Beberapa Tip Blogging Yang Sudah Ketinggalan Zaman

Diposting pada 10 views

Dari dulu saya suka banget membaca banyak sekali tip blogging dari siapa pun. Buat apa? Ya, supaya acara blogging saya makin ngehits-lah. Saya kan pengin femes. #eakkkk. Ya, nggak cuma segitu aja sik. Femes-nya itu biar dikenal orang sebagai penulis, nanti efeknya buku-buku saya banyak dibeli, saya banyak dimintain tolong buat nulis ini itu, gitu.

Memang sedari awal saya come-back *halah* ke dunia blogging tahun 2010-an, niat saya memang akan mengakibatkan blog sebagai portofolio. Jadi, gimana caranya kan untuk menciptakan portofolio saya ini moncer.

Maka, saya rajin memburu tip dan ilmu perbloggingan. Setiap orang yang punya goresan pena untuk melejitkan blog, niscaya saya baca. Nggak berenti dibaca doang, saya pun praktikkan.

Semakin ke sini, perkembangan dunia blogging pun semakin luar biasa. 8 tahun saya mengakibatkan blog sebagai portofolio, banyak banget tip blogging yang ternyata sudah nggak berlaku lagi. Sudah so old fashioned, sudah ketinggalan zaman.

Inilah kenapa kita–kalau mau sukses ngeblog–mesti selalu update dengan perubahan. Saya akui, perubahan kadang SUCKS!

Lihat saja Google, berkali-kali mengubah algoritmenya. Iya sih, mereka menciptakan perubahan supaya service-nya lebih baiklah dan berkualitas. Tapi tak urung, perubahan itu menciptakan saya–yang di sini sebagai publisher, orang yang memproduksi konten–jadi cukup kelimpungan.

Lalu, Instagram, yang secara tak eksklusif juga besar lengan berkuasa ke kegiatan blogging kita. Instagram benar-benar banyak berubah semenjak pertama kalinya diluncurkan.
Beberapa hal memang menciptakan lebih nyaman, tapi banyak hal lain bikin para pemroduksi konten juga kewalahan.

Belum lagi pergerakan acara blogging sendiri yang semakin ke sini juga semakin banyak perubahan.

Anyway, balik lagi ke soal tip blogging.
Zaman sudah berubah. Tapi, beberapa tip blogging yang sudah ketinggalan zaman ini masih sering saya lihat wira-wiri di sana-sini. Dan, somehow, saya sendiri sudah tak “menganut” beberapa tip blogging yang sudah ketinggalan zaman ini. Selain, sudah tak relevan lagi, saya sendiri juga sudah nggak mencicipi imbas apa pun dari beberapa tip blogging berikut. Malah justru ada beberapa yang kini sudah membahayakan.

Saya sih bukannya menyarankan teman-teman untuk tak lagi melaksanakan beberapa tip blogging berikut. Mungkin masih ada yang menyahihkannya. Saya nggak punya hak untuk melarang kan ya? Siapalah saya. Hanya saja, bolehlah dipikirkan kembali efeknya. Jangan-jangan malah membahayakan acara blogging kita, atau buang-buang tenaga saja.

Karena buat saya, ada beberapa di antaranya sudah tak efektif lagi sekarang.

Beberapa tip blogging yang sudah ketinggalan zaman

1. Setiap goresan pena akan menemukan pembacanya sendiri

Dulu saya sangat mengamini dalil ini. “Setiap goresan pena akan menemukan pembacanya sendiri.”

Rasanya, dengan kalimat ini tertanam di pikiran, saya lantas sanggup merasa ayem, nyaman. Dan selanjutnya, kita tinggal menulis saja terus sesuai dengan apa yang kita yakini.

Tapi semakin ke sini, saya semakin tak sanggup meyakini lagi kalimat ini 100%.
Okelah, semisal memang naskah buku yang dikirimkan ke penerbit atau media, mungkin, punya takdir sendiri nanti cocoknya di mana. (Itu saja saya sendiri masih nggak sreg. Pasrah amat sik? Hahaha.)

Tapi tidak dengan blog.

Setiap goresan pena blog akan menemukan pembacanya sendiri?
Kapan? Seberapa?

Padahal setiap hari ada proposal job yang mensyaratkan pageview sekian, DA sekian, PA seanu, dan seterusnya. Saat job sudah diterima pun, ada laporan statistik yang harus kita serahkan, bukan?
Kalau nggak mencapai target, kita akan “terancam” nggak akan digunakan lagi dalam campaign berikutnya.

Kalau seumpama benar “setiap goresan pena akan menemukan pembacanya sendiri”, kita pastinya nggak perlu hingga memasukkan artikel kita di setiap BW list yang ada di komunitas-komunitas kan?

Itu gres soal goresan pena di personal blog.

