9 Dosa Pengguna Facebook Yang Menjadikan Mereka Dianggap Spammer – Blogger Juga Suka Melakukannya!

Diposting pada 4 views

Selain Instagram, Facebook akhir-akhir ini juga berbenah. Apa saja yang dibenahi? Kamu sanggup lihat di artikel sebelumnya.

Algoritma Facebook kini memang (semacam) sedang dikembalikan ke fitrahnya oleh tim Mark Zuckerberg, yaitu sebagai wadah untuk berinteraksi antar orang secara personal.

Media massa elektronik atau brand-brand semakin sedikit tempatnya untuk sanggup berpromosi. Algoritma terbaru Facebook memang menciptakan para publisher ini harus berusaha ekstra untuk mendapatkan sasaran audience yang sesuai. Ya, jika mau praktis sih, mereka mesti merogoh kocek lebih dalam. Tapi itu pun juga nggak niscaya mencapai sasaran audience yang diharapkan, alasannya yaitu mereka mesti memperhitungkannya dengan saksama.

Nah, bagaimana dengan kita?

Kita bahwasanya yaitu “pelanggan” yang disayang oleh Facebook.
Facebook melaksanakan pembenahan itu alasannya yaitu kita juga. Kita sedang berusaha dimanjakan oleh Facebook.

Masalahnya, ada di antara kita yang ternyata “menyalahgunakan” perlakuan baik Facebook, dan abusing term of service yang sudah ditetapkan. Di antaranya yaitu spamming.

Ya, alasannya yaitu kita yaitu blogger, dan merasa “wajib” untuk mempromosikan blog masing-masing demi mencapai pageview.

Sebagian blogger–saya yakin dengan pasti–nggak pernah baca term of service yang diberikan oleh Facebook soal spamming atau promosi, sehingga tanpa sadar mereka melanggar aturan-aturan yang sudah ada tersebut.

Hingga, awal tahun lalu, sebagian besar blogger mengeluh, bahwa mereka di-mark as spam sama blogger. Komen mereka ter-hide secara otomatis dan dianggap spam oleh Facebook. Mau posting di beranda juga sebagian bilang, susah.

Saya nggak tahu pasti, “dosa” apa saja yang mereka lakukan hingga “menerima hukuman” dari Facebook semacam itu. Karena term of service-nya itu banyak. Bisa saja dilanggar sedikit, sanggup banyak, sanggup semuanya. Lagian saya juga nggak sanggup tahu dengan pasti, dosa masing-masing blogger ini apa saja kan?

Ya kali saya stalking satu per satu. Wk.

Seandainya setiap kali kita “datang” ke daerah gres itu kita pelajari dulu aturan-aturannya, apa yang boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan, pastilah kita akan aman-aman saja. Bagaimanapun, itu daerah punya orang. Bukan punya nenek kita sendiri. Jadi, aturan ya aturan. Harus dipatuhi.

Tapi ya gitu deh. Jarang yang mau membaca manual dulu, atau term & condition, atau yang semacamnya. Terus jika sudah kena batunya, gres deh ngeluh.

Ya, alhamdulillah-nya, saya hingga kini masih selalu lolos dari “hukuman”. Padahal saya juga cukup sering mempromosikan link ini itu. Mungkin alasannya yaitu saya punya goresan pena di aneka macam tempat, nggak cuma di blog pribadi saja, sehingga meski saya selalu promosikan goresan pena saya, tapi sumber link-nya beda-beda 😀

Ya mungkin juga gitu.
Atau, alasannya yaitu saya lebih banyak merusuh di beranda pribadi, bukan di grup, bukan di komen orang. Makara ya, mungkin dianggapnya bebas aja deh, orang di beranda sendiri.

Entahlah.

Tapi, apa pun, coba deh disimak, beberapa cara promosi yang salah yang dilakukan oleh para blogger berikut ini, yang saya kumpulkan menurut pengamatan.

9 Dosa pengguna Facebook yang paling sering dilakukan

1. Share dalam waktu yang bersamaan

Saya sering lihat, para blogger share satu artikel sekaligus, baik ke beranda sendiri, ke grup maupun nyebar link ke komen orang.

