Beberapa Jenis Latihan Menulis Yang Dapat Dilakukan Untuk Menghasilkan Goresan Pena Yang Powerful – Part 1

28 views

Menulis itu 10% bakat, 90%-nya latihan.

Itu bukan saya yang bilang. Ada, saya pernah baca. Tapi lupa baca di mana.
Dan, itu kalau saya. Beda lagi sama Pidi Baiq. Pidi Baiq itu kalau mungkin disuruh latihan nulis, jadinya malah kacau, ga kayak sekarang. Konon, Pidi Baiq itu kalau tulisannya hingga diedit, nggak jadi tulisannya Pidi Baiq lagi. Ilang udah ciri khasnya.

Beda sama saya. Untuk jadi buku, saya harus didampingi editor. Kenapa? Kacau kalau enggak. Saya butuh editor untuk memonitor goresan pena saya memenuhi semua aspek goresan pena yang baik dan layak baca.

Karena, saya bukan orang yang talenta nulis. Tapi dikala didahului dengan suka, kemudian latihan, dan kesudahannya melakukannya setiap hari, kita sanggup menyamai orang yang kondisinya punya talenta menulis semenjak lahir menyerupai Pidi Baiq.

Nggak, bukan berarti saya mengklaim diri sendiri sudah setaraf Pidi Baiq. Saya belum se-halu itu kok.

Dari hasil berguru sana-sini, kesudahannya saya tahu ada beberapa latihan menulis yang sanggup kita lakukan demi mempertajam keterampilan menulis. Beberapa jenis latihan menulis sudah pernah saya share di blog ini juga. Lebih tepatnya, dalam artikel sebelumnya itu, saya mengajak teman-teman untuk latihan menulis supaya lebih efisien memakai kata-kata dan membentuk kalimat.

Nah, kini saya akan share beberapa macam latihan menulis yang tujuannya untuk menciptakan tulisanmu lebih powerful.

Seperti apa sih goresan pena yang powerful?

Lagi-lagi menurut pengamatan sana-sini (jadi silakan koreksi kalau saya salah), goresan pena itu powerful, dalam arti berpengaruh dan berkarakter kalau memenuhi syarat:

  • Orisinal, jujur, apa adanya
  • Dituturkan secara khas
  • Kreatif dan out of the box
  • Efisien
  • Penuh emosi tapi tidak emosional
  • Storytelling
Wah! Persyaratan kelas berat!
Tenang.
Masing-masing elemen tersebut sanggup kita latih kok. Dan, nggak semuanya mesti dilatih sekaligus. Kamu sanggup mencoba latihannya satu per satu. Pokoknya intinya, setiap hari latihlah setidaknya satu elemen di atas. Dengan demikian, seiring waktu, akan terbentuklah goresan pena yang powerful dengan gayamu sendiri.
Iya, saya sudah mempraktikkannya.
Begini cara melatihnya.

Beberapa Jenis Latihan Menulis untuk Menghasilkan Tulisan yang Powerful

1. Latihan Menulis dengan Jujur

Sebagian orang bilang, saya kalau nulis to the point. Langsung, kadang terasa banyabicara dan sering bernada menyindir. Ada yang bilang lagi, saya kalau nulis cabenya banyak. Malah ada yang bilang, goresan pena saya kasar.
HAHAHA.
Saya nggak pernah banyabicara padahal. Saya juga nggak pernah bermaksud menyindir (kalau ada yang kerasa, ya syukur. #eh) Cabai banyak? Enak kan? Pedes. Kasar? Ah, biasa saja.
Satu hal yang pasti: saya cuma berusaha jujur.
Itu dia. Dan memang, nggak semua orang berpengaruh dengan kejujuran #tsah
Tapi goresan pena yang jujur itu biasanya membawa nyawa. Ada nyawa terselip di dalamnya, ketimbang goresan pena yang terasa di-hold back sebab banyak sekali alasan.
Nah, mau latihan menulis dengan jujur?
Bisa. Ada caranya.
  • Coba pikirkan satu orang yang pernah menyakitimu. Lalu tulis surat untuknya. Keluarkan semua yang menjadi ganjalan di hatimu. Semua. Take your time, nggak perlu buru-buru. Saat selesai, kau niscaya akan menemukan satu goresan pena yang sangat jujur. Untuk latihan pertama ini, niscaya akan terasa lebih gampang kan? Iya dong. Kalau sudah gape di latihan pertama, lanjut ke latihan kedua berikut.
  • Coba pikirkan satu orang sahabatmu yang paling dekat. Atau boleh juga pacar. Atau suami or istri. Sudah niscaya banyak kebaikan yang pengin kau ungkapkan kan? Etapi bentar. Bukan itu yang harus ditulis. Tulislah hal-hal yang sesungguhnya kau kurang suka dari mereka. Entah dari cara mereka melaksanakan sesuatu, atau cara mereka berinteraksi denganmu. Nah. Di latihan kedua ini, sekali lagi, tulislah semua apa adanya. Namun, kau harus memikirkan dari dua sudut yang berbeda juga. Bagaimana supaya kekurangannya ini tetap terasa elok dibacanya.
Nah, dua jenis surat sudah tertulis.