Lebih kejam lagi di portal. Coba portal mana yang menganut “kepercayaan” ini?

Ibaratnya, kita jualan es krim di kampung orang Eskimo. Boleh kan? Boleh dong! Ntar juga niscaya akan ada yang butuh kan? Setiap “dagangan” kan akan menemukan pembelinya sendiri?

Really? Es krim? Dijual di antara orang Eskimo?
Yeah right.

So, kalimat “setiap goresan pena akan menemukan pembacanya sendiri” ini, buat saya pribadi, bekerjsama cuma bentuk ngayem-ayemi diri sendiri sih. Hahaha. Supaya lebih semangat nulis terus.
Ya baiklah deh. Kita memang harus semangat nulis terus.
Tapi, jika mau ada hasil yang riil–artinya, nulisnya bukan lagi sekadar hanya untuk pengisi waktu luang–kayaknya jangan kebiasaan pukpuk diri sendiri terus kayak gini. Kita nggak akan ke mana-mana. Stay di tempat.

Kita mesti cari cara, gimana meningkatkan kualitas tulisan, dan kitalah yang harus mencari pembaca. Mengajak mereka untuk tiba dan baca goresan pena kita.

Dengan apa? Yah, sudah banyak sih yang saya catat so far. Boleh percaya boleh enggak juga kok. Saya mah bebas

2. Blogwalking untuk traffic

Blogwalking untuk menjalin relasi dan networking, saya masih percaya cukup efektif. Sampai sekarang, ini masih berlaku.

Tapi blogwalking untuk ngeboost traffic?
Kecuali dilakukan dalam sebuah blog pod, rasanya mengharap traffic tiba dari blogwalking itu kok ya nggak seberapa ngefek kini ini.

Blog pod itu sebutan untuk sekumpulan orang yang “bekerja sama” untuk ngeboost traffic bersama-sama. Itu loh, yang biasa dilakukan jika ada job atau lomba, saling balas blogwalking dan komen. Bahkan ada komunitas yang mewajibkan anggotanya untuk saling BW kan ya?

Kalau dalam sebuah blog pod, maka kemungkinan sih sanggup boost traffic, tapi masalahnya, sanggup hingga seberapa? Ya sebanyak yang tergabung dalam blog pod itu saja tampaknya kan? Yang komen juga orang-orangnya yang dalam kelompok tersebut.

Nggak ada yang salah dengan hal ini sih. Namanya juga usaha.
Yang saya pertanyakan hanyalah, seberapa imbas marketing sanggup didapatkan dari blog pod ini?
Kalau orang-orangnya hanya mbulet saja di situ, apakah so-called-brand-awareness dari pihak klien ini sanggup tercapai KPI-nya?

Ini logika saya saja sih. Bisa jadi salah. Jadi, silakan lo, jika ada yang sanggup jawab pertanyaan saya. I will be glad to discuss, alasannya yaitu ini hal yang sangat menarik 😀

FYI, Instagram pernah juga membahas mengenai Instagram pod. Metodenya sama. Berkelompok untuk saling like, follow dan komen. Facebook–sebagai bapak perusahaan Instagram–bahkan nge-ban beberapa grup Facebook alasannya yaitu terkait Instagram pod ini.

Update:
Saya bukannya antiblogwalking. Saya juga masih blogwalking kok. Tapi saya melakukannya dengan ikhlas. Supaya apa? Supaya nggak ada niatan diblogwalkingin balik, hanya alasannya yaitu kita sudah BW ke blog orang lain. Saya melakukannya alasannya yaitu saya memang pengin baca blog orang–terlepas saya ninggal komen ataupun tidak. Dengan begini, jika ada yang nggak BW balik ke blog saya, saya pun nggak baper.

3. Share masif di  media umum untuk traffic

Nyatanya, share apa pun secara masif di media umum kini ini justru berbuah suspend atau ban.

Masih ingat banget beberapa waktu yang lalu, banyak bloger yang mengeluh kena semprit di Facebook. Rerata dari mereka bilang, jika mereka susah untuk komen. Bahkan komen biasa pun di-mark as spam sama Facebook.

Setelah ditelusuri, ya pantas sajalah kena sempritan. Mereka spamming di Facebook, alih-alih sharing.

Dan kemudian belakangan, banyak pula pengguna Twitter tiba-tiba raib. Ternyata akunnya kena suspend sama Twitter. Meski banyak juga yang kena suspend tapi mengaku tak melaksanakan kesalahan apa pun, tapi tampaknya sih, alasan suspend terbanyak yaitu alasannya yaitu spamming dan hashtag abusing.

Lalu, kasus Instagram kemarin juga sempat membuah heboh dunia perbloggingan dan dunia per-so-called-influencer-an.

