Bagaimana Cara Menciptakan Film? – Buah Tangan Workshop Content Creator Part 2

21 views

Sore itu, kami ber-30++ diajak ke Tebing Breksi. Katanya sih di situlah lokasi kami akan berguru menciptakan film.

Hmmm. Menarique. Tebing Breksi ini tadinya merupakan lokasi tambang kerikil alam. Sekarang Tebing Breksi merupakan salah satu objek wisata paling hits dan instagrammable. Lokasinya ada di wilayah Kabupaten Sleman, lebih tepatnya di desa Sambirejo, Prambanan. Iya, memang Tebing Breksi ini berada di akrab Candi Prambanan dan Candi Boko.

Mari Kita ke Tebing Breksi


Sesampainya di sana, tanpa banyak basa-basi, kami diminta untuk segera menciptakan film ala kami sendiri–dengan berbekal pengetahuan yang nggak ada. Hahaha. Lahiya, sebagian besar kan memang bloger, dan tampaknya sih pada umumnya bloger itu biasanya mereka berguru menciptakan sesuatu secara otodidak. Cuma dari hasil liat, amati, terus ulik sendiri.

Iya nggak sih? Atau, saya aja yang gitu? :))

Anyway, singkat cerita, saya punya kelompok untuk menciptakan film ala-ala ini. Sama Mbak Indah Juli, Mbak Siti Hairul, dan Mbak Arry Wastuti.

Singkat kisah lagi, inilah film kami. :))

Jadi, postingan kali ini OOT ? Nggak sanggup deh nggak diposting ini mah. Kemarin kita sempat ke Tebing Breksi, di hari kedua event Sapa Sahabat Keluarga @sahabatkeluargakemdikbud Oleh mentor kami, @ibalibam, kami pun diminta utk bikin video dengan tema BEBAS. So, tanpa ada ilmu apa pun, Mamak yg bisanya cuma bikin video bagan ini pun memberikan konsep ke timnya. Ndilalah kok ya diterima. Embuh sebab memang pada suka, ataukah Mbak @indahjuli Mbak @arrywastuti sama Mbak @siti_hairul ini cuma manut aja biar si Mamak diem ga ngomel gitu. Bahaha. Dan, jadilah video ini. Semua dibikin di tempat, dikala itu juga. Termasuk editing. Makanya noise and goncangan tangan juga warbiyasak. Tapi Mamak ga sanggup berenti nontonnya. Selalu ngekek ??? On blog soon: how to write essay and how to make a movie! #sapasahabatkeluargayogya #sapasahabatkeluarga #sahabatkeluarga #kemendikbud #keluargahebat #keluargaterlibat
A post shared by Carolina Ratri’s (@carra.artworks) on


Ngeliat hasilnya, saya eksklusif sanggup melihat banyak beud permasalahan:

  • Tangan saya yang tremor eksklusif aja keliatan :)) Kameranya berguncang-guncang kolam kena tsunami. Apalagi di scene terakhir. Harusnya itu saya pake foto aja kek opening.
  • Angin yang menderu-deru ganas menutup bunyi para talents bagus yang sudah berusaha keras tampil keren di video.
Sampai di sini, saya sudah ngedrop. Jiwa perfeksionis saya menggeliat, terluka. Halah.

Tapi karena sudah kecapekan (dan lapar), saya teruskan saja sanksi videonya. Ternyata, teman-teman setim saya nggak masalah. Iya, mereka tau audionya geblek, pengambilan gambarnya bapuk.

Tapi ya sudahlah. Malah sanggup dijadikan bahasan kali besok jika pas dievaluasi. Kita mungkin sanggup mendapat trik-trik gres malahan kan? *minta dipukpuk*

Bagaimana sih Cara Membuat Film?

Keesokan harinya, barulah kami mendapat teori menciptakan film yang beneran oleh Muhamad Iqbal, sang manajer produksi di Film Maker Muslim. Nah, jika kau pernah nonton film pendek Cinta Subuh, ya inilah mereka yang bikin :))

So, buat kau yang pengin juga menciptakan film atau video sebagai pendukung blog, atau sebagai konten di media sosial, saya akan kasih buah tangan sedikit nih. Lanjutan buah tangan dari Workshop Content Creator Sapa Sahabat Keluarga soal menulis esai yang lalu.

Catatan berikut ini hanya secara garis besar saja, sebab proses pembuatan film itu *jelas* rumit. Tapi, ya kek kita berguru SEO-lah. Mulailah dari tahapan yang paling simpel dulu. Seiring waktu, kita tambah pengetahuan dan mulai meningkatkan skill, coba untuk menciptakan film kita lebih baik lagi. Betul nggak?

