9 Langkah Menulis Artikel Panjang, Mendalam Dan Informatif Tanpa Membosankan

22 views

Beberapa hari yang lalu, Mas Febriyan Lukito ngepost status ini.

Nah, kau termasuk #TimArtikelPanjang atau #TimArtikelPendek?

Saya sih termasuk #TimArtikelSedapetnya. Maksudnya, kalau memang perlunya pendek, ya saya akan nulis pendek. Tapi, kalau saya lihat perlu untuk menulis panjang, ya saya akan nulis panjang.

Tulisan pendek itu biasanya untuk memancing engagement, sedangkan goresan pena panjang biasanya saya buat kalau memang sedang menganalisis atau menelaah sesuatu.

Tentang panjang pendek tulisan, bergotong-royong saya sudah pernah bahas juga di blog ini. Silakan dibaca, buat yang belum baca. Seenggaknya biar paham, kapan artikel pendek itu diperlukan, dan kapan kita harus menulis secara mendalam (yang kesudahannya goresan pena jadi panjang).

Buat yang sudah baca, mau baca lagi, juga boleh kok. Ehe

The point is, ibarat yang ditulis oleh Mas Ryan. Jangan maksain, yang pendek jadi memanjang dengan menulis ablah-ablah yang nggak penting dan jadi bikin fokusnya ke mana-mana. Kalau memang nggak penting, ya sudahlah nggak usah ditulis.

Tapi, kalau memang kau mesti nulis secara 5W 1H yang panjang, ya tulislah secara lengkap. Jangan mengentangi (dari kata dasar: kentang) pembaca *meminjam istilah Mas Dani Rachmat*.

But, then again …

Yeah, it’s hard, man!

Satu, dari kitanya sendiri yang nulis. Kamu betah nggak duduk sejam dua jam untuk cuma nulis doang? Itu pun nggak sekali jadi. Nggak sanggup sekali duduk soalnya kalau goresan pena panjang, biasanya mah. Mesti beberapa hari. Belum lagi ngelengkapin tetek bengek, pepotoan, vivideoan, dan lain sebagainya.

Dua, dari sisi pembaca. Bosan nggak kira-kira dibacanya itu goresan pena panjang kamu?

Tulisan panjang memang melelahkan. Nggak semua sanggup nulis panjang.
Saya pun nggak setiap kali sanggup nulis panjang.

But, dikala harus melakukannya, lantaran pengin menyajikan informasi lengkap, ya mau nggak mau kita mesti nulis artikel panjang.

Artikel yang panjang itu–katanya–lebih gampang keindex Google. Artikel panjang itu biasanya (kalau nggak mengada-ada) detail. Dan, saya percaya, segala sesuatu yang dikerjakan secara detail, itu biasanya hasilnya memuaskan.

Mau itu tulisan, atau gambar, atau apa pun deh. Kalau dikerjakan dan dipikirkan hingga ke detailnya, niscaya hasilnya akan semakin mendekati sempurna.

Ini sudah dalil.

Tapi, jangan salah persepsi. Saya tidak sedang mengharuskan siapa pun untuk selalu menulis panjang.  Ingat, panjang goresan pena tergantung pada tujuan goresan pena itu dibuat.

Nah, untuk mereka yang kesulitan menulis panjang, ini ada beberapa panduan yang sanggup dilakukan untuk menulis artikel panjang, means artikel 1.000 kata atau lebih.

Beberapa langkah menciptakan artikel panjang, detail dan informatif, tanpa membosankan.

1. Outline yaitu koentji

Kunci pertama dalam menulis artikel panjang yaitu adanya outline.

Tahu sendiri, outline itu berfungsi sebagai:

  • Alat brainstorming, dan sanggup saja timbul inspirasi gres dikala menulis
  • Organize our thoughts yang akan dituangkan dalam artikel supaya lebih runtut
  • Memeriksa kesinambungan, antara pokok pikiran satu dengan yang berikutnya.
  • Memenuhi lantaran akibat

Ah, nulis blog saja kok pakai outline!

Ya, kalau buat saya, outline itu merupakan tool. Alat. Kalau alat tersebut sanggup menolong kita untuk menulis artikel yang terstruktur, rapi, dan sanggup tuntas dalam membahas satu masalah, ya kenapa nggak dimanfaatkan?

