5 Prinsip Dasar Yang Menciptakan Konten Kita Berkualitas, Irresistible, Dan Kuat

Diposting pada 12 views

Ada yang suka merhatiin lukisan-lukisan gitu enggak? Kalau saya sih–pribadi nih ya–paling suka dan betah melototin lukisan Salvador Dali–ya alasannya beliau alirannya surrealisme ya, jadi bikin mikir aja gitu lukisannya–sama lukisannya Van Gogh.

Para pelukis, menyerupai halnya Salvador Dali, Van Gogh, Picasso, Michaelangelo, bahkan yang ekspresionis semacam Affandi–walaupun tampaknya sekilas hanya ngasal nggambarnya, bahkan jikalau Salvador Dali juga malah absurd–tapi mereka punya teori-teori khusus yang membuat lukisan mereka menjadi sebuah mahakarya.

Maksudnya gimana sih?
Pada dasarnya mereka semua sama; memiliki prinsip-prinsip tertentu yang mereka temukan dari pengalaman dan pengamatan yang kemudian membentuk lukisan mereka sedemikian rupa sehingga yummy banget dinikmati dan alhasil berharga mahal. Mulai dari pemilihan dan perpaduan warna yang nggak bisa sembarangan, perspektif yang mesti bener, komposisi, dan sebagainya, ini menjadi faktor penentu hasil lukisan mereka akan cetar atau enggak.

Nah, bergotong-royong hal ini sama juga dengan perkontenan.
(((perkontenan)))

Dalam membuat konten–terutama konten untuk blog–sebenarnya ada beberapa prinsip yang bisa kita pegang sehingga kita tuh akan selalu bisa membuat konten yang irresistible dan berpengaruh setiap kali kita menulis.

Iya, setiap kali. Kaprikornus bisa disimpulkan, jikalau prinsip-prinsip ini selalu dipatuhi, konten kita tuh bakalan berpengaruh dan berkualitas semua.

Jadi, prinsip apa sajakah itu? *zoom in zoom out*

5 Prinsip dasar untuk membuat konten yang berkualitas, irresistible, dan kuat

1. Ditulis dalam personality kamu

Maksudnya gimana?
Ya, layaknya bunyi sebenarnya. Suara kita kan masing-masing punya tone sendiri-sendiri kan? Nggak ada tuh, bunyi dua insan yang bisa sama persis plek tiplek. Mungkin bisa saja terdengar mirip, tapi tetap berbedalah.

Begitu juga soal tulisan.
Kita kan menulis di blog? Pastinya lantas blog kita juga mencerminkan personality kita kan ya?
Iya dong.

Kalau nggak kerasa personality-nya gimana?
Ya, jadi media online.

Media online, atau E-Zine deh, itu juga ada personality sih jikalau berdasarkan saya. Coba lihat Mojok. Khas banget kan? Lalu Tirto, Kumparan, Hipwee, … semua punya gaya bahasa sendiri-sendiri.

Setiap konten yang ditulis dengan personality yang berpengaruh akan menjadi konten yang berpengaruh juga.

Kaprikornus gimana?
Temukan ciri khasmu, find your writing voice.
Caranya gimana menemukan ciri khas? Ada pernah saya tulis juga di blog ini. Silakan ya dibaca. Hehe.

2. Mengedepankan benefit

Tentunya benefit untuk pembaca.

Karena jikalau enggak, ya ngapain orang harus tiba sih? Siapa kita hingga blog kita tuh didatangi orang? Kita kan bukan Raditya Dika. Kita bukan Amrazing. Kita bukan Alodita.
Kalau mereka-mereka ini mah, cuma nulis curhatan aja ya tetap banyak yang baca. Nggak usah mikirin SEO ya traffic blog tetap tinggi. Meski update-nya setahun sekali juga nggak masalah, ratecard tetap ‘bunyi’.

Lha, kita?

Kita bukan siapa-siapa.
Orang yang tiba ke blog palingan ya alasannya mereka mencari informasi tertentu atau diminta sedekah view dan tinggal sejenak beberapa menit di blog, menemukan artikel kita yang terselip di antara rimba raya artikel online. Dan alasannya mereka mengharapkan bisa menemukan informasi yang mereka cari, maka mereka pun datang.

Kalau nggak ada benefit buat mereka, ya ngapain coba mereka baca? Apa pentingnya?

Maka benefit untuk pembaca ini harus ada di setiap konten. Meskipun ini blog yaitu jurnal eksklusif kita. Kan bisa juga itu benefit diberikan dalam bentuk curhatan.

3. Konten yang bercerita

Saya mengamati juga, konten dengan kisah yang runtut dan rapi selalu punya kesempatan lebih besar untuk viral. Apalagi jikalau ditambah dengan emosi, tapi bukan yang meledak-ledak.