Mau disampaikan pada orangnya? Silakan.
Hahaha.
Selamat, kau sudah melaksanakan latihan menulis dengan jujur.

2. Latihan Menulis dengan Gaya yang Khas

Ternyata, tak semua orang sanggup memunculkan kekhasan pribadinya dalam sebuah tulisan. Dalam artikel blog mengenai ciri khas lifestyle blog yang lalu, saya pernah kasih pola beberapa orang bloger yang memang sudah punya gaya khas dari sononya. Boleh diintip, kalau ada yang belum baca ya 🙂
Memang, ada orang yang sudah sangat khas sekali gaya menulisnya, dari sononya. 
Tapi, ada yang gaya tulisannya biasa saja, sampai-sampai ketika kita sudah menutup blognya, kita sudah pribadi lupa lagi aja gitu dengan nama blog yang barusan kita kunjungi itu. Saking nggak berkesannya.
Sedih. Tapi justru, yang terakhir ini yang banyak terjadi.
Saya sendiri pernah dibilang begini.
Saat saya menulis di kawasan lain, goresan pena saya terasa menyerupai “penulis yang sedang bekerja untuk memenuhi tugasnya”. Sedangkan, ketika saya menulis di blog pribadi, lebih terasa menyerupai sahabat akrab.
Yaeyalah. Nulis di kawasan lain kan saya nggak boleh merepresentasikan diri sendiri. Saya harus menjadi “suara” dari web di mana goresan pena saya muncul tah? Hahaha. Beda sama di blog.
Saya anggap itu sebagai “pengakuan” kecil, bahwa personality saya berhasil saya berdiri di blog ini.
Kamu juga sanggup begitu.
Saya dulu melatihnya dengan cara: Amati, Tiru, dan Modifikasi.
Ha, niscaya sudah pernah dengar istilah ini ya? Kamu sanggup baca juga artikel soal keidean ini.
Saya dulu punya sahabat yang saya suka banget gaya menulisnya. Saya pengin sanggup menulis menyerupai itu. Akhirnya, saya tulis ulang goresan pena dia, dengan modifikasi sana-sini.

Begitulah saya. Kalau sudah jatuh cinta pada karya seseorang, maka saya pun akan memburu karyanya yang lain hingga lengkap. . Ini yaitu buku-buku @agusnoor_ Kesemuanya buku kumpulan cerpen dan puisi. Rasanya sih sudah lengkap. Entahlah. Saya belum ngecek lagi di Goodreads, atau ngecek apakah ada buku yang tercecer di belahan lain dalam rumah ?. . . Lagi pengin nyusun ulang rak buku. Karena toko buku online-nya mau saya udahin aja. Kalaupun ada buku yang mau saya lepas, akan saya lepas sebagai book swap atau bantuan aja. Nggak diperjualbelikan. Demi keinginan mewujudkan punya Cafe Buku, sebuah kafe sekaligus taman bacaan sastra #CarraCafeBuku2025 ? aminkan! . sekalian susun ulang, sekalian pamer. Siapa tahu ada yg kasih info untuk melengkapi koleksi. #bookaddict #bookstagram #book #books #booklover #bookworm #books #buku #literature #literasi #sastra #flatlay #flatlays
A post shared by Carolina Ratri’s (@carra.artworks) on