Kalau memang bikin outline malah bikin ribet, ya nggak usah pakai. Pokoknya hasilnya gimana, gitu aja sih.

Ngeyel pakai outline, terus malah ribet sendiri dan akhirnya nggak jadi nulis. Itu berarti maksain. Atau, nggak pakai outline tapi terus tulisannya nggak fokus, ya berarti nggak bener juga.

So, di mana perlu aja. Dan, hanya penulis yang ngerti di mana perlunya. Peka ya.

So, kalau saya sih, goresan pena panjang BIASANYA butuh outline, supaya tetap fokus dan bernas. Nggak perlu bagus-bagus juga, tapi yang penting semua poin yang mau ditulis itu ada. Kadang saya juga pakainya mindmap. Jadi, terserah juga mau gimana.

Kadang dari outline, eksklusif saya kembangkan jadi tulisan. Kaprikornus eksklusif aja gitu. Terutama kalau bentuknya listicle. Biasanya dari outline per poin, saya kembangin, tambahin klarifikasi per poin. Tambahkan penutup, kemudian pembuka. Udah jadi.

2. Jangan terburu-buru

Artikel yang kentang biasanya yaitu lantaran terburu-buru.

“Lah, udah nulis dari 2 jam yang kemudian kok belum selesai ya. Ya udah deh, segini aja kali.”

Terus udahan. Nggak pakai closing, nggak pakai conclusion. Nggak pakai pamit. Pembacanya eksklusif ditinggal pergi.

Nggak sopan!
Hahahaha.

Itu saya sih, kalau nemu tulisan. Udah panjang, eh ternyata kentang. Terus eksklusif ditinggal pula, nggak pakai dipamitin. :))

Makanya kalau saya pribadi, ngeblog seminggu sekali saja. Tapi saya usahakan pembahasan hingga in-depth.

Toh, saya punya waktu seminggu penuh buat mikirin inspirasi goresan pena kan? Walaupun eksekusinya ya kenyataannya cuma dikerjain 2 hari, misalnya. Wkwkwk.

Tapi itu salah satu jalan, supaya saya sanggup benar-benar menggali lebih dalam.

Saya dulu sering terburu-buru. Rasanya, takut aja gitu. Kalau nggak selesai kini juga, takutnya besok udah nggak mood lagi.
Akhirnya cuma numpuk di draft.

Pasti banyak deh yang samaan gitu. Iya kan? Ngaku aja. Wkwkwk. Tapi, saya sendiri mikir. Kalau terburu-buru, jadinya artikelnya bakalan kerasa juga buru-burunya.

Maka kemudian, saya mencoba mengubah kebiasaan. Saya berusaha nggak buru-buru, dan menuntaskan goresan pena ini sanggup hingga 2 – 3 hari.

Ya, kadang ya moodnya berubah. Ya enggak apa-apa sih. Selama ini di blog sendiri, kan bebas.
Kecuali kalau kau ngerjain goresan pena panjang pesanan orang, bukan di blog sendiri. Itu memang mesti dicari solusinya.

Kalau nulisnya makan waktu lantaran artikelnya memang in-depth, ya jadinya perlu banget yang namanya outline. Kalau sewaktu-waktu capek nulis, sanggup kita lanjutkan kapan lagi, tanpa hilang fokus. Kita nggak akan lupa, kemarin hingga di mana. Mood akan tetap ada, hingga artikel selesai.

Pokoknya dinikmati prosesnya deh.

3. Pastikan openingnya cukup mengikat pembaca

Opening akan memilih ‘keselamatan’ artikel kita. Ini sudah berkali-kali saya tulis dan omongkan kayaknya sih.

Coba cek dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut ini dikala menulis opening:

  • Apakah permasalahan sudah eksklusif disebutkan di 100 kata pertama?
  • Apakah ada kesepakatan yang akan didapatkan oleh pembaca kalau mereka mau membaca artikel hingga selesai? 
  • Apakah kata-katanya cukup provokatif dan persuasif, yang mengajak atau menciptakan pembaca merasa harus menuntaskan membaca?
  • Apakah opening kau cukup lucu? Karena biasanya orang lebih tertarik pada hal-hal yang disampaikan dengan jenaka.
  • Atau, apakah opening cukup related to people? Menyebutkan hal-hal yang juga dialami oleh orang lain?

