Beberapa Jenis Latihan Menulis Yang Dapat Dilakukan Untuk Menghasilkan Goresan Pena Yang Powerful – Part 2

165 views

Hae. Saya mau ngelanjutin bahasan mengenai latihan menulis untuk menghasilkan goresan pena yang powerful kemarin nih 🙂

Kentang banget, nggak diterusin. Yekan? Wqwqwq.

Kemarin sudah bahas latihan untuk dapat menghasilkan goresan pena yang jujur, dengan gaya yang khas, dan bagaimana supaya dapat kreatif out of the box.

Sekarang, saya mau lanjutin, cuma tinggal beberapa aja kok nih. Hehehe.

Beberapa Jenis Latihan Menulis untuk Menghasilkan Tulisan yang Powerful

1. Latihan menulis efisien dan ringkas

Nah, ini sesungguhnya sudah pernah ada juga saya tulis di blog ini, bagaimana cara melatih diri menulis efisien. Tapi bolehlah kita bahas lagi ya, biar satu rangkaian gitu.

Menulis tanpa efisiensi pemakaian kata bakalan berpeluang tulisannya OOT, nggak fokus, panjang tapi pointless. Orang yang baca juga lebih berpeluang gagal paham. Dan OOT ini kadang nggak disadari banget deh. Apalagi jikalau kita emang hobi ngobrol di real life. Suka cerita, suka ghibah #eh Wqwqwq.

Biasanya jikalau sudah punya kebiasaan begini, ya kebawa juga ke tulisan.

Jadi, gimana cara melatihnya, biar “kebiasaan buruk” ini nggak kebawa ke goresan pena kita? Simpel aja kok. Kamu cukup melaksanakan beberapa hal berikut sering-sering:

  • Set timer ke 2 menit. Atau, 5 menit juga boleh. Terserah deh, mau berapa lama.
  • Siapkan satu topik untuk kau bahas. Bebas aja, terserah. Yang receh-receh juga boleh. Nggak usah yang susah-susah. Misalnya, mau nulis perihal “hujan”.
  • Begitu timer sudah mulai berdetik, mulailah menulis bebas dengan topik hujan. Just write, jangan diedit, jangan dipikirkan kata-katanya jelek, atau banyak typo. Just write!
  • Begitu timer berhenti di 5 menit, maka kau harus berhenti. Nggak perlu dikasih ending atau closing. Pokoknya berhenti saja.
  • Lalu lihat berapa jumlah kata yang berhasil kau kumpulkan dalam goresan pena mengenai “hujan” itu.
  • Tugas berikutnya yaitu rewrite atau tulis ulang tulisanmu itu menjadi separuhnya. Kalau tadinya panjang mungkin 100 kata, coba jadikan 50 kata. Dan usahakan pada dasarnya tetap sama, dengan kualitas informasi yang sama.
Nah, beberapa hal yang dapat kau lakukan untuk mengefisienkan goresan pena yaitu dengan:
  • Memilih diksi yang sempurna dan lebih singkat. Kadang ada beberapa kata yang ternyata dapat diwakili oleh satu kata aja lo, hanya alasannya yaitu kita memakai diksi yang tepat.
  • Satukan subjek yang sama. Kadang ada beberapa kalimat bersubjek sama yang dapat disatukan saja menjadi kalimat utuh.
  • Cek pengulangan informasi. Kadang kita berkali-kali menyebutkan sesuatu dalam satu paragraf atau tulisan. Coba dicek, sebisa mungkin jangan ada pengulangan jikalau memang nggak penting-penting amat.
Semakin sering latihan ini kau lakukan, maka semakin peka pula kau dalam memilih efisiensi pemakaian kata yang kau pakai. Peluang untuk OOT pun semakin sedikit.