Ya, semua orang suka baca cerita. Jadi, selalulah sematkan kisah dalam setiap artikel di blog. Kalaupun bikin tip, niscaya akan manis juga sembari kita kisah pengalaman eksklusif kita di sana-sini ketika menuliskan tipnya. Cerita yang menyerupai ini tuh malah justru membuat konten tip kau lebih berpengaruh lagi lo, alasannya berarti tipnya nggak omdo alias omong doang. Terbukti, gitu deh.

Saya sendiri juga selalu tertarik membaca tip yang terlihat sudah dilakukan oleh si pemberi tip kok. Kaprikornus kelihatan aja gitu ada jaminannya. Iya nggak sih?
Atau jangan-jangan cuma saya aja yang gitu ya? Hahaha.

4. Talk to your reader

… instead of talking at them.

Beda ya. Iya.
Yang satunya dua arah, yang satunya satu arah.

Ini juga hasil pengamatan. Tulisan yang seakan mengajak ngobrol pembacanya biasanya lebih laku dan lebih gampang melejitnya.

Tapi, “tulisan yang ngajak ngobrol” ini juga berarti ambigu juga sih.
Kadang, alasannya kita maunya begitu santai, begitu kasual tulisannya, begitu “gue banget” maunya, alhasil malah blunder juga. Misalnya, goresan pena jadi pakai abjad 4l4y, karena biasanya juga ngalay. Atau pakai singkatan-singkatan absurd-yang-cuma-kita-sendiri-yang-tahu-artinya.

Jadi, mestinya yang kek gimana sik?
Saya juga nggak bisa ngasih dalilnya sih, alasannya preferensi mungkin berbeda. Tapi–lagi-lagi hasil dari pengamatan–tulisan yang seakan ngajak ngobrol pembaca tapi juga memperhatikan kaidah-kaidah penulisan yang benar biasanya akan disuka.

So, mesti gimana tuh supaya bisa “ngajak ngobrol tapi juga memperhatikan kaidah penulisan yang benar”?
Ya, pelajari tata tulis yang baku, dan kemudian dipadukan dengan gaya menulis kita sendiri. Makanya, berguru tata bahasa Indonesia itu penting dan nggak bisa disepelekan ya.

Jangan merasa terintimidasi dengan tata bahasa Indonesia yang baku ini. Bahasa Indonesia nggak sekaku itu kok, tapi kita memang mesti tahu dulu hukum benarnya. Baru kemudian diubahsuaikan dengan gaya kita.

Sama kayak para pelukis yang nama-namanya saya sebutkan di atas. Mungkin mereka kini banyak yang “breaking the rules” dan membuat gaya sendiri-sendiri. Tapi, mereka tuh sebelumnya juga berguru aturan-aturan yang benernya dulu, gres kemudian mereka kan tahu, sebelah mananya nih yang bisa “dilanggar” hingga membuat gaya gres mereka yang khas.

Bahasa Indonesia juga gitu.
Lhah, elu nulis “di-” sebagai kata depan aja masih disambung, nulis “dirubah” alih-alih “diubah”, udah sok-sokan aja.
#ehgimana

*ngumpet*

5. Persuasive enough

Tulisan yang bisa “memengaruhi” pembaca–in a good way ya–biasanya juga akan laku keras. Dengan kata lain, goresan pena yang manis itu biasanya punya call to action yang powerful.

Misalnya nih, kita ngeblog soal handlettering ya.
Kita bisa nih menuliskan mengenai handlettering hingga sebegitu rupa, hingga orang tuh alhasil pengin nyobain handlettering juga.

Nah, jenis konten menyerupai ini bakalan irresistible banget deh. Kuat sepanjang masa, alasannya bisa hingga memengaruhi orang lain.

Kemampuan untuk “membujuk” melalui goresan pena ini, berdasarkan saya, mutlak dipunyai oleh seorang bloger profesional. Apalagi buat mereka yang memonetasi blognya dengan job review dan sponsored post.

Tapi memang, keterampilan menyerupai ini tak bisa dipunyai oleh semua orang. Saya mengamati, tak banyak bloger Indonesia bisa melaksanakan hal ini dengan baik dan smooth.

Tapi juga jangan salah. Meski keterampilan ini yaitu level advanced, tapi bukan berarti nggak bisa dipelajari lo. Keterampilan ini bisa banget kita pelajari. Dengan cara apa? Dengan banyak membaca, terutama membaca konten dari bloger lain yang lebih tinggi jam terbangnya dan biasa profesional mendapatkan sponsored post. Coba perhatikan, bagaimana mereka mengolah kontennya untuk menghasilkan artikel yang irresistible ini.


Nah, penuhilah 5 prinsip dasar konten irresistible dan berpengaruh di atas setiap kali kau membuat konten. Dijamin deh, laku manis!

Susah?
Ya udah nggak apa-apa.

Mungkin kau memang belum siap melejitkan blogmu sendiri.