Gimana, tampaknya memenuhi 2 syarat di atas saja sudah cukup menarik. Mau ditambah supaya lebih engaging lagi? Boleh. Lebih bagus.

4. Apakah artikel sudah dalam format yang tepat?

Ada beberapa jenis format yang sanggup kau gunakan:

  • Artikel storytelling, yaitu artikel yang formatnya bercerita gitu. Nah, format ini lebih rentan untuk membosankan. Jadi, saran sih, kalau memang mau bikin artikel storytelling panjang, pecahlah dalam beberapa subjudul atau ‘episode’. Dengan memecahnya, maka pembaca ibarat diberi jeda di antar bagian. Apalagi kalau ada visual yang  menarik per subbab-nya. 
  • Artikel listicle, yaitu artikel yang berbentuk list atau daftar atau step-by-step. Kayak artikel ini, termasuknya listicle. Round up juga listicle. Itu lebih gampang ditulis sih buat saya, tampaknya buat dibaca juga nggak terlalu melelahkan. Karena terbagi ke dalam beberapa poin, maka nggak kerasa panjangnya lantaran ada semacam jeda di masing-masing perpindahan poin.

5. Berikan penjeda setiap 200 – 300 kata

Nah, lantaran dipecah dalam subbab atau per poin, maka harus ada penjeda di setiap bagiannya. Penjeda ini sanggup berupa foto, image, gif, atau video. Atau sanggup juga infografis.

Silakan berkreasi. Gimana supaya pembaca nggak bosan.

Namun, kadang, saya sendiri dengan pedenya juga nggak ngasih penjeda :))))

6. “Talk” to your reader

Yeah, talk to your readers.

Yes, talk to your readers. Bukan sekadar nulis doang. Apalagi hanya “pokoknya memenuhi utang nulis”.

Kadang kita memang nggak kerasa ya. Nulis terus, mengeluarkan apa yang ada di pikiran kita hingga puas dan tuntas. Atau, pokoknya kiprah sudah selesai. Pembaca mau ngerti apa enggak, bodo amat.

Pokoknya selesai. Abis ini sanggup kirim invoice #eh

Lupa, kalau ada pembaca yang mesti diajak berinteraksi.

Iya apa iya? Hehehe. Hasilnya ya, kayak monolog. Apa ciri goresan pena yang “melupakan” pembaca ini? Ada satu ciri paling kelihatan dari goresan pena yang “melupakan” pembaca ini, yaitu goresan pena yang menggurui, atau yang sok.

Biasanya sih, habis baca goresan pena tersebut, kita bukan tercerahkan. Tapi malah makin mumet. Wkwkwk.

Coba deh. Setiap kali menulis, bayangkan ada pembaca blogmu sedang duduk di depan daerah kau menulis, siap untuk diajak ngobrol. Tutup matamu sebentar, rasakan kehadirannya. Lalu mulailah menulis, seperti kau sedang berdialog dengannya.

Setelah jadi, coba dibaca ulang. Rasakan, ada bedanya nggak dengan kau yang biasanya sekadar nulis apa yang kau pikirkan, atau yang sekadar nulis apa yang di-brief-kan oleh klien.

Kasih tahu saya ya, nanti, kalau kau rasa ada bedanya.

7. Pastikan kau memakai kalimat dan paragraf yang pendek

Jika satu paragraf terdiri atas 10 baris atau lebih, saya lebih suka memecahnya dalam 2 paragraf. Kadang saya juga suka ada paragraf yang hanya terdiri dari satu kalimat atau satu kata. Biasanya sih lantaran ada maksud yang ingin ditekankan dalam paragraf satu kalimat tersebut.

Dengan memakai paragraf-paragraf pendek, rasanya kita akan lagi ngobrol (refers to step #6 above), alih-alih diceramahin.

Coba deh dirasain.