Kalau kita punya 20 grup blogger, ya kita akan share eksklusif ke 20 grup tersebut secara berturut-turut.

Atau, posting di akun Facebook pribadi, dan juga sekaligus ke Facebook Page, terus dari Facebook Page eksklusif disebar ke aneka macam komunitas.

Yang kayak gini nih kelakuan spammer, bukan blogger.

What to do instead:
Jangan sebar eksklusif ke banyak daerah dalam waktu yang berurutan. Kamu sanggup promosi blog dengan waktu yang diatur.

Misal, hari ini sebar link ke Kumpulan Emak Blogger, besok ke Warung Blogger, dan seterusnya.

“Malas laa, jika sanggup sebar link hari ini sekalian, besok sibuk soalnya.”
Ya, diaturlah. Posting link paling berapa menit sih?

Atau jika memang harus semua tersebar hari ini, beri jeda waktu yang cukup panjang. Satu jam, dua jam. Banyak sih yang bilang, interval 5 menit bahwasanya juga sudah cukup. Tapi ya, demi amannya, coba share dengan interval sejam dua jam.

2. Nyebar dengan caption yang persis

Kadang kita memang mau cepetnya aja kan? Nyebar link, ya pengantarnya kopas aja.
Bikin satu, kemudian dikopi, share.
Untuk ke grup yang lain, tinggal paste, dan share.

Cepet!

Apalagi ada juga akomodasi Facebook yang memungkinkan kita menyebar eksklusif ke multiple group eksklusif sekali klik aja.

Nah, ini kesalahan nih.

What to do instead:
Cobalah untuk menulis caption atau pengantar share yang berbeda satu sama lain. Sesuaikan dengan sasaran pembaca.

Jangan malas nulis caption.
Blogger kok malas muluk.

3. Konten nggak original

Sebagian dari kita masih mengambil gambar, misalnya, dari Google search. Meski sudah menyantumkan sumber, tapi kadang ini masih berisiko dianggap spam oleh Facebook.

Karena jika gambar–terutama yang kita pergunakan sebagai featured image yang kemudian jika dishare nongol menyertai link blog kita itu–sudah pernah dilaporkan sebagai spam ke Facebook, maka gambar tersebut akan masuk ke dalam database spammer Facebook.

Sehingga kalau kita share gambar yang sama, maka otomatis akan eksklusif dianggap spam juga oleh Facebook.

Nah, ini nih. Makanya penting ya, untuk tahu license sebuah gambar yang kita pakai di artikel blog. Kalau nggak sanggup pakai gambar sendiri, pastikan gambar tersebut berlisensi CC0.

Berlisensi CC0 saja masih belum jaminan yakin kondusif kok.
Paling kondusif itu ya pakai gambar sendiri.

What to do instead:
Selalu gunakan gambar yang berlisensi bebas digunakan tanpa copyright. Kalau mau ambil di Google, pastikan kau ambil yang Usage Rights-nya labelled for noncommercial use.

Atau ambil gambar-gambar yang ada di website penyedia image CC0. Saya punya banyak daftar website-nya. Silakan dilihat. Lalu usahakan untuk dimodifikasi. Misal, diedit lagi warnanya, ditambahin goresan pena dan sebagainya. Pokoknya jangan polosan apa adanya.

Ini jika kau ambil dari sumber lain.

Atau, paling kondusif ya pakai gambar sendiri. Wislah, niscaya aman.

Nah, ini juga catatan.

Bahwa konten di sini nggak cuma gambar ya. Tapi juga tulisan. So, jika semisal kau share link dari sumber lain, dan link tersebut sudah pernah dilaporkan sebagai spam, maka kau pun akan dianggap spammer.

Jadi, be careful dikala kau share link dari mana pun.

4. Over tagging

Ini dulu sempat booming, terutama buat para pemilik online shop di Facebook.
Upload foto produk terbaru, kemudian tag banyak orang di friendlist.

Sekarang, sudah nggak ada sih. Ya, setidaknya di saya. Nggak tahu yang lain. Masih adakah yang suka ngetag banyak orang begini?