2. Latihan menulis dengan emosi

Artikel yang elok itu yaitu artikel yang dipenuhi dengan emosi, tapi bukan emosional.
Nah, ini pernah saya baca di mana, juga saya lupa :)) Silakan, yang tahu, info saya di kolom komen ya. Biar saya tambahkan atribusinya.
Pernah baca artikelnya Pungky Prayitno, yang soal depresi pascamelahirkan yang pernah dialaminya? Tahu nggak, kenapa goresan pena itu begitu viral? Apakah Pungky mikirin syarat-syarat artikel viral ketika menulisnya? Saya berani taruhan, enggak.
Tapi satu hal yang pasti, goresan pena itu sarat emosi dan related to people.
Adalah penting banget untuk memasukkan emosi ketika kita menulis. Emosi ini dapat berarti emosi positif (bahagia, puas, senang, dan sebagainya), dan emosi negatif (sedih, kecewa, marah, dan seterusnya). Dengan melibatkan emosi, kita akan menyeret pembaca untuk ikut mencicipi hal yang sama dengan kita.
Tapi tetap kendalikan diri supaya nggak emosional ketika menulisnya.
Bagaimana cara melatihnya?
Kamu dapat melatihnya dengan cara menulis hal-hal yang:
  • Menakutkanmu. Tuliskan hal-hal yang bikin kau khawatir. Scares you the most.
  • Membahagiakanmu. Excites you.
  • Menjijikkan untukmu. Disgusts you.
  • Bikin kau sedih. Sadden you.
  • Bikin kau semangat. Fuels you.
  • Bikin kau marah. Angers you.
  • Membuatmu merasa dicinta. Fills you with love.
Nah, kau dapat giliran tuh latihan nulisnya, sesuai waktu yang kau punya. Boleh dipublish nggak? Ya bolehlah. Enggak juga nggak apa-apa. Ini sekadar latihan.

Saat kau sudah terlatih, maka ketika kau menulis artikel, kau akan terbiasa turut mengungkapkan perasaanmu juga dalam goresan pena itu.

3. Tulisan yang “bercerita” dan mengalir

Nah, latihan menulis terakhir yang dapat kau lakukan untuk menghasilkan goresan pena yang powerful yaitu berlatih menulis cerita. Because everyone likes stories, right?
Cuma ya, ibarat halnya di latihan menulis no. 1 di atas, kita itu jikalau sudah dikasih panggung buat dongeng alhasil ngoyoworo (baca: gagal fokus) ke mana-mana. Yah, mungkin alamnya kita gitu ya. Seneng banget jikalau disuruh cerita. Wqwqwq.
Tapi soal menulis dongeng ini juga dapat dilatih kok. Yang pasti, kau memang mesti niat dan rajin aja berlatihnya.
Cara melatihnya:
  • Pikirkan satu hari dalam hidup, Jangan pilih yang hari biasa aja, pilih yang “heboh”. Artinya, dapat hari yang elok banget, atau hari yang sial banget.
  • Lalu tuliskan secara kronologis kejadian ketika itu.
Ingat, kata kuncinya ada pada kronologis.

Jadi, tuliskanlah secara berurutan kejadiannya ya. Usahakan jangan lompat-lompat. Pokoknya alurnya just A to Z. Jangan dibikin twist :)))
Kalau kau sudah lancar menceritakan sesuatu dari A – Z secara kronologis, gres deh kita dapat atur lagi. Karena kadang dapat dibikin flashback atau maju-mundur alurnya, supaya lebih menarik.
Tapi yang pertama kali harus dikuasai yaitu menulis dengan lengkap secara kronologis.
Karena dongeng yang melompat-lompat, jikalau kau belum menguasai tekniknya, bakalan bikin pembaca pusing. Karena ada trik khusus ketika kita menyambungkan puzzle-puzzle ceritanya sampai tetap dapat diikuti meski tak berurutan.
Nah, demikian komplemen 3 jenis latihan menulis untuk menciptakan goresan pena yang powerful. Simpel kan? Dan nggak banyak kok. Cuma memang kau mesti disempet-sempetin melatihnya.
Berlatih menulis itu memang membutuhkan waktu khusus. Kalau hanya “meluangkan”, emang siapa yang punya waktu luang? Nggak ada. Sejatinya, nggak pernah ada yang namanya waktu luang itu mah :))
Yang ada yaitu ketika kita menciptakan waktu …
So, selamat berlatih ya.