Lalu, yang penting lagi, kalimatmu juga harus pendek-pendek, sekitar 8 – 10 kata maksimal dalam satu kalimat. Setiap kalimat, akhiri tanda baca “titik” ya. Kalau koma, itu berarti kalimatnya belum selesai.

Apalagi kalau hingga ada lebih dari 2 koma dalam satu kalimat. Itu biasanya kalimatnya udah mbulet.

Fine, kalau kau masih nggak sanggup membedakan “di” yang sebagai kata depan, dan “di” yang merupakan awalan. Nulis “diluar” sama “di keluarkan” kebalik … well …

Serah lo deh!

Tapi, kalau penggunaan tanda titik dan koma saja kebolak-balik, well … kayaknya kau mesti berguru bahasa Indonesia aja dulu deh.

Seriusan ini.
Karena ini berafiliasi dengan ketahanan pembaca untuk mau membaca hingga akhir.
Sepele, namun penting banget.

8. Cek ulang, variasi!

Yang sudah dibahas di satu bagian, jangan lagi diulang di penggalan yang lain. Ini nih gunanya outline. Supaya kita nggak terlalu banyak mengulang apa yang sudah dibahas.

Nggak cuma bahasan yang diulang.
Saya sendiri memantangkan diri untuk mengulang kata yang sama dalam satu paragraf. Apalagi dalam satu kalimat.

Jangan hingga deh.

Ini hubungannya sama variasi.
Man, eue aja perlu variasi. Ini goresan pena in-depth, udahlah panjang, masa nggak pakai variasi? Bosanlah!
*dikeplakin dari segala penjuru*

So, kau sanggup mengatasi variasi kata ini dengan:

  • Mencari sinonim katanya
  • Mengubah susunan kalimatnya
  • Mengubah struktur kalimatnya, dari pasif jadi aktif, misalnya.
Lalu baca kembali dengan bersuara, semoga sanggup mencicipi apakah ada penggalan yang berulang. Tempatkan dirimu sendiri sebagai pembaca.

9. Cek 5W 1H

What, who, when, where, why dan how, merupakan prinsip penulisan jurnalisme yang baik. 

Nggak ada salahnya juga prinsip tersebut kau pakai dalam menulis artikel blog, terutama yang panjang. Cukup membantu juga sih kalau di saya.

  • What: topik apa yang akan dibahas?
  • Who: siapa subjeknya? Siapa objeknya?
  • When: kapan permasalahan topik akan timbul, misalnya. Atau kapan insiden berlangsung?
  • Where: di mana sering terjadi atau kejadiannya di mana? Deskripsikan.
  • Why: alasan-alasan yang sanggup menjadikan satu insiden yang terjadi.
  • How: bagaimana cara mengatasinya permasalahan?

Dengan memenuhi prinsip tersebut, diharapkan sih artikel kita sanggup tuntas dalam membahas suatu topik. Meski dalam storytelling pun, prinsip ini akan baik juga kalau dipakai. Tinggal nanti luwesnya saja.

Nah, satu catatan penting ya.
Kita nggak sanggup dengan gampang mengubah kebiasaan. Kalau biasanya hanya sanggup menulis 300 kata, ya nggak perlu maksain eksklusif sanggup nulis 2000 kata.

Mulai saja secara bertahap, dari 500 ke 600 kata, kemudian jadi 800 kata. Nanti lama-lama niscaya sanggup deh ke 1.000 kata lebih.

Saya juga gitu kok. Pertama saya juga nulis ngos-ngosan banget ke 700 kata. Lama-lama sanggup nulis 30.000 kata, alias nulis buku. *dikeplakin lagi*

Well, menyajikan informasi yang lengkap dan detail, serta bermanfaat bagi pembaca, tampaknya itu yaitu yang menjadi tujuan dari setiap goresan pena yang ada kan?

Adalah hak pembaca untuk mendapat semua informasi tersebut secara lengkap. Maka, kita harus memenuhinya, dan mereka pun akan tiba lagi dengan tulus dan bahagia hati.

Semoga langkah-langkah menulis artikel panjang informatif tapi nggak membosankan di atas bermanfaat ya. Kalau ada tambahan, boleh ditulis aja di kolom komen.

Nanti akan saya tambahkan.

Happy writing and blogging, everyone!