So, berikut yaitu tahapan yang harus kau lalui untuk menciptakan film (yang bagus)

Muhamad Iqbal – Manajer Produksi sekaligus Marketing Film Maker Muslim.

1. Persiapan – Brainstorming ide

Semua memang berawal dari ide. Mau bikin apa pun, akarnya selalu dari ide. Jadi, pastikan kau punya wangsit yang layak dihukum dulu. Nggak harus selalu bagus dan cetar sih. Misal pun idenya biasa aja, jika kau eksekusinya bagus,  balasannya nggak akan bohong.

Tapi, sembari mengolah idemu, coba tanyakan dulu beberapa pertanyaan berikut. Karena ini ternyata penting banget, dan sanggup memengaruhi pengambilan keputusan wangsit menyerupai apa yang akan dieksekusi. Pertanyaannya adalah:

  • Untuk apa sih film kau ini mau dibikin?
  • Pesan apa yang ingin disampaikan pada penonton?
  • Siapa yang akan menonton?
  • Bagaimana cara memberikan biar pesannya hingga ke penonton?
Well, pertanyaannya kurang lebih sama sih dengan jika kita mau menulis artikel kan ya? Ini bakalan menentukan banget bagaimana presentasi kita nantinya.

Kalau wangsit sudah ada, dan sudah sanggup menjawab semua pertanyaan di atas, eksklusif ke langkah kedua.

2. Budgeting

Well, ya yang ini beda sih dengan menulis artikel mah. Sepertinya ini juga bakalan beda bagi bloger juga sih. Budgeting yang dikasih sama Iqbal ini keknya lebih ke para pembuat film profesional.

Tapi ya enggak masalahlah. Siapa tahu kamu-kamu juga pengin menjadi pembuat film pro kan, kek Film Maker Muslim?

So, dari mana bujet untuk menciptakan film ini sanggup didapatkan?

  • Patungan antara para kru. Nah, ini sanggup banget emang buat memulai. Patungan, punyanya berapa, dikumpulin. Hahaha. Anak kos banget jika mau makan gofood yah? 😛
  • Donatur, barangkali orang bau tanah mau kasih donasi?
  • Investor
  • Sponsor, yang ini nggak melulu berupa uang. Bisa juga peralatan, wardrobe, atau mungkin katering?
  • Tiket pre-sale. Tapi jika yang ini keknya kita mesti udah gede dulu sih ya, terus bikin program nobar gitu. Mesti istimewa sih.
Nah, kenapa mesti ada budgeting di awal produksi? Karena biasanya akan ada biaya-biaya untuk menciptakan film, di antaranya untuk:
  • Makan. Kalau nggak mau ada biaya makan, ya syutingnya jangan pas makan siang. Yakali.
  • Operasional
  • Fee kru dan talents. Kalau mau ngirit di kepingan ini ya, krunya sendiri aja terus talentsnya anak-anak sendiri juga. *dasar mamak pengeksploitasi anak di bawah umur!*
  • Sewa alat, jika kita nggak punya alat syuting yang memenuhi syarat. Eh tapi Cinta Subuh itu aja syutingnya pake kamera Canon EOS (serinya lupa, kemarin dikasih tahu juga). Ya mungkin jika mesti ada perhiasan lighting ya. Kalau mau ngirit ya, syutingnya siang aja sih. Hahaha.
  • Lokasi. Nah, ini misal jika kita mau syuting di Tebing Breksi kan ada tiket masuk tuh. Nah, itu dimasukkan juga ke budgeting. Ssst, kadang di lokasi kita juga ada jatah preman lo, jangan salah. Yah, Indonesia gitu. Selalu ada yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
  • Art, makeup, dan wardrobe. Ini terperinci harus dibikin bujetnya ya. Apalagi jika butuh yang khusus.

3. Pra Produksi

Nah, tadi sih kita sudah melalui tahapan persiapan memang. Tapi dikala akan produksi kita juga butuh proses lagi nih. Prosesnya meliputi:
  • Pembuatan skenario. Well, penulisan skenario memang berbeda dengan menulis artikel biasa yah. Jadi, jika mau dikerjain sendiri, ya mesti berguru dulu teorinya nih.
  • Casting, untuk menentukan talents yang akan berperan dalam film kita.
  • Reading, pembacaan skenario oleh para talents, kandidat tokoh film.
  • Cek lokasi, biar kita sanggup merencanakan shot list atau storyboard dengan baik.
  • Persiapan art, wardrobe, alat, kru, dan lain sebagainya.
  • Bikin shot list atau story board. Kadang syuting juga nggak dilakukan sesuai urutan yang ada di skenario. Misalnya nih, ada beberapa adegan yang mesti disyut malam, tapi nggak berurutan. Kita sanggup ambil gambar sekalian dalam satu malam, gres nanti diedit. Nah, merencanakan syuting ini nih yang rada rumit sih. Kita mesti menguasai bener itu skenario.