Meski nggak dianggap spam oleh Facebook pun, saya bahwasanya merasa gengges jika ditag di foto yang nggak ada hubungannya sama diri saya sendiri.

Behavior kayak gini terperinci spamming.

What to do instead:
Pastikan jika ngetag ya alasannya yaitu orang tersebut ada di dalam foto. Atau fotonya memang bekerjasama eksklusif dengannya.

Misalnya, ada yang ngetag saya di buku Blogging: Have Fun and Get the Money. Nah, itu saya seneng banget. Hahaha.

5. Melanggar aturan-aturan lainnya

Ada beberapa behavior atau kelakuan pengguna Facebook yang melanggar aturan (kalau saya jabarkan jadi poin satu per satu, bakalan terlalu panjang sih. Makara saya jadikan satu di poin terakhir ini aja.)

Maka, tolong pahami, bahwa beberapa kelakuan di bawah ini dihentikan oleh Facebook.

  • Ikut berbagi artikel-artikel hoaks dan clickbaity.
    Facebook sudah punya database website mana saja yang punya konten tak berkualitas, yaitu website yang penuh isu hoaks, clickbaity, ujaran kebencian, dan aneka macam macam jenis thin content lainnya.
    Dari mana mereka mendapatkan database ini?
    Ya, alasannya yaitu behavior kita juga. Kalau kita terlalu cepat mengunjungi satu website yang linknya disebar di Facebook, maka itu juga akan “direkam” bahwa kita nggak puas dengan isi konten website tersebut. Atau jika kita pernah melaporkan satu link/akun sebagai spam, ya itu ikut menjadi materi pertimbangan Facebook.
  • Memasukkan orang ke dalam suatu grup Facebook tanpa izin.
    Yes, ini juga akan menjadi pertimbangan Facebook untuk menganggapmu sebagai spammer. Indikasinya mudah, jika orang yang kau masukkan ke dalam grup tersebut eksklusif leave group, maka satu poin untukmu sebagai spammer.
    Jadi, sebelum memasukkan orang ke dalam suatu grup komunitas, pastikan jika orang tersebut mau dan suka dicemplungkan ke dalam grup kau ya.
  • Add friend banyak akun sekaligus.
    Yang kayak gini juga menjadi standar media umum mana pun. Di Twitter dan Instagram pun juga sama. Kalau kau follow akun lain dengan membabi buta, maka kau sanggup dianggap spammer.
    Karena ya masuk akal saja sih. Ini bukan sikap normal. Facebook itu untuk menjalin silaturahmi antar teman. Kalau ujug-ujug add friend banyak, maka kemungkinan yang belum kenal pun di-add friend. Nah, ini mencurigakan intensinya.
  • Mempergunakan nama bisnis sebagai nama akun Facebook personal.
    Kalau bisnis, ya buatlah Facebook Page, bukan akun Facebook personal. Jadi, pastikan nama akun Facebook kau yaitu nama orang. Nggak boleh pakai nama bisnis ya.
    Misal, nama “Mary Bakery” gitu, nggak mungkin akan diperbolehkan oleh Facebook untuk menjadi nama akun personal.
  • Mempromosikan sesuatu di status orang.
    Nah, ini masih sering saya jumpai sekarang. Ya, jika merekomendasikan sih beda ya, biasanya akan ada perjuangan untuk engaging dulu.
    In the other hand, spamming itu asal naruh statement bernada promosi di status orang (biasanya di komennya).
    Kadang di grup Rocking Mama Community juga suka nih ada yang gini. Nggak mau baca aturan grup, kemudian nyepam. Nyepamnya di komen lagi. Sori ya, kelakuan kek gini tuh enggak banget.
What to do instead:
Ya udahlah. Nggak usah dilakuin :)))
So, yang mana saja nih yang masih kau lakukan hingga sekarang?
Kalau masih ada, ya, barangkali kini kau mesti mempertimbangkan untuk behaving a little. Bagaimanapun, kita numpang di lapak orang. Ya, bagusnya kita harus beretika juga dan mau mematuhi semua peraturan yang ada.
Yakin deh, bakalan lebih nyaman juga buat kita.