Saya mengagumi Agus Noor. Saya sukak pake banget gaya menulis Agus Noor. Saya tahu, Agus Noor yaitu “murid” Seno Gumira Ajidarma, sang empu. Tapi, entah kenapa, saya nggak berminat meng-copycat SGA, tapi saya justru lebih tertarik meng-copycat ke Agus Noor.
Maka, ada beberapa fiksimini, flashfiction, dan cerpen Agus Noor saya copycat–lebih tepatnya saya amati, tiru, dan modifikasi–hingga menjadi fiksimini, flashfiction, dan cerpen yang baru. Ending saya ganti, tokoh saya ganti, atau plot dongeng saya geser sedikit. Tapi gaya bahasa benar-benar saya tiru habis.
Nah. Kamu juga sanggup melaksanakan hal yang sama.
Coba ambil satu goresan pena penulis idolamu, yang punya gaya tulis yang sangat khas, yang pengin kau tiru dan kembangkan.
Lalu jiplak tulisannya persis. Lalu ubah di beberapa bagian. Setelah selesai, ambil jeda untuk diendapkan. Kembalilah nanti, untuk kemudian menulisnya ulang.
Lakukan ini berulang kali, hingga tak ada lagi bekas-bekas jiplakan kata. Yang masih tinggal yaitu gayanya.
Tenang, cara meniru ini hanya sebagai latihan. Tulisannya tak harus kau publish, kalau kau takut dibilang plagiat. Cara ini yaitu cara untuk melatih kita menulis dengan menyerap gaya dari penulis favoritmu.
Jika latihan ini sanggup rutin kau lakukan, di alam bawah sadarmu akan terbentuk sebuah ciri khas baru. Kombinasi antara gaya penulis idolamu dengan gayamu sendiri. Percaya deh. Hasilnya nanti usang kelamaan akan berbeda, tapi gayamu jadi lebih khas lagi menyerupai penulis idolamu itu.

3. Latihan Menulis supaya Kreatif dan Out of The Box

Soal kreatif dan berpikiran out of the box ini juga bukan talenta lo. Tapi sanggup dilatih.

Prinsipnya yaitu kita harus berpikir dengan cara yang berbeda, dari kacamata yang lain dari biasanya atau yang biasa orang lain pakai.
Dan ini tuh sanggup dilatih. Nggak perlu waktu yang usang juga ngelatihnya, asal ada niat dan mau, sertta mau sering-sering praktik.
Caranya:
Ambil satu benda, atau objek apalah terserah. Saya ambil contohnya iPad.
Lalu coba bertanya pada diri sendiri, apa sih fungsi iPad?
Kalau orang lain mungkin akan menjawab, iPad ya sebagai gadget; buat browsing, buat bikin ina inu, buat ngeblog, buat nonton Youtube, buat main games, dan seterusnya.
Tapi coba pikir dengan cara berbeda.
iPad sanggup saja menjadi talenan, ganjal buat ngiris bawang bagi #horangkayah. Bisa kan? Bisa dong. Horangkayah ini. Dari titik mula ini, tuliskan lanjutan ceritamu mengenai iPad sebagai talenan, ganjal ngiris bawang. Lalu, kalau iPad jadi talenan, piring makan horangkayah itu apa ya? 
Makara semacam dialog #CrazyRichSurabayan dll kemarin di media umum itu loh.
Seru kan?
Saya pernah menerima wangsit menulis dikala terdiam dan kebetulan mata saya tertumbuk pada sebuah snow globe. Tahu kan, snow globe? Itu loh, bola beling yang dalemnya biasanya diisi cairan dan salju-saljuan. Terus biasanya ada rumah kecil dan pohon-pohon kecilnya. Snow globe ini kalau diputar-balikkan gitu terus kayak rumahnya hujan salju, gitu. Pernah liat kan?
Nah, saya membayangkan, bahwa ada entity atau makhluk yang benar-benar hidup dan tinggal di dalam rumah kecil di dalam snow globe itu. Saya kembangkan ini jadi sebuah flashfiction.
Latihan menulis out of the box ini tak hanya kepakai kalau kita menulis fiksi saja nanti. Bahkan menulis tip dan howto, latihan menulis out of the box ini sanggup banget menciptakan goresan pena jadi lebih powerful dan memorable.

***
Nah, sesungguhnya masih ada 3 jenis latihan menulis lagi yang sanggup kita lakukan untuk menghasilkan goresan pena yang powerful. 
Tapi ini sudah 1300 kata. Makara lebih baik saya sambung saja di artikel depan ya. Biar nggak kepanjangan 🙂
Jadi, hingga ketemu di Beberapa Jenis Latihan Menulis yang Bisa Dilakukan untuk Menghasilkan Tulisan yang Powerful – Part 2 ya 🙂