan sebetulnya ketika diminta untuk bikin kelas atau jadi mentor. Coba tanya Mas Ryan, Mas Dani, atau Mbak Indah Juli deh. :)) Maaf, saya nggak sombong, songong etc. Tapi lantaran semua yang saya tahu itu sudah saya catat di blog ini. Gratis ini. Ya, paling butuh kuota sih buat ngakses ya? Hahaha.

Emang ada orang yang mau bayar saya buat ngasih bahan yang sebetulnya sudah saya berikan gratis? Sungguh, saya nih bukan tipe orang yang suka memanfaatkan ketidaktahuan orang lain untuk kemudian diubah menjadi sesuatu yang akuntabel menyerupai duit. Makanya, mentoring tak pernah ada dalam rencana saya untuk monetasi blog. Karena saya sadar penuh, bahwa yang saya ketahui kini itu belum banyak.

Eh lhah, ternyata ada yang mau ya? :))))))


Saya yang tadinya males-malesan mentoring hasilnya ya “termakan” rayuan pihak inisiator kelas online itu. Hahaha. (tapi saya hormat lo, sama sang inisiator ini. Warbiyasak banget!) Akhirnya bikin kelas berbayar. Bikin berbayarnya juga dengan alasan, supaya orang lebih serius mengikuti bahan dan praktik langsung.

Saya heran banget. Sampai sekarang.
Ada ya, yang mau bayar saya buat jadi mentor? Ahahaha. Sungguh nggak layak deh. Rasanya masih gamang aja gitu hingga sekarang. Padahal 1 kelas pemula sudah selesai, dan kini kelas kedua sedang berlangsung.

Sampai kini tuh, saya masih takjub, ini pada beneran mau bayar saya? O_O

Makanya, ketika saya menemukan kalau ada yang menyia-nyiakan kesempatan untuk berguru itu saya jadi KZL sendiri. Mungkin juga lantaran saya baperan sih. Inget, saya dulu susah lo dapetin formulanya. Ini tinggal saya deliver aja, terus pada cobain. Misal nanti ada ketidaksesuaian ya kan logikanya jalannya enggak terlalu panjang.

Hingga kemudian pagi ini, saya menemukan goresan pena Mbak Ainun Chomsun di blog Akademi Berbagi ini.

Saya menghela napas. Ternyata ada yang lebih parah.

Ini sih istilahnya sudah disuapin aja nggak mau makan. Padahal ya, udah nggak perlu nyari “makan” sendiri, disediain, disuapin pula. Masih saja ada yang susah untuk belajar. Maunya, disuapin, makanannya lezat dan yang kekinian, disuapin sama Raisa, terus pulang dari disuapin masih minta oleh-oleh.

Hvft.
Sungguh, saya miris. Ini sebetulnya yang butuh ilmu siapa sik?

Heran.

Beginikah mindset kita mengenai proses belajar? 🙁 Pantas saja ya cuma begini-begini aja ya? Sedih akutu.

Tapi kemudian saya sendiri tertampar di alinea kedua. Akhirnya saya bertanya pada diri sendiri. ngapain ya, saya kesel sama penerima kelas online-nya? Ya, mungkin saya kesel lantaran saya merasa mereka menyia-nyiakan kesempatan berguru yang saya rasa lebih praktis ini–yang enggak sanggup saya dapatkan.

Tapi, hal tersebut seharusnya enggak boleh menyurutkan semangat saya.

Lihat, yang gratisan aja punya semangat kek gini. Saya? Aduh, saya aib sekali. Seharusnya berapa pun yang terlibat aktif itu nggak mengendurkan semangat saya, bukan? Tapi ya gimana ya, saya hanya merasa, duh sia-sia banget sih, udah bayar.

Saya pribadi mah, mau pada aktif atau enggak, saya mendapatkan jumlah yang sama :)) Ini kalau kita mau itung-itungan bahan ya–which is rada malu-maluin sih. Tapi kan, kita harus realistis. Udah investasi lo ini, masa nggak sanggup deviden apa-apa? Iya nggak, Mas Dani? Saya mikirinnya dengan bangun di sepatu para penerima inih.

Tapi saya masih ada cita-cita sih. Bahwa meski tak semua aktif, tapi semoga pada nyimak. Mereka mau mengunduh materinya, dan kemudian nanti kalau memang mereka sudah longgar, mereka sanggup memraktikannya sendiri.

Semoga.