Saya sendiri beberapa kali mengamati. Saat saya sharing link di komunitas baik di Facebook maupun Twitter, kok ya naiknya tak terlalu signifikan. Lebih signifikan dikala saya share saja di beranda sendiri ataupun timeline sendiri, tetapi secara berulang, periodik, dan simultan.
Mungkin berbeda sih dengan orang lain ya. Saya nggak tahu dengan pasti.

4. Hanya mengandalkan lapak orang

Memang salah satu hal yang harus kita lakukan dalam ngeblog yaitu mempromosikan blog di media sosial.

Hanya saja, semakin ke sini, media umum saja tidak cukup.
Ingat apa yang terjadi di Facebook, Twitter, dan Instagram?
Perubahan sedikit saja pada algoritma mereka bikin kita kewalahan.

Lalu, Google.
Saat sedikit saja Google mengubah kebijakannya, kita pun heboh sendiri mencari tahu apa yang sanggup dilakukan lagi untuk “menyiasati” Google.

Oh, sungguh melelahkan, cyint. Hahaha.

Berkali-kali saya kemudian ingat kalimat yang ditulis oleh seorang bloger luar (siapa namanya, saya lupa. Maafkan. Waktu itu saya sedang riset untuk perubahan algo Instagram, dan lupa mencatat siapa yang mengatakannya).

Don’t build your palace in someone else’s sandbox.

Karena begitu sandbox-nya kena tsunami, ya udah deh, “istana” yang kita berdiri di situ ya niscaya kena efeknya.

Lalu gimana seharusnya?
Untuk saya sendiri, penginnya ya kita sanggup build readership kita sendiri. Melalui email list misalnya. Tentu saja, kita nggak sanggup hanya semata-mata minta email pembaca blog begitu saja.
Kita harus punya sesuatu in return. Kita harus menawarkan sesuatu pada mereka.
Sesuatu menyerupai apa?

Nah, itu sih silakan dipikirkan sendiri-sendiri :)))

Dengan punya massa sendiri begini, mau media umum berubah algo kayak gimana pun, paling tidak kita masih sanggup punya backup sendiri.

Ya, saya sendiri hingga kini masih belum sanggup me-manage email list dengan baik, meski saya sudah punya tidak mengecewakan subscribers. Huhuhu. Maafkan saya.
Semoga saya sanggup segera menciptakan waktu untuk mengurusi Anda yang sudah berbaik hati menawarkan email ya.

I promise!

5. Outdated SEO: link ke artikel itu sendiri dan bold/italic

Dalam praktik SEO sendiri ada beberapa hal yang sudah tak lagi saya lakukan sekarang.

  • Menyematkan tautan ke artikel itu sendiri. Ya, dulu tip ini memang disarankan oleh banyak mastah. Misalnya, ada artikel “tip blogging untuk pemula”, maka harus ada 1 kata kunci “tip blogging” yang ditautkan ke URL artikel “tip blogging untuk pemula” itu sendiri. Entahlah, saya lupa kenapa harus begitu. Tapi, kini langkah ini tak pernah saya lakukan lagi, alasannya yaitu saya juga tak tahu apa efeknya kok harus ngelink ke artikel itu sendiri. Yang ada, jika saya menjumpai tautan jenis ini malah jadi sebal, alasannya yaitu saya kira bakalan ada gosip lain di artikel lain, eh ternyata balik situ maning balik situ maning. Hedeh. Ternyata hal ini juga diamini oleh beberapa mastah SEO lain. Makara ya, sudah, saya nggak pernah lagi pakai tip ini.
  • Bold/italic. Saya juga sudah tak lagi melaksanakan penebalan atau pemakaian abjad miring untuk keperluan search engine. Saya menggunakannya kini demi user experience. Saya akan menebalkan/memiringkan abjad pada kata atau kalimat yang harus diberi penekanan, biar menarik perhatian pembaca, tapi bukan untuk crawl bot search engine. Untuk klarifikasi mengenai hal ini ada beberapa artikel sih yang sanggup dibaca. Coba ke sini atau ke sini ya. Sebagian sih masih percaya, ini cukup efektif untuk SEO sih. Cuma ya, saya pribadi sudah nggak terlalu yakin langkah ini efektif. Apalagi jika separagraf pertama di-bold semua, itu tuh alasan logisnya kayak gimana, monmaap, saya kurang nangkep. 🙁 Apalah saya ah. Ada yang sanggup menjelaskan? Kalau memang reasonable, saya juga mau ikut lakukan sih.

Nah, demikian beberapa tip blogging yang sudah ketinggalan zaman so far.
Ada yang mau menambahkan? Atau, mungkin ada yang berpendapat, salah satu, dua, tiga, empat atau kelima hal di atas masih cukup efektif dilakukan?

Sok, ditulis di komen yah.

I’ll be glad to know about your opinion 😉