Begini Caranya Menghasilkan 20 Artikel Dalam Seminggu

Diposting pada 4 views


DISCLAIMER:
Monmaap sebelumnya. Postingan ini mungkin akan terdengar (terbaca) sedikit narsis dan sombong. Tapi, percayalah, saya nggak bermaksud begitu. Pada selesai artikel nanti, saya harap kau dapat menyimpulkan bahwa, bila saya bisa, maka kau pun dapat melakukannya. Karena saya juga orang biasa. Kamu–saya percaya–juga orang biasa. Apa yang saya lakukan, seharusnya dapat juga dilakukan oleh semua orang.

Dalam beberapa kali workshop, saya sering ditanya, “Mbak, berapa banyak Mbak Carra dapat menghasilkan goresan pena dalam sehari?”

Di workshop Asyiknya Menulis Nonfiksi bareng Stiletto Book yang kemudian juga ada yang nanya, “Mbak Carra kan ngedit. Terus bila editan mungkin nggak memenuhi jumlah kuota, Mbak Carra kan harus nutup. Gimana caranya membagi waktu antara editing dan menulis tersebut?”

Dan kemudian, ada komen di artikel yang lalu. Bertanya juga, “Time managementnya gimana siih mbaa caraa kok dapat nulis banyak banget?”

Kalau ada yang nanya eksklusif secara personal, biasanya sih saya cuma cengengesan. Atau malah mengalihkan topik ke hal lain.

Kenapa? Karena saya jengah sebetulnya ditanya menyerupai itu. Kek nyombong :))) Pada akhirnya, bila saya jawab pun, si penanya selalu berakhir dengan tatapan nggak percaya :)))) Saya males dan nggak tahu mesti nanggapin bagaimana. Hahaha. Maafkan.

Tapi bila di forum, ya terpaksa saya jawab.

Saya sehari ngedit 4-5 artikel. Kalau kuota kurang, maka saya mesti menutup dengan artikel yang saya tulis sendiri. Kadang saya nulis berdasar trending, kadang saya keluarin saja tabungan artikel saya. FYI, saya punya bank artikel yang dikala ini sih sudah mencapai 170-an artikel.

Wuah, banyak!!!
Iya. Karena saya dulu bekerja keras “nabung”. Sekarang tinggal saya keluarin saja satu per satu, sambil nulis lagi tapi sudah nggak seheboh dulu.

Dulu, saya menargetkan diri saya sendiri untuk menulis 10 artikel per ahad untuk simpanan darurat.

Nah, kan? Pasti kini muncul pertanyaan, 10 artikel per minggu? Kok bisa?
Iya, bisa. Pakai seni administrasi dong. Wkwkwk.
Bahkan saya pernah menghasilkan 20 goresan pena seminggu :))

Begini cara saya menghasilkan banyak goresan pena dalam seminggu

Image via BrainyQuote

1. Sugesti diri

Saya menghipnotis diri saya sendiri. Setiap kali saya merasa malas, saya akan daraskan mantra ini.

Ciyeh … (((daraskan))) …

“Saya yaitu penulis. Saya mau hidup dari menulis. Maka, saya harus menulis setiap hari. Seperti halnya yang jualan angkringan di sana itu. Dia jualan setiap hari, supaya makan. Juga para penyapu jalan, mereka harus nyapu di jalan supaya dapat makan. Saya mau bekerja sebagai penulis, maka saya pun harus menulis setiap hari. Seperti halnya orang kantoran yang kerja setiap hari.”

Mantra itu terbukti manjur buat diri saya sendiri. Karena mantra itu, maka saya pun dapat menciptakan waktu untuk bekerja setiap hari. Bekerja dengan menulis.

Di situlah mungkin bedanya.
Ada yang menulis hanya sebagai pengisi waktu luang. Salahkah itu?
Enggak. Nggak salah sama sekali.
Tapi, ya, beda dengan mereka yang menyebabkan menulis sebagai pekerjaan. Saya termasuk dalam “golongan” ini. Saya tanamkan disiplin diri, dan sugesti bahwa bila saya nggak nulis, maka saya nggak makan.

Temukanlah mantramu sendiri, untuk menghipnotis dirimu sendiri biar dapat menciptakan waktu untuk menulis.

2. Jangan anggap beban

Saat sudah percaya, bahwa pekerjaan saya yaitu penulis, maka kemudian jangan jadikan hal tersebut sebagai beban.

Confucius bilang, choose a job you love, and you will never have to work a day in your life.

Maka demikianlah. Saya sudah menentukan pekerjaan yang saya sukai. Maka, saya pun tak menganggapnya sebagai beban.

Harap bedakan dengan “menganggap sebagai beban” dan “bekerja dengan serius”.

Saya tak pernah menganggap ngeblog dan menulis sebagai beban, tapi saya sangat serius melakukannya.

Maka kemudian saya pun selalu menikmati setiap proses yang harus saya lalui dikala akan menghasilkan tulisan. Tulisan apa pun itu; goresan pena di blog, goresan pena di media lain; pun goresan pena di buku.

Hidup saya itu memang merely about goresan pena :)))))

beberapa tools yang dapat kau gunakan untuk menyimpan inspirasi menulis atau untuk bookmarking ini.

Ini hanya salah satu cara untuk membangun idea bank. Ada banyak cara, dan saya sering bahas di blog ini. Search aja: how to build your idea bank.

Nah, selain 5 cara di atas, jangan lupa untuk istirahat. Saya ngerasain banget nih, waktu dulu saya pernah kerja secara barbar.

Pada dasarnya, saya itu memang workaholic. Saya orangnya rela mengurangi tidur demi kerjaan beres dan melampaui target. Tapi nggak pernah rela mengurangi makan atas nama diet #eh
Maka, sehari saya paling pol tidur cuma 3-4 jam. Kek gitu terus bertahun-tahun.

Tapi ternyata itu merusak kesehatan, sodara-sodara!

*Orang udah pada tahu kali, Ra. Elunya aja yang bebal.*

Maka, saya pun mengubah ritme. Puji Tuhan. Waktu masih barbar itu, saya sering sakit, kini sudah lebih baik. Nggak kumat ini itu. Itu alasannya yaitu saya menambah jam istirahat saya, jadi 8 jam sehari.

Ternyata mengurangi tidur itu nggak sehat!

Yaeyalah.
*kena toyoran dari aneka macam penjuru*

Jadi, istirahat itu juga harus dimasukkan dalam jadwal sehari bekerja. Istirahat cukup terpenuhi, ternyata produktivitas juga berbanding lurus.

Well, I’m still working on it sih, untuk menjaga kesehatan. Karena makin sehat kita, makin produktif pula kita jadinya.
Yang masih PR banget yaitu menemukan waktu buat olahraga nih.

Huffft!

So, itu ia beberapa hal strategic yang bikin saya dapat menghasilkan goresan pena yang banyak dalam seminggu.
So far saya masih tetap dapat menghasilkan antara 15 – 20 artikel dalam seminggu. Sebenarnya, di luar sana, banyak penulis yang dapat menulis lebih dari 20 artikel dalam seminggu. Sering saya lihat, sasaran menulis 5-7 artikel/hari. Berarti bila dihitung, berapa tuh dalam seminggu? Lepas dari kualitas lo ya.

Makanya, sebetulnya saya ini masih B aja. Belum luar biasa. Itu juga tergantung panjang pendek, kesiapan materi, tingkat kesulitan, dan mood juga! :)))

Iya, segitu itu saya masih kadang alasannya yaitu nggak mood. Masih sama kan? Masih moody.

So, bila saya bisa, kau niscaya juga dapat 😉

Keep writing!