4. Syuting

Dan, tibalah kita pada tahapan yang paling exciting :)) Syuting!
Nah, sebagai pemula, kita memang mesti banyak berguru dulu soal shot type, camera angle, dan juga the rule of third. Kenapa? Karena ketiganya inilah yang akan menentukan komposisi sinematografi film kita.
Misalnya soal shot type nih. Ada beberapa shot type yang dikenal di dunia film, contohnya extreme long shot, full shot, close up, hingga extreme close up. Kita harus sanggup mengenali kapan masing-masing shot type ini dipakai.
Kenapa begitu?
Well, pictures talk. Masing-masing shot type ini punya fungsi dan makna masing-masing. Contohnya, extreme long shot biasanya untuk menampilkan suasana dan setting lokasi yang memang ingin ditonjolkan. Sedangkan, close up biasanya untuk menonjolkan emosi tokoh film.
Nah, ini nggak boleh kebalik-balik. Fatal bangeudlah jika hingga kebalik. Emosi nggak akan hingga ke penonton, dan sanggup jadi pesannya juga nggak bakalan tersampaikan.
Gayanya udah meyakinkan belom? Foto by Fuji Rahman Nugroho
Jadi, memang nih, jika mau bikin sesuatu itu ya kita mesti banyak-banyak ngumpulin tumpuan dulu. Kalau mau menciptakan film, ya banyakin nonton film, biar tahu seluk beluknya. Nggak cuma nonton doang, tapi amati setiap detailnya hingga ke teknisnya. 
Btw, selama presentasi, Iqbal ini banyak menampilkan teladan dari film-film MCU :)) Sepertinya dese penggemar neh. Tapi ya nggak salah sih. Kalau untuk tumpuan pembuatan film, film-film MCU ya megang banget. Kalau soal plot kisah sih yahhh … ya gitu deh. Hahaha *dirajam para penggemar MCU*
Balik lagi ke laptop.
Setelah proses pengambilan gambar selesai, seterusnya yang harus dilakukan yaitu editing. Nggak cuma “menata” video-video hasil syuting, tapi di sini juga termasuk dubbing (misalnya untuk mengatasi deru angin menggebu yang masuk ke dalam video hasil syuting kek punya saya itu), penambahan musik scoring, sound mixing, dan lain sebagainya.
Oh kemarin sih Iqbal kasih rekomendasi aplikasi video editing yang gampang, tapi saya lupa nyatet apa aja. Tapi saya ada nih daftar aplikasi editing video yang sudah pernah saya cobain. Boleh diliat-liat, jika belum pernah nyimak yah. Mayan sanggup jadi referensi. Selanjutnya, boleh dicoba-coba sendiri.

5. Publish!

Ada banyak pilihan media publishing untuk video atau film kamu:
  • Media sosial, menyerupai Instagram atau Youtube
  • Ikutkan ke pameran film
  • Direct to DVD
Sepertinya yang paling baiklah untuk dikala ini yaitu media umum ya, baik itu Instagram ataupun Youtube. Kalau Instagram, ya palingan cuma sanggup semenit doang.

Youtube sih terutama yang paling oke.

Kesimpulan

Makara apa kesimpulan kita?
Bikin film itu susah.
Hahaha.
Tapi saya lantas berpikir–soalnya saya sering diomelin sama Daeng Min-nya Seenema.id karena suka kasih rating anyir ke film nggak mutu–apakah ini berarti sebagai penonton kita mesti “berbaik hati” jika ngasih rating?
Saya jawab, tentu saja enggak.
Susah menciptakan film, bukan berarti lantas menjadi excuse untuk menciptakan film yang enggak layak ditonton.
If you know what I mean.
Jiaaah. Sudah 1600 kata lagi :)) Saya emang suka bablas jika nulis yah.
Tapi, dengan demikian, utang buah tangan saya lunas ya, dari lokasi Workshop Content Creaton Sapa Sahabat Keluarga di Hotel Jayakarta kemarin.
Terima kasih buat semuanya yang sudah mengundang saya, yang sudah berinteraksi dengan saya selama workshop, terutama para pemateri yang warbiyasak! *standing ovation*
Sampai ketemu di konten-konten yang lain! :))